Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Hiburan, Budaya dan Seni

Menengok Museum Mpu Purwa, Nasibnya Kini setelah Dua Bulan Diresmikan

Penulis : Imarotul Izzah - Editor : Heryanto

26 - Sep - 2018, 03:03

Placeholder
Arca-arca yang diletakkan dalam kotak kaca di lantai 1 (Foto : Imarotul Izza/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Sejak dua bulan lalu Kota Malang memiliki museum baru. Museum itu terletak di belakang Rumah Sakit Universitas Brawijaya (UB), tepatnya di jalan Soekarno Hatta 210 bernama Museum Mpu Purwa. 

Baca Juga : Didi Kempot Gelar Konser Amal dari Rumah, Hanya 3 Jam Donasi Capai Rp 5,3 Milliar

Museum tersebut baru diresmikan Juli 2018 lalu. Penataannya begitu cantik dan terlihat modern. Sayang sekali, masyarakat kurang begitu antusias mengunjungi.

Siang tadi (25/9/2018), tidak terlihat ada satu pengunjung yang datang. Padahal, untuk masuk biayanya gratis.

Arca Dewi Kesuburan di lantai 2

Museum Mpu Purwa memiliki 136 arca, 67 arca dipajang, yang lain masih di gudang. Memang, museum ini digunakan untuk menyelamatkan asset-aset sejarah yang kebanyakan adalah arca. Bangunannya sendiri dulunya adalah bekas Gedung SDN Mojolangu 2.

Beberapa koleksi langka ada di museum ini. Seperti arca Brahma Catur Muka yang terletak di pintu masuk. Arca Brahma memiliki 4 wajah yang menghadap ke 4 penjuru mata angin.

Diorama Kerajaan Kanjuruhan di lantai 2

Wajah yang masih jelas hanyalah wajah yang menghadap belakang. Uniknya, Brahma ini lengkap dengan hiasan pinggir awan dan lidah api.

Menurut Novi Dwi Jayanti, Juru Pelihara Museum, Arca Brahma ini merupakan koleksi yang paling besar di museum tersebut.

Arca Brahma Catur Muka, arca terbesar di Museum Mpu Purwa

“Ini perwujudan Dewa Brahma. Orang Hindu menganggap ini Tuhannya. Ini satu-satunya koleksi di yang utuh ornamennya. Di tempat lain tidak ada yang seunik ini,” ujar Novi.

Masuk ke dalam, arca-arca diletakkan dalam frame-frame berwarna kuning, kontras dengan warna arca yang gelap.

Pengunjung melihat Prasasti Muncang yang didisplay dalam kaca besar bersama dengan  Arca Ganesya dan Batu Gores

Terdapat juga arca-arca yang diletakkan dalam kotak kaca. Menurut Novi, arca-arca yang ada di sana berasal dari lima kerajaan yakni Kanjuruhan, Mataram Kuno, Kediri, Singosari, dan Majapahit.

Ciri dari arca yang berasal dari Singosari adalah memiliki lapik berukir bunga teratai. Selain itu, di atasnya terdapat mahkota tengkoraknya.

Sebagian arca yang terdapat di lantai 1

Contohnya Arca Ganesya yang terdapat dalam kotak kaca besar. Arca Ganesya ini memiliki lapik segi empat berhias bunga teratai dengan kelopak mengarah ke atas. Sikap duduknya seperti bayi. Belalainya tidak ada, mulutnya lebar, hidung berlobang besar.

Baca Juga : SBY Persembahkan 'Cahaya Dalam Kegelapan', Lagu Bagi Para Pejuang Covid-19

Melihat figur arca yang besar, diduga arca ini tidak ditempatkan di bangunan percandian, melainkan diletakkan di suatu tempat yang berfungsi sebagai kekuatan magis.

Memasuki lantai dua, selain arca-arca, pengunjung disajikan dengan diorama Kerajaan Kanjuruhan dan Singosari.

Arca Yoni yang ditemukan di Tlogomas tahun 1988

Dalam diorama kerajaan Kanjuruhan, diceritakan Putri Uttejana yang meminta restu kepada ayahnya, Raja Kanjuruhan. Diorama tersebut disajikan sebesar ukuran manusia dewasa.

“Putri Uttejana selalu meminta restu ayahnya kalua mau melakukan apa-apa,” terang Novi.

Selanjutnya, terdapat diorama mini mengenai persebaran kekuasaan Singosari. Diorama mini ini terdapat dalam kotak-kotak kaca yang bisa kita ikuti urutan ceritanya.

Nah, di lantai 2 tersebut juga terdapat arca-arca kecil. Salah satunya Ganesya Tikus. Arca ini digambarkan duduk seperti bayi dengan badan yang tambun sehingga kelihatan lucu.

Meski begitu, raut mukanya tampak garang. Kepalanya memakai mahkota dari rambut yang disanggul. Tangannya terdapat empat buah. Tangan kanan belakang membawa kapak.

Diorama mini terdapat dalam kotak-kotak kaca yang menceritakan persebaran kekuasaan Kerajaan Singosari

Tangan kiri belakang membawa tasbih. Tangan kanan depan aus. Sedangkan kanan kiri depan membawa mangkuk dengan telapak tangan yang aus. Arca ini hanya ada satu-satunya di museum ini. Di seluruh Indonesia tidak ada.

Selain Ganesya Tikus, beberapa arca yang lain di lantai dua yaitu arca Sangkhara. Ada juga Yoni yang ditemukan tahun 1988 di Tlogomas sewaktu orang menggali tanah untuk pondasi rumah. Terdapat pula bagian-bagian candi, termasuk puncak candi yang dipercaya sebagai penangkal petir.

Ada juga arca Dewi Kesuburan. Digambarkan dalam posisi berdiri tegak lurus. Kedua tangannya memegang buah dada yang merupakan jalan air (pancuran). Arca ini ditemukan di kawasan Muharto.

Tidak hanya dapat menikmati dengan cara melihat arca, pengunjung juga dapat menonton film dokumenter mengenai lini masa sejarah nusantara di ruang movie (film).

Ruang ini biasanya digunakan apabila ada rombongan yang datang karena tempatnya yang luas dan sangat nyaman. Seperti bioskop namun dengan tempat duduk yang berbeda, nyaman dan menyenangkan.


Topik

Hiburan, Budaya dan Seni Museum-Mpu-Purwa museum-kota-malang museum-dimalang



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Imarotul Izzah

Editor

Heryanto