Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Mengapa Pesawat Meninggalkan Jejak di Langit? 

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

11 - Jul - 2024, 17:19

Placeholder
Awan contrail, jejak yang dihasilkan pesawat di langit. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Tahukah kamu kalau pesawat bisa menghasilkan jejak awan? Bukan hanya kapal yang dapat meninggalkan jejak buih di lautan, pesawat juga bisa menghasilkan jejak awan yang dikenal dengan awan contrail. 

Menurut keterangan dari Instagram BMKG Juanda, awan contrail terbentuk di bawah kondisi atmosfer tertentu, terutama saat udara dingin dan lembap. 

Baca Juga : 9 Negara ini Masuk Daftar Negara Paling Dibenci di Dunia, Kok Bisa?

"Uap air dalam knalpot pesawat bercampur dengan udara, menyebabkan uap tersebut mengembun menjadi kristal es atau tetesan air, menciptakan jejak yang terlihat di langit. Indah, bukan?," tulis BMKG Juanda, dikutip Kamis (11/7/2024). 

Dilansir dari BBC, contrail adalah singkatan dari "condensation trails," yang berarti jejak kondensasi. Contrails adalah awan partikel es berbentuk garis yang terbentuk akibat hembusan pesawat. Panjangnya bisa mulai dari 100 meter hingga beberapa kilometer.

Tiga hal yang dibutuhkan untuk membentuk contrails, di antaranya uap air, udara dingin, dan partikel tempat uap air dapat mengembun. Uap air dihasilkan oleh pesawat saat hidrogen dalam bahan bakarnya bereaksi dengan oksigen di udara. 

Dalam kondisi dingin, biasanya di bawah sekitar -40°C, uap air dapat mengembun, biasanya pada partikel jelaga yang juga dipancarkan dari mesin pesawat, menjadi kabut tetesan yang kemudian membeku membentuk partikel es. Menurut Ulrich Schumann, profesor fisika atmosfer di Pusat Dirgantara Jerman (DLR), proses ini secara umum menyerupai napas beku pada hari musim dingin.

Meski demikian, tidak semua pesawat menghasilkan jejak kondensasi. Diperkirakan jejak kondensasi terjadi pada sekitar 18% penerbangan. Udara harus cukup dingin agar air membeku, itulah sebabnya jejak kondensasi biasanya hanya muncul di atas ketinggian tertentu – biasanya 20.000 kaki (6 km).

Bahkan, lebih sedikit penerbangan yang menghasilkan jejak kondensasi yang paling persisten. Di udara yang jernih dan tak berawan, jejak kondensasi menghilang dengan cepat karena udara sekitar yang kering membuat partikel es menyublim (berubah dari padat menjadi gas). Namun, jika atmosfer lembap, partikel es tidak dapat menyublim dan jejak kondensasi dapat bertahan lebih lama.

Baca Juga : DLH Kota Blitar Siapkan Strategi Kebersihan untuk Mendukung BEN Carnival 2024

"Jejak kondensasi mungkin hanya berlangsung beberapa menit jika udara di sekitarnya kering, tetapi ketika lembap, jejak kondensasi dapat bertahan dan menyebar hingga meningkatkan kekeruhan cirrus," kata Tim Johnson, direktur Aviation Environment Federation (AEF), lembaga nirlaba yang berbasis di Inggris.

Hal ini penting karena jejak kondensasi dan meningkatnya awan memerangkap panas yang diradiasikan oleh Bumi, yang menyebabkan efek pemanasan bersih pada planet bumi. Pemanasan ini merupakan tambahan dari dampak iklim utama penerbangan lainnya, yaitu CO2 yang dikeluarkan dalam jumlah besar dari knalpotnya, menyumbang sekitar 2,5% dari emisi CO2 global. Tetapi, dampak iklim dari jejak kondensasi jauh lebih rumit daripada emisi CO2 ini.

Jadi, meski awan contrail terlihat indah dan menambah pesona langit, namun perlu menyadari dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh jejak pesawat ini.


Topik

Serba Serbi Awan Contrail jejak pesawat pesawat terbang



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Sri Kurnia Mahiruni