JATIMTIMES - Rumah lawas di Jalan Besar Ijen nomor 24, Kota Malang, nampak dipagar seng atau spandek mengelilingi halaman rumah tersebut. Untuk diketahui, rumah lawas dengan lahan yang cukup luas itu merupakan rumah pendiri Bentoel, Ong Hok Liong.
Hal ini banyak memunculkan pertanyaan dan dugaan dari publik, bahwa rumah bersejarah dikawasan Heritage tersebut akan dibongkar.
Baca Juga : Viral, Perempuan Diduga Guru Sindir Larangan Study Tour dengan Kata-Kata KasarĀ
Pantauan di lapangan, Kamis, (24/5/2024), terlihat beberapa pekerja masih terus melakukan pemasangan pagar spandek. Nampak pemagaran masih menyisakan pintu gerbang masuk yang belum terpasang pagar. Sementara, nampak di dalam halaman tidak terdapat aktivitas atau pekerjaan yang mencolok berupa pembongkaran.
Dari dalam rumah, juga terlihat beberapa orang mondar-mandir seperti halnya tengah melakukan pemantauan terhadap kondisi rumah. Terlihat beberapa sepeda motor yang diduga milik pekerja, terparkir dihalaman rumah. Selain itu, juga terdapat beberapa mobil yang juga terparkir dalam dihalaman rumah.

Di depan rumah pun juga terdapat beberapa mobil yang terparkir. Belum diketahui juga pemilik mobil-mobil tersebut apakah dari pihak-pihak terkait dari rumah tersebut.
Salah seorang lelaki yang ditemui di halaman rumah dan enggan menyebutkan namanya, mengaku tidak mengetahui pasti, mengapa halaman dipagar. "Saya kurang tahu mas," katanya.
Ditanya perihal dapat penanggungjawab kerja ataupun pihak yang dapat dimintai keterangan akan kegiatan tersebut, pihaknya juga mengaku tak tahu. "Saya juga nggak tahu mas," kata pria berbaju hitam yang diduga penjaga rumah.
Namun pihaknya membenarkan, bahwa rumah lawas dengan dua lantai itu merupakan rumah dari Bentoel. "Sepengetahuan saya ia (rumah pendiri Bentoel)," katanya.

Sementara itu, Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang, Erlina Laksmiani Wahjutami, ketika dihubungi melalui pesan WhatsApp terkait dugaan akan adanya pembongkaran rumah pendiri Bentoel, masih belum merespon. Begitupun ketika dihubungi melalui sambungan telfon, pihaknya juga belum memberikan respons.
Disisi lain, Restu Respati, Presidium Sejarah Jatim dalam rilis yang diterima JatimTIMES, menyampaikan bahwa warga Kota Malang sudah hafal apabila terdapat rumah dipasang pagar seng di kawasan Idjen Boulevard, maka keaslian rumah bersejarah akan pudar. Tak lama kemudian rumah itu akan dibongkar total dan berganti dengan bangunan baru.
Menurutnya, upaya ini sebenarnya sudah terlihat beberapa bulan lalu dengan ditambahnya beberapa bagian bangunan baru di sisi sebelah timur dan selatan dari bagian induk rumah. Sehingga, mustahil menurutnya jika dinas terkait yang membidangi tentang kebudayaan tidak mengetahui kegiatan tersebut.

"Bila dinas terkait yang mengampu bidang kebudayaan tidak mengetahui hal ini, sepertinya tidak mungkin, karena rumah ini begitu mencolok, berada di sudut pertigaan jalan Besar Ijen dan jalan Semeru, di samping gedung Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang, dan di depan Museum Brawijaya Kota Malang," jelasnya.
Kegiatan renovasi di kawasan Heritage, menurutnya harus mengantongi rekomendasi dari TACB Kota Malang. Hal ini bagian menjadi penting untuk persyaratan ijin membangun atau merevonasi. Terlepas dari itu, rekomendasi ini tentunya diperlukan agar keberadaan rumah-rumah bersejarah di kawasan Heritage tetap terjaga keasliannya.
Jika benar adanya pembongkaran ini, maka menurutnya akan hilang sebagian dari cerita perjalanan kesejarahan kretek yang cukup mewarnai Kota Malang. Tentu hal ini akam sangat disayangkan, terlebih, kesejarahan rumah di Idjen Boulevard yang merupakan salah satu ikon bagi Kota Malang.
Baca Juga : Prakiraan Cuaca 24 Mei: Hujan Diprediksi Merata di Seluruh Wilayah Jatim Sore hingga Malam
Untuk diketahui, rumah ini dahulu merupakan rumah yang dibeli Ong Hok Liong dalam kondisi rusak usai terbakar setelah peristiwa Bumi Hangus Kota Malang. Pimpinan Kota Malang saat itu, memang meminta Ong Hok Liong membeli rumah tersebut dan segera memperbaikinya.
Pemerintah saat itu memang mempunyai program untuk segera memperbaiki rumah-rumah dan gedung perkantoran yang rusak akibat peristiwa Malang Bumi Hangus.
Setelah itu, rumah tersebut ditempati Ong Hok Liong sampai akhir hayatnya pada tahun 1967. Kemudian, oleh Putri sulungnya yang bernama Mariani dan menantunya yang bernama Sie Twan Tjing (Samsi) yang saat itu menjabat sebagai Wakil Direktur Utama di perusahaan Bentoel, rumah tersebut sempat dijadikan Wisma Bentoel.
Pada tahun 1990, Samsi meninggal dunia. Fungsionalitas Wisma Bentoel kemudian berganti menjadi Galeri Batik Semar sampai pada tahun 2010. Pergantian fungsionalitas ini karena sang istri, memang menggeluti bisnis batik.
Karena Mariani pada 2010 kerap sakit-sakitan, Galeri Batik Semar terpaksa ditutup. Sampai pada 2011, Mariani kemudian tutup usia. Sepeninggal Mariani, rumah tersebut kemudian kosong.
Putri dari Mariani dan Samsi juga tidak menetap di tempat tersebut. Hal ini lantaran putri dari Samsi dan Mariani menikah dengan warga Jepang dan menetap di Jepang. Hanya sesekali sang putri menengok rumah tersebut ketika berkunjung ke Malang.
Sementara itu, Rudy Ong Putra, putra bungsu dari Ong Hok Liong juga tak meninggali rumah tersebut. Ia memilih menetap di Amerika Serikat hingga akhir hayatnya. Meski jarang dikunjungi, rumah tersebut masih nampak terawat.
