MALANGTIMES - Sebelum merdeka, Malang menjadi salah satu kota yang dihuni oleh pemerintahan kolonial Belanda. Sampai hari ini, ada begitu banyak peninggalan Belanda yang masih berdiri kukuh. Baik yang berupa fisik seperti rumah, jalan, hingga jembatan ataupun yang berupa budaya.
Bangunan fisik dari waktu ke waktu memang dapat dikatakan berkurang. Tapi tak sedikit pula bangunan yang sampai sekarang tetap dirawat dengan baik karena masih dimanfaatkan oleh masyarakat. Salah satu yang paling terkenal adalah Jembatan Peler atau orang-orang biasa menyebutnya sebagai Jembatan Pelor.
Baca Juga : Viral Surat Stafsus Jokowi untuk Camat, Dicoreti Bak Skripsi hingga Berujung Minta Maaf
Jembatan ini menghubungkan antar-wilayah di Oro-Oro Dowo dan terletak di perbatasan wilayah RW 004 dan RW 005 Kelurahan Samaan serta membujur lurus melewati Sungai Brantas. Panjangnya sekitar 100 meter dengan lebar kurang lebih satu meter dan dapat digunakan pengemudi sepeda motor dari arah berlawanan.
Setiap hari, jembatan di Kelurahan Samaan itu tak pernah sepi dijadikan lintasan. Karena pada hari-hari sibuk, kawasan Oro-Oro Dowo selalu padat kendaraan. Sehingga para oengendara motor lebih sering memotong jalur dengan melintas di jembatan yang bisa dikatakan cukup memacu adrenalin itu.
Pengamat sejarah Devan Firmansyah menyampaikan, mulanya jembatan tersebut tidak digunakan sebagai jalur pengendara motor. Karena ketinggian serta lebar jembatan yang tak begitu luas, jalur itu dulu digunakan oleh para pejalan kaki.
"Dan jauh sebelum itu, jembatan ini sebenarnya dulu adalah jalur kereta lori pengangkut tebu menuju arah Pabrik Gula Kebon Agung dan Pabrik Gula Krebet," katanya.
Dulu, lantai jembatan tersebut terbuat dari kayu yang pada perkembangannya diaspal lantaran banyaknya pengendara motor yang memanfaatkan jalur tersebut. Jadi, lantai jembatan sering mengalami kerusakan karena hanya terbuat dari kayu akibat sering digunakan sebagai perlintasan.
Baca Juga : Viral Video Warga Beri Semangat kepada Pasien Positif Covid-19
Lebih jauh pria berkacamata itu menyampaikan jika jembatan peninggalan Kolonial Belanda tersebut mulanya digunakan untuk mengangkut tebu dari arah Blimbing-Tulusrejo-Lowokwaru-Samaan dan seterusnya. Sisa-sisa fondasi jembatan ini pun bisa dilihat di depan masjid di Jalan. B.S. Riadi dekat Jembatan Peler.
"Penggunaan kendaraan lori sudah tidak digunakan lagi sekitar tahun 1973, sehingga jembatan ini menjadi jalur cepat untuk menuju Oro-Oro Dowo ke Samaan dan sebaliknya," jelas anggota Komunitas Jelajah Jejak Malang itu.
Berdasarkan keterangan pendudukan setempat, jembatan tersebut dulu digunakan sebagai tempat bermain oleh anak-anak yang berada di sekitar lokasi jembatan. Hal itu juga terjadi si beberapa jalur bekas lori yang kini sudah tidak lagi digunakan. (*)
