Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Ratu Mas Blitar: Ibu Raja-Raja Mataram dan Karya-Karya Mistisnya dalam Tiga Buku Magis

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Dede Nana

30 - Mar - 2024, 18:32

Placeholder
Ilustrasi perempuan keraton Jawa.(Foto: Istimewa)

JATIMTIMES - Dalam kerlap-kerlip kehidupan istana Keraton Mataram di Kartasura, terdapat satu figur yang menonjol. Tak hanya karena keelokan parasnya, tetapi juga karena kearifan dan kebijaksanaan yang melekat pada dirinya. 

Di antara gemerlap kemegahan istana dan pesona keanggunan putri-putri keraton, sosok ini memancarkan kehadiran yang memikat, menarik perhatian semua yang bersinggungan dengannya. Namun, jauh di dalam relung hatinya yang paling tersembunyi, terdapat sebuah dunia yang jarang terlihat oleh banyak orang - dunia ilmu gaib dan spiritualitas yang dalam dan memikat.

Baca Juga : Update Gate 13 Stadion Kanjuruhan: Tak Jadi Dibongkar

Dialah Ratu Mas Blitar, putri yang dilahirkan dari kerajaan yang dihormati, tetapi memiliki daya tarik yang jauh melampaui sekadar keturunan bangsawan. Meskipun ia memancarkan kecantikan luar biasa yang mempesona siapapun yang melihatnya, ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata yang sederhana. Kedalaman spiritualnya dan pengetahuan mistisnya membuatnya menjadi pusat perhatian di antara anggota keraton dan masyarakat sekitarnya.

Dalam suasana yang sarat dengan kisah-kisah dan legenda tentang keindahan alam bawah sadar, Ratu Mas Blitar menjadi fokus minat dan kagum. Dia tidak hanya dikenal sebagai sosok yang memikat hati dengan pesona fisiknya yang luar biasa, tetapi juga sebagai seorang yang menguasai ilmu-ilmu gaib dan memiliki wawasan spiritual yang dalam. 

Keahliannya dalam memahami dan menguasai aspek-aspek yang tersembunyi dari dunia membuatnya menjadi figur yang dihormati dan diakui dalam lingkaran keraton, bahkan di luar batas istana. Melalui keanggunan dan kedalaman batinnya, Ratu Mas Blitar membawa suatu aura misteri yang melingkupi dirinya, memikat dan menginspirasi siapa pun yang berinteraksi dengannya.

Di balik sorot mata indahnya terdapat dunia yang penuh dengan rahasia, sebuah dunia yang hanya sedikit orang yang berani menjelajahinya. Namun, bagi mereka yang berani mencari pengetahuan dan kebijaksanaan, Ratu Mas Blitar menjadi sumber inspirasi yang tak terhingga, membawa cahaya dalam kegelapan dan membuka jalan menuju pemahaman yang lebih dalam akan hakikat kehidupan dan alam semesta.

Ratu Mas Blitar, yang juga dikenal sebagai Raden Ayu Puger dan kemudian bergelar Ratu Pakubuwono, adalah sosok yang sangat berpengaruh di lingkungan Keraton Kartasura pada periode awal abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-18. 

Sebagai seorang bangsawan Jawa yang terhormat, ia membawa peran yang tidak terlupakan dalam perjalanan sejarah kerajaan. Warisannya tidak hanya memengaruhi Keraton Kartasura, tetapi juga merambah ke berbagai wilayah kerajaan di Jawa penerus Dinasti Mataram, yaitu Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman.

Ratu Mas Blitar bukan hanya seorang permaisuri yang duduk di singgasana, tetapi juga seorang yang aktif dalam urusan pemerintahan. Pengaruhnya terasa dalam berbagai keputusan dan kebijakan yang diambil di istana. 

Bahkan, ia pernah memegang jabatan singkat sebagai Bupati Madiun pada tahun 1703-1704. Namun, jabatan ini tidak bertahan lama karena suaminya, Pangeran Puger, naik takhta sebagai raja di Kartasura dengan gelar Pakubuwono I.

Meskipun jabatannya sebagai Bupati Madiun hanya berlangsung sebentar, peran Ratu Mas Blitar dalam pemerintahan tidak dapat diremehkan. Ia menjadi salah satu sosok yang turut membentuk arah dan kebijakan kerajaan, baik di tingkat lokal maupun di lingkup yang lebih luas. 

Dedikasinya terhadap kepentingan rakyat dan kemakmuran kerajaan membuatnya menjadi tokoh yang dihormati dan dihargai oleh banyak orang, baik di dalam maupun di luar istana.

Dari pernikahannya dengan Pakubuwono I, Ratu Mas Blitar memiliki beberapa putra yang memainkan peran penting dalam sejarah Jawa. Di antara mereka, yang paling mencolok adalah Sunan Amangkurat IV, yang kemudian menjadi penerus tahta Kasultanan Mataram. 

Sunan Amangkurat IV memiliki keturunan yang berpengaruh dalam dinasti Mataram Islam, termasuk Sunan Pakubuwono II dan Pangeran Mangkubumi, yang kemudian dikenal sebagai Sultan Hamengkubuwono I, pendiri Kasultanan Yogyakarta dan salah satu pelaku utama dalam Perjanjian Giyanti.

Dari garis keturunan ini, lahir pula tokoh-tokoh penting lainnya dalam sejarah Jawa. Sunan Pakubuwono III, putra Pakubuwono II, ikut berperan dalam Perjanjian Giyanti dan mendirikan Kasunanan Surakarta. 

Selain itu, ada Raden Mas Said, yang kemudian bergelar Mangkunegara I, pendiri Kadipaten Mangkunegaran, serta Pangeran Notokusumo, yang kemudian bergelar Pakualam I, pendiri Kadipaten Pakualaman dan merupakan putra dari Sultan Hamengkubuwono I. 

Para raja-raja ini melahirkan penerus kepemimpinan yang kuat di Jawa, yang warisan budayanya masih terasa hingga saat ini di Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman. 

Tidak hanya melahirkan generasi emas Dinasti Mataram, tetapi pengaruh Ratu Mas Blitar juga merambah ke berbagai bidang, termasuk spiritualitas dan sastra. Sebagai seorang yang dihormati dalam ilmu ghaib, ia mungkin menjadi satu-satunya sufi perempuan Indonesia yang tercatat menulis dan menyalin karya-karya sufistik Jawa. 

Tiga karya yang dijuluki "Buku Magis" - Carita Iskandar, Carita Nabi Yusuf, dan Kitab Usulbiyah - adalah hasil dari pemahaman yang luas tentang sufisme Jawa yang dimiliki oleh Ratu Pakubuwono. Dedikasinya terhadap spiritualitas dan warisannya dalam literatur Jawa menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan budaya yang kaya di Jawa.

Baca Juga : 8 Adab Bertamu di Hari Lebaran Sesuai Anjuran Rasulullah

Ratu Mas Blitar, figur yang teguh dalam keahlian gaib dan spiritualitas Islam, memegang posisi yang kuat dalam lingkaran istana. Sebagai janda dari Pakubuwono I, ibu dari Amangkurat IV yang kontroversial, dan nenek dari penerus tahta yang masih remaja, dia adalah sosok yang merajut jaringan kekuasaan di dalam kerajaan. 

Di tengah kompleksitas politik istana, dia menjadi pusat pengaruh bagi banyak orang, termasuk istri raja, serta anggota keluarga kerajaan lainnya. Pada tahun 1729-1730, Ratu Mas Blitar mengambil langkah yang berani dengan menginisiasi penulisan tiga buku yang diyakini memiliki kekuatan magis. Buku-buku ini, berakar dalam tradisi Islam, bertujuan untuk menciptakan dunia yang lebih baik dengan cara adikodrati. 

Buku magis pertama yang dihasilkan  Ratu Mas Blitar adalah "Carita Sultan Iskandar" (Kisah Iskandar), sebuah roman yang kompleks berdasarkan legenda tentang Alexander Agung. Karya ini ditulis oleh juru tulis istana pada bulan September 1729, dengan pujian yang luar biasa pada Ratu Mas Blitar sebagai pembuka. 

Dia digambarkan sebagai sosok yang lembut, adil, dan sangat ahli dalam urusan keagamaan, yang disayangi oleh Allah dan Nabi Muhammad, serta dihormati oleh semua orang.
Buku ini disusun dan dipersembahkan kepada cucunya Sunan Pakubuwono II, dengan tujuan agar bisa menjadi pusaka bagi kerajaan, memperkuat teladan bagi generasi penerus. 

Ratu Mas Blitar memohon berkah Allah dan Nabi Muhammad untuk kesuksesan sang raja muda dalam memimpin. Dalam teksnya, Iskandar digambarkan sebagai model seorang raja yang bijaksana, yang mencerminkan cita-cita kepemimpinan yang diharapkan dari sang penerus tahta.

Dalam kecerdasan dan kelembutan yang menyertainya, Ratu Mas Blitar mulai menyusun "Carita Nabi Yusuf" segera setelah menyelesaikan "Carita Sultan Iskandar". Di tengah keindahan dan keteguhan iman yang tercermin dalam tradisi Jawa, kisah-kisah utama dari kedua karya tersebut menyajikan contoh yang mempesona tentang kesalehan.

"Carita Nabi Yusuf" memberikan elaborasi yang mendalam dari kisah Yusuf di Mesir, yang juga ditemukan dalam versi Al-Qur'an. Para juru tulis, di bawah bimbingan Ratu Mas Blitar, merasa bahwa pekerjaan mereka akan menjadi perantara dengan Tuhan, melindungi mereka dari segala kutukan dan bahaya lainnya, sambil memperkuat iman mereka.

Buku yang ketiga, "Kitab Usulbiyah", merupakan karya yang luar biasa. Penulisannya dimulai pada Desember 1729, tanpa preseden dalam literatur Melayu atau Arab. Namun, karya ini mencerminkan gema-gema dari kisah-kisah miraj Arab, yang menggambarkan kenaikan Nabi ke surga. Judulnya, yang berarti "tentang asal usul para nabi", menunjukkan niat Ratu Mas Blitar untuk menegaskan statusnya dan tujuannya yang mulia.

Pembukaan teks ini menegaskan klaim Ratu Mas Blitar atas kedudukan khususnya di mata Allah dan Nabi Muhammad. Dia digambarkan sebagai hamba yang lembut dengan "hati yang diberkati", yang telah mendapatkan cinta Allah dan syafaat dari Nabi Muhammad. 

Dengan pengawasan para malaikat, Ratu Mas Blitar menciptakan "Kitab Usulbiyah" dengan tujuan menyempurnakan pemerintahan cucunya, Sunan Pakubuwono II. Doktrin mistis yang terkandung dalam Kitab Usulbiyah memiliki makna yang mendalam. Karya ini dianggap setara nilainya dengan melakukan ibadah besar seperti naik haji ke Mekah seribu kali dalam sehari atau membaca Al-Qur'an seribu kali dalam sehari semalam. 

Dipercayai bahwa setiap orang yang menjaga buku ini akan mendapat pengawasan langsung dari Allah dan 7.700 malaikat, yang akan melindungi mereka dari segala bentuk sihir, mantra jahat, dan kesulitan lainnya.

Kekuatan yang tersimpan dalam buku itu dianggap lebih besar dari hujan yang turun atau dari butiran pasir di pantai. Bahkan, dipercayai bahwa orang yang awalnya kafir namun memiliki buku tersebut akan berpaling menjadi Muslim, orang yang penuh kemarahan akan menemukan kedamaian, dan orang yang sebelumnya dianggap bodoh akan menjadi cerdas.

Klaim tersebut menyatakan bahwa buku ini memuat pengetahuan mistis tentang kesempurnaan, sehingga jika dibawa ke medan perang, akan memberikan perlindungan yang membuat seseorang menjadi kebal terhadap senjata. Keseluruhan doktrin ini mencerminkan keyakinan akan kekuatan gaib yang diberikan oleh buku tersebut, memberikan gambaran tentang pengaruhnya yang luar biasa dalam kehidupan spiritual dan fisik.

Dalam Kitab Usulbiyah, terdapat ajaran yang sangat dalam tentang sifat seorang Raja. Disampaikan bahwa zat seorang Raja bukanlah sembarang zat, melainkan zat yang telah ditentukan oleh Allah sendiri. Sifat-sifat yang dimiliki oleh seorang Raja juga dipandang sebagai cerminan dari sifat-sifat Allah, dan setiap tindakan atau karya yang dilakukan oleh Raja dianggap sebagai bagian dari karya-karya Allah.

Ajaran semacam ini tidak hanya memengaruhi pandangan dalam masyarakat Jawa pada saat itu, tetapi juga memberi inspirasi bagi para raja di Eropa yang pada masanya juga mengklaim hak ketuhanan untuk memerintah. Konsep bahwa seorang Raja memiliki kedudukan yang ditentukan oleh Allah dan tindakannya merupakan bagian dari kehendak-Nya, merupakan doktrin yang sangat kuat dan memberikan legitimasi kepada penguasa untuk melaksanakan tugasnya dengan keyakinan yang mendalam.


Topik

Serba Serbi ratu mas blitar ibu raja mataram buku magis karya mistis sufi jawa



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Malang Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Dede Nana

Serba Serbi

Artikel terkait di Serba Serbi