Plt Wali Kota Malang Sutiaji saat meninjau TPST TPA Supit Urang. (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Plt Wali Kota Malang Sutiaji saat meninjau TPST TPA Supit Urang. (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Pemkot Malang terus berupaya mengurangi volume sampah 500 ton setiap hari yang dibuang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supit Urang. Caranya, pemkot melalui Dinas Lingkungan (DLH) Kota Malang sebagai leading sector berencana menambah rumah pemilahan kompos daur ulang (PKD) di seluruh kelurahan di Kota Malang.

Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Malang Sutiaji mengungkapkan, adanya rumah PKD di seluruh kelurahan tentu akan sangat bagus. Pasalnya, volume sampah yang akan dibuang di TPA akan semakin berkurang. Sedangkan hasil pemilahan dan pengolahan sampah di PKD justru bermanfaat, seperti menjadi kompos.

"TPA kita kan sudah cukup memprihatinkan. Makanya harus ada upaya pengurangan volume buang  ke TPA.  Reuse, reduce, dan recycle (3R) harus kita masyarakatkan," ungkap Sutiaji.

Pembangunan PKD di tiap kelurahan menjadi komitmen serius Pemkot Malang untuk secara total menangani permasalahan sampah. " Untuk saat ini masih terdapat 27 titik rumah PKD. Dan pelan-pelan kami akan lakukan penambahan di tiap kelurahan," ucap Sutiaji usai kunjungan di rumah PKD Gadang.

Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Penampungan dan Pengolahan Sampah (PPS) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang Edy Sugianto mengungkapkan, rumah PKD Gadang dalam satu hari mendapat kiriman sampah delapan sampai 10 gerobak.

Satu gerobak jika ditimbang mempunyai berat sekitar 300 kilogram. Sehingga total keselutuhan sampah per hari yang dikirim ke rumah PKD Gadang mencapai tiga ton. 

"Setelah dipilah di rumah PKD, dari 10 gerobak itu, tersisa dua gerobak. Seberat 600 kilogram sampah yang langsung kami kirim ke TPA. Dan sisanya jadi kompos," ungkap dia.

Peminimalisiran sampah tersebut dari dua gerobak bisa saja ditekan menjadi satu gerobak. Namun untuk hal tersebut, pihaknya masih mengalami kendala.

"Masih bisa ditekan. Tapi ya itu tenaganya kurang. Kalau sekitar 10 sampai 15 orang, bisa lebih banyak lagi. Kalau sekatang kan hanya sekitar 7 orang," ujarnya.

Kompos hasil dari rumah PKD masih belim bisa dipasarkan. Pasalnya, regulasi terkait hal tersebut masih belum ada. Sehingga selama ini, kompos hasil rumah PKD dihibahkan ke RW-RW dan juga digunakan untuk taman-taman kota. (*)