JATIMTIMES - Sejak era pemerintahan Amangkurat I hingga jelang berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Belanda menancapkan hegemoninya di tanah Jawa dengan mencampuri urusan politik di pemerintahan keraton.
Tidak semua bangsawan senang dengan situasi ini dan efeknya adalah muncul perlawanan-perlawanan dari dalam keraton itu sendiri. Perang Jawa 1825-1830 yang dipimpin Pangeran Diponegoro jadi perlawanan terbesar kepada Belanda oleh bangsawan keturunan Mataram.
Baca Juga : Antisipasi Polemik Pendataan Tanah Aset, PU SDA Kabupaten Malang Libatkan Masyarakat
Catatan mengenai kapan Belanda mulai masuk di internal keraton sejatinya sudah ada sejak awal berdirinya negara baru Kesultanan Mataram. Penguasa Mataram yang pertama mþþgĝemulai kontak dengan Belanda adalah Panembahan Hanyakrawati. Hanyakrawati menjalin kontak dengan utusan Belanda dari Amsterdam pada tahun 1613 di masa-masa akhir pemerintahannya sebagai raja Mataram.
Panembahan Hanyakrawati memiliki nama kecil Raden Mas Jolang. Ia merupakan putra Panembahan Senopati dengan permaisuri yang berasal dari Pati. Hanyakrawati diperkirakan bertahta pada tahun 1601 dan meninggal pada 1613 saat berburu di Hutan Krapyak. Setelah wafat, ia lebih sering disebut dengan nama Panembahan Sedo Ing Krapyak.
Di tahun-tahun terakhir ia berkuasa, Hanyakrawati mulai mengembangkan politik luar negeri dengan menjalin hubungan dengan orang Belanda. Yang cukup mengejutkan, ia memiliki seorang utusan bernama Juan Pedro Italiano, yang diduga adalah seorang petualang bangsa Eropa dari Venezia yang telah masuk Islam.
Saat itu, Panembahan Hanyakrawati tertarik menjalin kontak dengan Belanda setelah Belanda mendirikan kantor dagang pertamanya di Gresik. Pada tahun 1613, Hanyakrawati melalui utusannya Juan Pedro Italiano menyampaikan kepada Gubernur Jenderal Pieter Both terkait keinginan raja Mataram untuk mengadakan persekutuan. Saat itu Pieter Both sedang berada di Maluku.
Tawaran Hanyakrawati tak disia-siakan Belanda. Pada 22 September 1613 kapal Both berlabuh di Jepara dengan salah satu penumpangnya adalah Jan Pieterzoon Coen. Setelah mendarat, Coen dan Kapten Appolonius Schotte kemudian memberitahukan kepada pembesar pemerintahan di Jawa tentang kedatangan mereka. Dalam ekspedisi ini, dua utusan Belanda itu bertemu dengan bupati Jepara dan bupati Kudus yang berada dibawah pemerintahan Mataram.
Bupati Jepara dan bupati Kudus memiliki tugas dari raja untuk meyakinkan Belanda agar mau berkunjung ke daerah mereka. Misi ini sukses. Loji sementara Belanda kemudian didirikan di Jepara.
Di Jepara, kepala perdagangan VOC yang bernama Lambert Dirckxz melakukan penyelidikan terkait barang-barang di Jawa yang bisa diperdagangkan. Jepara menjadi kantor dagang kedua Belanda di tanah Jawa setelah yang pertama didirikan di Gresik.
Dalam ekspedisi ini, utusan Belanda mendengar informasi dari penguasa Kendal tentang rencana tertentu Raja Mataram. Informasi ini membuat Belanda gembira karena rencana dari raja itu akan menguntungkan mereka. Coen menilai Belanda sangat tergantung kepada Mataram dan ia melihat beras di daerah Jawa sangat berlimpah-limpah dan potensial untuk diperdagangkan Belanda.
Loji Belanda di Jepara kemudian benar-benar didirikan. Kepala Perdagangan Belanda Lambert Dirckxz kemudian tinggal disana dengan bermodalkan uang 2.500 rial untuk membeli beras. Ia juga menyelidiki barang-barang lain yang bisa diperdagangkan.
Baca Juga : Muslim Pertama di Bali Adalah 60 Prajurit Majapahit Binaan Ayah Sunan Kudus
Keinginan Raja Mataram Panembahan Hanyakrawati bersekutu dengan Belanda pada waktu itu bisa dipahami karena Mataram adalah negara baru. Silsilah Mataram pada waktu itu pun mungkin juga belum dibuat sehingga Mataram dan rajanya merasa seperti penguasa baru. Sedangkan Belanda, mereka pada waktu itu adalah pendatang baru yang baru saja tiba di Nusantara dengan misi mencari kekayaan, monopoli perdagangan dan mencari daerah jajahan.
Hubungan persekutuan dengan Belanda yang didamba-dambakan Hanyakrawati pada akhirnya dirusak oleh Sultan Agung, putera yang jadi penerusnya. Sultan Agung yang naik tahta pada 1613 adalah raja yang punya ambisi besar menyatukan seluruh Jawa.
Sultan Agung melihat kehadiran Belanda dapat membahayakan hegemoni kekuasaan Mataram di Pulau Jawa. Ia kemudian mengerahkan pasukannya untuk dua kali melakukan penyerangan ke markas VOC di Batavia. Perlawanan Sultan Agung terhadap VOC di Batavia dilakukan pada tahun 1628 dan 1629.
Meskipun gagal, dua kali serangan ke Batavia itu menjadi sejarah penting bagi bangsa ini, Sultan Agung adalah orang pertama di Nusantara yang melakukan perlawanan terhadap Belanda. Serangan itu gagal, tapi Jan Pieterzoon Coen yang saat itu menjabat gubernur VOC tewas dalam peristiwa ini.
Sementara, dalam perkembangannya suksesi kekuasaan Mataram dari Hanyakrawati ke Sultan Agung justru pada akhirnya menjadi puncak kejayaan Kerajaan Mataram Islam.Satu per satu daerah di Jawa takluk dan mengakui kedaulatan Mataram. Sultan Agung kemudian membangun istana besar dan megah di Kerto setelah berhasil menaklukkan sebagian besar wilayah Jawa. Keberhasilan ini mencatatkan Sultan Agung sebagai raja terbesar dalam sejarah Dinasti Mataram Islam.
Meskipun sudah ada makam Kotagede, Sultan Agung yang dikenal religius itu juga membangun makam baru raja-raja Mataram yang lebih luas di Imogiri. Makam raja Mataram Imogiri atau Pajimatan Imogiri adalah kompleks makam bagi raja-raja Mataram Islam beserta keturunannya.Makam ini dibangun oleh raja ketiga Kesultanan Mataram Sultan Agung Hanyokrokusumo pada tahun 1632. Di kompleks makam yang luasnya mencapai 10 hektare ini, dimakamkan raja-raja yang pernah bertahta di Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta beserta keluarganya.
