MALANGTIMES - Encek-encek atau anyaman bilah bambu berukuran sekitar 40 centimeter yang difungsikan sebagai wadah (tempat) berbagai macam hasil bumi dengan alas daun jati atau pisang, merupakan kearifan nenek moyang dalam mengolah hasil alam yang tumbuh subur di bumi pertiwi.
Berbagai kegiatan masyarakat yang bersifat ritual maupun tradisi, semacam bersih desa, tidak pernah luput dari kehadiran encek-encek yang diusung ratusan warga dengan isi berbagai hasil bumi.
Baca Juga : Viral Video Warga Beri Semangat kepada Pasien Positif Covid-19
Kehadiran encek-encek menjadi wadah syukur masyarakat atas kemurahan karunia Tuhan terhadap hambanya.
Hal ini juga yang terus dirawat oleh warga di Kecamatan Tirtoyudo dalam berbagai ritual tahunan seperti terlihat dalam acara Bersih Desa ke-85 di Pujiharjo, Senin (24/07) kemarin.
Kuatnya mempertahankan tradisi dalam penggunaan wadah encek-encek untuk berbagai isi makanan yang nantinya akan disantap bersama-sama tersebut, mendapat apresiasi Bupati Malang yang selalu menghadiri berbagai kegiatan yang menguatkan nilai-nilai luhur masa lalu seperti keguyuban, gotong royong dan pelestarian tradisi ini.
"Sebuah kehormatan bagi saya atau siapapun yang bisa melihat langsung nilai-nilai luhur bangsa yang kini masih bertahan dalam masyarakat,"kata Dr Rendra Kresna, Bupati Malang, Selasa (25/07) kepada Malang TIMES.
Encek-encek sebagai wadah hasil bumi warga Pujiharjo, bukan sekedar alat menampung makanan semata, tetapi memiliki nilai filosofis tinggi dibanding dengan wadah makanan modern saat ini.

Nilai-nilai filosofis tersebutlah yang kini semakin meredup di dalam masyarakat. Bambu sebagai bahan encek-encek adalah pohon yang memiliki berbagai manfaat bagi manusia, baik untuk keperluan kerajinan, bahan rumah dan lainnya.
"Selain untuk mencegah erosi dan banjir. Karena itu kita juga membudidayakan bambu di Sanankerto,"ujar Rendra yang juga memiliki perhatian khusus terhadap lingkungan hidup.
Baca Juga : Mokong Keluyuran Malam Hari, Warga Jalani Rapid Test Covid-19 di Tempat
Terpenting, masih menurut Rendra, penggunaan hasil alam ini adalah sebagai bentuk rasa syukur atas karunia alam yang makmur dan telah membuat masyarakat Kabupaten Malang menjadi masyarakat sejahtera yang tidak melupakan warisan luhur budaya masa lalu.
Encek-encek yang diusung ratusan warga di Kecamatan Tirtoyudo dalam bersih desa ke-85 bahkan pernah mencapai ribuan di tahun 2016 dan sempat tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI).
Rendra yang mengikuti arak-arakan encek-encek menuju Kantor Desa Pujiharjo bersama masyarakat, dalam sambutannya juga menyampaikan bahwa desa Pujiharjo dengan segala pontesi yang ada harus tetap terus berinovasi dan mengembangkan diri dengan program-program yang ada di Kabupaten Malang.
"Pujiharjo memiliki berbagai potensi wisata yang bisa mendongkrak taraf kesejahteraan warganya, misalnya seperti encek-encek dalam giat beraih desa ini. Karena itu terus berinovasi, berkreasi bersama kita tanpa harus menghilangkan budaya luhur yang telah ada,"terangnya kepada ratusan warga.
Pemerintah Kabupaten Malang akan terus mendukung desa-desa yang memiliki semangat mengembangkan desa wisatanya.
"Syaratnya masyarakat juga harus ikut mendukung dan aktif," pungkas Rendra yang mengapresiasi warga Pujiharjo atas kesetiaannya menjaga, melestarikan nilai-nilai luhur nenek moyang sampai saat ini.
