MALANGTIMES – "Ya Allah...Ya Allah...Duuuh...Panas...Panas..." suara rintihan demi rintihan terdengar dari balik bilik kecil ukuran 1 x 2,5 meter di RT 7 RW 4, Kelurahan Kota Lama, Kota Malang.
Baca Juga : Tanggap Covid-19, Fraksi PKS DPRD Kota Malang Bagikan Ratusan APD ke Petugas Medis
Dari kamar kecil yang ditempati kurang lebih 14 tahun itu, Kakek Madun, mengerang kesakitan akibat penyakit hernia yang dideritanya. Kakek 92 tahun itu mengaku tak kuasa lagi menahan sakit yang dideritanya.
“Tinimbang Koyok Ngene (daripada seperti ini, red), aku ikhlas diambil Seng Kuoso (Yang Maha Kuasa),”
Sementara, Maryam (89) sang Istri, dengan keterbatasan penglihatan akibat mengalami kebutaan sejak lahir terlihat begitu setia mendampingi sang suami sambil sesekali memberikan pijatan-pijatan kecil di kaki suaminya.
“Terkadang kalau minum atau makan sesuatu yang tidak cocok, sakitnya kambuh. Ini bisa semalam suntuk mengerang kesakitan seperti ini,” ucap Maryam lirih kepada MalangTIMES saat berkunjung ke bilik kecilnya, Selasa (6/12/2016).
Maryam lalu bercerita sebenarnya penyakit hernia diderita suaminya sejak setahun yang lalu. Di balik semua keterbatasan yang dimiliki, sebenarnya dirinya bersama sang suami sudah berusaha mencari jalan keluar untuk kesembuhan suaminya.
“Saya sudah pernah beberapa kali ke dokter Fauzi (menyebut nama dokter yang buka praktek sekitar 500 meter dari bilik yang ditempati mereka) dan mengajukan untuk operasi. Tapi kata dokter tidak bisa karena usia saya sudah tua seperti ini. Otot-otok saya tak kuat lagi untuk operasi,” ujar Madun menyela obrolan MalangTIMES dengan Maryam, sang istri.
Kakek Madun sebenarnya sangat ingin dioperasi dan sembuh dari rasa sakit yang dideritanya. Meskipun ia mengaku bingung seandainya dokter berani melakukan operasi apakah dengan hanya berbekal kartu Jamkesmas yang dimilikinya akan cukup sebagai bukti menjalani operasi tanpa biaya.
Baca Juga : Hingga Pertengahan April, 4 Kali Tanah Longsor Terjadi di Kota Batu
“Lalu, seng nunggu di rumah sakit siapa? lha wong rayat kulo buta (lalu siapa yang menunggu saya di rumah sakit siapa lha istri saya buta,” keluhnya sambil tak henti mengerang akibat rasa sakit yang luar biasa di perutnya bagian bawah.
Sementara, untuk hidup sehari-hari, pasangan kakek-nenek yang sudah tua renta ini mengandalkan uluran tangan para tetangga dekatnya dan orang-orang yang bersimpati memberi makanan dan minuman.
Maklum, di bilik kecil berdinding triplek ini mereka tentu tidak bisa berbuat banyak. Untuk bisa tidur nyenyak saja mereka harus berhimpitan akibat terbatasnya ruang untuk istirahat.
Sementara, untuk keperluan mandi, cuci pakaian bahkan buang air kecil mereka numpang di rumah Mbak Lis, tetangga dekat yang rumahnya berhimpitan dengan bilik yang mereka tempati.
Sekarang, pasangan kakek-nenek tua renta yang hidup tanpa anak dan sanak saudara ini hanya bisa menggantungkan hidupnya pada Tuhan sambil menunggu uluran tangan para dermawan dan tetangga dekatnya.
