Acara bersih desa di Desa Gogodeso, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar untuk pertama kalinya digelar dengan ritual bantengan, Sabtu (12/11/2016).
Bersih desa dengan bantengan ini diyakini dan diklaim sebagai yang pertama di Kabupaten Blitar. Masyarakat setempat menyambut antusias tradisi kuno asal Batu Malang yang baru pertama kali mereka lihat ini.
Bantengan diarak berjalan di jalan desa sejauh dua kilometer dengan finish di lapangan desa setempat. Meski berjalan tak terlalu jauh, ratusan warga masyarakat melihat dengan dekat di pinggir jalan. Nampak anak kecil bersepeda mengikuti barisan bantengan dari belakang.
Sepanjang jalan warga dipukau oleh atraksi pecut diiringi gerakan-gerakan manusia berbaju banteng yang cukup mengagetkan nyaris seperti banteng sungguhan. Warga semakin kagum karena mereka yang menjadi banteng ini adalah para anak muda.
“Ikon nya Blitar itu adalah jaranan yang hari ini juga kita tampilkan dalam kirab ini, tapi kita coba tampilkan seni tradisi lain yaitu bantengan yang dalam sejarah dikenal sebagai penolak balak, dan ini cocok untuk bersih desa,” kata Dimas Anggoro Putro, Koordinator kesenian bantengan.
Dijelaskan Dimas, bantengan terkait erat dengan spiritual, menolak balak dan membentengi desa dari malapetaka yang mengancam. ”Sehingga diharapkan melalui ritual bantengan yang difisualkan ini bisa membawa keselamatan dan ketentraman bagi penduduk Desa Gogodeso,” imbuhnya.
Masih menurut Dimas, karena bukan tradisi asli Blitar dan baru pertama kalinya dilaksanakan, maka sebelum digelarnya bantengan ini, panitia melaksanakan upacara ritual peminjaman seni tradisi.
“Ritual itu memohon peminjaman bantengan untuk kegiatan bersih desa di sini, ritual kami laksanakan sejak kemarin sore hingga sebelum pemberangkatan, kenapa demikian? karena bantengan ini bukan asli tradisi orang Blitar, ini merupakan seni tradisi dari Batu Malang,” paparnya.
Ditambahkan budayawan dan senima Desa Gogodeso, Heri Langit, pihaknya selalu berusaha mewadahi seni tradisi baik itu yang berasal dari atau luar Blitar. “Kami terus berusaha melestarikan seluruh seni warisan leluhur. Kita jaranan sudah punya, reog juga dan sekarang kami ingin mengangkat bantengan. Seluruhnya kalau bisa harus go international,” ungkapnya.
Kepala Desa Gogodeso, Choirul Anam, mengatakan meski baru pertama kalinya bersih desa diisi dengan bantengan diharapkan tumbuh apresiasi dari warga masyarakat.
“Karena apapun itu, bantengan merupakan warisan leluhur bangsa Indonesia yang patut untuk dilestarikan. Dan tinggi atau rendahnya suatu peradaban masyarakat diukur dari seni tradisi,” pungkasnya.
Perlu diketahui, bantengan ini adalah salah satu rangkaian acara bersih desa dan festival seni pedesaan yang digelar Desa Gogodeso selama dua hari 12 dan 13 November 2016. Akan ditampilkan pula dalam agenda ini kesenian lokal desa, sholawatan dan seni kuda lumping. Serta bazar ekonomi kerakyatan di lapangan Sanjaya.
Pemerintah desa berharap, bersih desa dan festival seni pedesaan ini mampu mengangkat budaya dan membangkitkan ekonomi kerakyatan serta gotong royong warga masyarakat Desa Gogodeso.(*)
