KERITING: Tomat milik petani di Kelurahan Dadaprejo Kota Batu keriting dan tba-tiba layu, Rabu (6/4/2016). (foto: Nurliana Ulfa/ BatuTIMES)
KERITING: Tomat milik petani di Kelurahan Dadaprejo Kota Batu keriting dan tba-tiba layu, Rabu (6/4/2016). (foto: Nurliana Ulfa/ BatuTIMES)

MALANGTIMES - Petani tomat buah di Kota Batu harus bersabar di musim hujan kali ini. Sebab tanaman tomat buah yang mereka tanam terancam gagal panen. Salah satu pemicunya adalah adanya gangguan penyakit pada daunnya. Daun-daun tomat buah ini menjadi keriting dan melengkung ke dalam. Selanjutnya layu. Kejadiannya mulai dua minggu yang lalu.

Nur Kholifah, salah seorang petani di Dusun Dadaptulis Kelurahan Dadaprejo Kota Batu mengatakan, pada usia 36 hari, tomat buahnya masih tumbuh  normal. Namun setelah itu daun-daunnya mengeriting.

”Mungkin karena tanahnya lembab terkena hujan,” jelas ibu tiga anak ini. Kini usia tanaman tomatnya mencapai 50 hari.

Genangan air hujan yang ada di sekitar tempat tumbuh tanaman ini memang sangat buruk bagi perkembangan tomat buah. Sehingga tak urung daun tomat ini mengeriting dan terkesan layu.

Menurut Kholifah, meskipun diteruskan, saat panen nantinya tetap tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. “Nanti pasti jadinya kecil-kecil dan tidak bisa banyak. Padahal tomat buah kan harus besar, tidak seperti tomat sayur yang ukurannya lebih kecil,” ungkap Kholifah.

Tomat yang telah ia tanam di kebun seluas 1900 meter ini harus direlakannya untuk tidak diteruskan hingga panen bulan depan.

“Kalau cuacanya masih hujan begini, sepertinya tidak bisa dilanjutkan. Mungkin beralih untuk menanam padi atau jagung saja,” imbuhnya.

Padahal saat ini harga tomat buah di pasaran mencapai Rp 15 ribu per kilogramnya. Tomat buah tersebut biasanya digunakan untuk bahan membuat jus tomat dan aneka makanan seperti pasta tomat dan saus tomat.(*)