Bolehkah Puasa Nisfu Syaban Digabung dengan Qadha Ramadan? Ini Penjelasan Ulama dan Bacaan Niatnya
Reporter
Mutmainah J
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
28 - Jan - 2026, 07:59
JATIMTIMES - Menjelang malam Nisfu Syaban, suasana ibadah umat Islam biasanya ikut meningkat. Selain doa dan dzikir, puasa juga jadi amalan yang banyak dikerjakan. Namun di tengah semangat itu, muncul satu pertanyaan penting: bagaimana jika masih punya utang puasa Ramadan, bolehkah digabung dengan puasa Nisfu Syaban?
Pertanyaan ini wajar, karena banyak orang masih memiliki utang puasa Ramadan sekaligus ingin meraih keutamaan ibadah di bulan Syaban yang dikenal penuh keberkahan.
Baca Juga : Niat Puasa Qadha Ramadan di Bulan Syaban 2026, Bisa Digabung? Ini Penjelasannya
Keutamaan Puasa di Bulan Syaban
Syaban adalah bulan yang istimewa karena menjadi pengantar menuju Ramadan. Rasulullah SAW dikenal memperbanyak puasa di bulan ini. Hal tersebut disampaikan oleh Aisyah RA:
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa satu bulan penuh selain Ramadan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa dibandingkan di bulan Syaban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi dasar kuat bahwa memperbanyak puasa di bulan Syaban merupakan amalan yang dianjurkan. Selain sebagai latihan spiritual, Syaban juga menjadi waktu yang baik untuk menyelesaikan utang puasa sebelum masuk Ramadan berikutnya.
Bolehkah Qadha Puasa Dilakukan Saat Nisfu Syaban?
Secara hukum, mengqadha puasa Ramadan di bulan Syaban diperbolehkan, bahkan dianjurkan. Banyak ulama menjelaskan bahwa Syaban adalah waktu yang tepat untuk menunaikan kewajiban yang tertunda.
Melunasi utang puasa menunjukkan tanggung jawab seorang Muslim terhadap kewajiban ibadahnya. Dengan menuntaskannya sebelum Ramadan, seseorang bisa menyambut bulan suci dengan hati yang lebih tenang.
Selain itu, Syaban juga dikenal sebagai bulan turunnya rahmat dan ampunan Allah SWT. Maka, mengerjakan qadha puasa di bulan ini bukan hanya menyelesaikan kewajiban, tetapi juga menjadi kesempatan meraih pahala dan keberkahan.
Bagaimana dengan Puasa Setelah Pertengahan Syaban?
Sebagian hadis memang terkesan membatasi puasa setelah pertengahan Syaban, sementara hadis lain justru menunjukkan Rasulullah SAW banyak berpuasa di bulan tersebut. Menurut para ulama, hal ini dipahami dengan pendekatan al-jam’ wa at-taufiq (mengompromikan dalil).
Penjelasannya:
• Larangan puasa setelah pertengahan Syaban ditujukan bagi orang yang tidak terbiasa puasa sunnah, agar tidak merasa berat menjelang Ramadan.
• Sementara orang yang sudah terbiasa berpuasa, atau memiliki utang puasa (qadha), tetap boleh berpuasa.
Penjelasan ini juga disampaikan oleh para ustaz dan ulama kontemporer, termasuk Ustadz Luky Nugroho, yang menekankan pentingnya memahami hadis secara utuh, tidak hanya secara tekstual.
Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Nisfu Syaban dan Qadha Ramadan?
Dalil Boleh Qadha Puasa di Bulan Syaban
Aisyah RA sendiri pernah menunda qadha puasanya hingga Syaban:
“Aku memiliki utang puasa Ramadan dan aku tidak mampu mengqadhanya kecuali pada bulan Syaban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menjadi dalil jelas bahwa qadha puasa di bulan Syaban diperbolehkan, bahkan dipraktikkan oleh sahabat Nabi.
Bagaimana dengan Puasa Setelah Pertengahan Syaban?
Ada hadis:
“Jika telah masuk pertengahan Syaban, maka janganlah kalian berpuasa.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
Namun para ulama menjelaskan, larangan ini berlaku bagi orang yang tidak punya kebiasaan puasa atau memulai puasa sunnah mendadak. Sementara orang yang:
• sudah terbiasa puasa sunnah, atau
• memiliki kewajiban qadha
maka tetap boleh berpuasa, termasuk setelah pertengahan Syaban.
Dalil Menggabungkan Niat Puasa Sunnah dan Wajib
Memang tidak ada hadis yang secara eksplisit menyebut “gabung puasa Nisfu Syaban dan qadha.” Namun, para ulama membolehkan berdasarkan kaidah penggabungan niat ibadah (tasyriik an-niyyah).
Kaidah Fikih:
“Apabila satu ibadah bisa mencakup dua tujuan, maka sah dengan satu niat.”
Contoh yang sering disebut ulama:
• Shalat tahiyatul masjid bisa sekaligus dengan shalat fardhu
• Mandi wajib bisa sekaligus diniatkan mandi sunnah
Dalam puasa, Imam Nawawi menjelaskan bahwa jika seseorang berpuasa wajib yang bertepatan dengan hari yang memiliki keutamaan sunnah, maka ia tetap mendapatkan keutamaan waktu tersebut.
Artinya, jika seseorang:
• berniat qadha Ramadan (wajib)
• melakukannya di hari Nisfu Syaban
maka puasanya sah sebagai qadha, dan ia berharap mendapat keutamaan Syaban sebagai bonus pahala, meski bukan puasa sunnah murni.
Bacaan Niat Puasa Syaban
Puasa Syaban termasuk puasa sunnah. Niat utamanya dihadirkan dalam hati, tetapi boleh dilafalkan untuk membantu kekhusyukan.
Teks Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ الشَّهْرِ الشَّعْبَانِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitu shauma syahri sya‘bāni sunnatan lillāhi ta‘ālā.
Artinya:
“Saya niat puasa sunnah bulan Syaban karena Allah Ta’ala.”
Bacaan Niat Puasa Qadha Ramadan
Berbeda dengan puasa sunnah, puasa qadha Ramadan wajib diniatkan sejak malam hari (sebelum fajar).
Teks Arab:
Baca Juga : Dari Bangku Kelas ke Kebiasaan Hidup Sehat, Ikhtiar MIN 1 Kota Malang Lewat Pelatihan Dokter Kecil
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna lillāhi ta‘ālā.
Artinya:
“Aku berniat berpuasa esok hari untuk mengganti kewajiban puasa bulan Ramadan karena Allah Ta’ala.”
Dengan niat ini, puasa qadha menjadi sah dan bernilai ibadah wajib.
Puasa Nisfu Syaban boleh dilakukan bersamaan dengan qadha Ramadan. Niat utamanya tetap qadha, sementara keutamaan puasa di bulan Syaban diharapkan menjadi pahala tambahan. Syaban adalah waktu terbaik untuk menyelesaikan utang puasa agar bisa menyambut Ramadan tanpa beban kewajiban yang tertunda.
Jadi, jika masih punya utang puasa, inilah momen yang tepat untuk menunaikannya sekaligus meraih keberkahan bulan Syaban.
