Farida Nurhan Jual Akun YouTube Rp 10 Miliar, Akui Penghasilan Anjlok dan Facebook Lebih Menggiurkan

Reporter

Mutmainah J

Editor

Dede Nana

21 - Jan - 2026, 05:55

Youtube dan Facebook. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Food vlogger ternama Farida Nurhan atau yang akrab disapa Omay membuat pengakuan mengejutkan terkait kariernya di dunia digital. Setelah hampir 10 tahun berkarya di YouTube, Farida secara terbuka menyatakan pensiun dari platform tersebut dan bahkan menawarkan akun YouTube miliknya untuk dijual seharga Rp 10 miliar.

Kanal YouTube Farida Nurhan sendiri diketahui telah mengantongi lebih dari 5 juta subscriber, menjadikannya salah satu akun kuliner terbesar di Indonesia. Namun di balik angka fantastis itu, Farida mengaku kondisi finansialnya dari YouTube tidak lagi seindah dulu.

Baca Juga : Harga Emas Antam Naik 1,28%, Cetak Rekor Rp 2,77 Juta per Gram

Pengakuan blak-blakan ini disampaikan Farida saat hadir dalam podcast Deddy Corbuzier, yang tayang dan ramai diperbincangkan publik. Dalam podcast tersebut, Farida Nurhan tanpa ragu menceritakan realita yang ia hadapi sebagai kreator senior. Ia mengakui bahwa pendapatan YouTube kini jauh menurun, bahkan tidak sebanding dengan usaha, biaya produksi, dan energi yang dikeluarkan.

“Sekarang YouTube itu capek, tapi hasilnya nggak seperti dulu,” ujar Farida, dikutip dari YouTube Deddy Corbuzier, Rabu (21/1/2026).

Ia juga mengungkap bahwa aturan monetisasi YouTube semakin ketat, sementara algoritma sering kali tidak berpihak pada kreator lama. Kondisi ini membuat penghasilan dari iklan menjadi tidak stabil dan sulit diprediksi.

Farida bahkan mengakui bahwa untuk mempertahankan kualitas konten YouTube, ia harus mengeluarkan biaya besar, mulai dari produksi, perjalanan, hingga kru yang pada akhirnya tidak sebanding dengan pendapatan yang masuk.

Berbeda dengan YouTube, Farida mengaku justru menemukan “ladang baru” di Facebook. Ia menyebut, penghasilannya dari Meta saat ini bisa mencapai tiga kali lipat dibandingkan YouTube.

“Di Facebook itu lebih enak. Aku nggak bohong, bisa tiga kali lipat dari YouTube,” kata Farida dalam podcast Deddy Corbuzier.

Menurutnya, Facebook memberikan jangkauan yang lebih luas, terutama untuk konten video kuliner yang mudah viral dan cepat menjangkau audiens lintas usia. Selain itu, Farida merasa algoritma Facebook lebih adil dan tidak terlalu membebani kreator dengan berbagai persyaratan rumit.

Farida juga mengaku sempat terkejut saat melihat hasil monetisasi Facebook di awal, karena nilainya melampaui ekspektasi, bahkan tanpa promosi besar-besaran.

Cara Kreator Menghasilkan Uang dari Facebook

Dari pengakuan Farida Nurhan tersebut, publik pun mulai membuka mata soal Facebook. Memang, Facebook saat ini telah menjadi salah satu platform favorit kreator karena skema monetisasinya yang agresif. Berikut beberapa sumber penghasilan dari Facebook yang juga dimanfaatkan Farida Nurhan:

1. In-Stream Ads

Iklan yang muncul di tengah atau awal video berdurasi panjang.

2. Monetisasi Reels Facebook

Baca Juga : Kapan KIP Kuliah 2026 Dibuka? Ini Prediksi Jadwal, Syarat, dan Cara Daftarnya

Video pendek kini bisa menghasilkan uang, mirip YouTube Shorts, namun dengan potensi jangkauan lebih luas.

3. Program Bonus Kreator

Meta memberikan bonus berdasarkan performa video, jumlah penonton, dan interaksi.

4. Stars (Bintang)

Penonton dapat memberikan Stars sebagai dukungan langsung saat live streaming atau menonton video.

5. Kerja Sama Brand

Tingginya engagement di Facebook membuat kreator lebih mudah dilirik brand untuk endorsement.

Keputusan Farida Nurhan menjual akun YouTube dan beralih ke Facebook mencerminkan pergeseran besar dalam lanskap industri kreator konten. Jika dulu YouTube dianggap sebagai “ladang emas”, kini platform lain seperti Facebook mulai menunjukkan potensi pendapatan yang lebih stabil bagi kreator tertentu.

Meski demikian, Farida menegaskan keputusannya bukan karena meninggalkan penggemar, melainkan strategi bisnis agar tetap relevan dan berkelanjutan di dunia digital yang terus berubah.

Langkah Farida Nurhan ini pun memicu diskusi luas di kalangan kreator Indonesia, sekaligus membuka mata bahwa platform terbaik bukan selalu YouTube, tetapi yang paling sesuai dengan audiens dan model monetisasi kreator itu sendiri.