Ketika Deep Learning Bertemu Empati: Unikama Siapkan Calon Guru SD Hadapi Tantangan Zaman

Editor

Dede Nana

09 - Jan - 2026, 11:47

Kegiatan yang digelar Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (HMPS PGSD) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Kamis (8/1/2026) (ist)

JATIMTIMES - Isu kecerdasan buatan kian akrab di ruang kelas, tetapi empati tetap menjadi fondasi yang tak tergantikan. Spirit itulah yang mengemuka dalam International Guest Lecture yang digelar Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (HMPS PGSD) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Kamis (8/1/2026). 

Forum akademik bertaraf internasional ini menjadi ruang temu gagasan bagi mahasiswa lintas program studi untuk membedah masa depan pembelajaran sekolah dasar di tengah laju teknologi.

Baca Juga : BEM UMM Desak Polda Jatim Transparan Usut Kasus Fara, Singgung Pelaku Oknum Polisi

Mengangkat tema Deep Learning dan Pembelajaran Adaptif di Sekolah Dasar: Menyeimbangkan Pemanfaatan Teknologi dan Empati, kegiatan tersebut berlangsung secara hybrid dengan pusat acara di Auditorium Multikultural Unikama. 

Mahasiswa tidak hanya menjadi pendengar, tetapi diajak memahami bagaimana teknologi mutakhir dapat dimanfaatkan secara bijak tanpa menggerus nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan.

1

Diskusi diperkaya oleh tiga narasumber dengan latar belakang dan perspektif berbeda. Dua pemateri hadir secara daring melalui Zoom, yakni Ina Liem, Pakar Pendidikan Nasional sekaligus CEO Jurusanku, serta Dr. Abdul Hamid Busthami Nur dari Universitas Utara Malaysia (UUM). 

Sementara itu, Dr. Prihatin Sulistyowati, S.S., M.Pd. hadir langsung di lokasi untuk memberikan sudut pandang kontekstual dari lingkungan pendidikan dalam negeri. Alur diskusi dipandu oleh Dr. Oktavia Widiastuti, M.Pd., yang menjaga percakapan tetap fokus namun dinamis.

Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Unikama, Dr. Cicilia Ika Rahayu Nita, M.Pd. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kecanggihan teknologi, termasuk deep learning, tidak boleh diposisikan sebagai pengganti sentuhan manusia dalam proses belajar. Menurutnya, pendidikan dasar tetap menuntut kepekaan emosi dan pembentukan karakter yang kuat sejak dini.

2

“Teknologi secanggih apa pun tidak akan mampu menggantikan empati dan peran guru dalam membentuk karakter anak,” ujarnya. 

Ia juga menjelaskan bahwa kuliah tamu ini dirancang inklusif dengan melibatkan mahasiswa Program Studi PG PAUD serta peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG) Unikama. 

“Keterlibatan lintas prodi dan jenjang ini bertujuan untuk menyinergikan pemahaman mengenai pembelajaran adaptif di seluruh tingkatan pendidikan dasar dan pra-sekolah, karena mereka akan menghadapi tantangan pendidikan yang semakin kompleks,” tegasnya.

Baca Juga : Tak Lagi Muter Cari Parkiran, Jalan Santai ke Kayutangan Justru Jadi Daya Tarik

Dari sisi program studi, Ketua Prodi PGSD Unikama, Dr. Farida Nur Kumala, S.Si., M.Pd., menilai penguasaan teknologi pendidikan menjadi bekal penting agar calon guru tidak tertinggal oleh perubahan zaman. Ia mengapresiasi inisiatif mahasiswa dan panitia yang berhasil menghadirkan forum internasional sebagai ruang belajar sejak awal masa perkuliahan.

“Kegiatan ini adalah pijakan awal yang penting, khususnya bagi mahasiswa angkatan 2025. Sejak dini, mereka kami ajak memahami bahwa profesi guru bukan hanya soal mengajar materi, tetapi juga tentang kemampuan beradaptasi dengan perangkat digital tanpa mengabaikan kondisi psikologis anak,” tuturnya.

Melalui kuliah tamu internasional ini, FIP Unikama menegaskan komitmennya dalam menyiapkan calon pendidik yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga peka, adaptif, dan berkarakter. Di tengah derasnya arus digital, pesan yang dibawa sederhana namun kuat: masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh algoritma, melainkan oleh manusia yang mampu menggunakannya dengan hati.