Abu Dzar Al-Ghifari: Sahabat Nabi yang Hidup, Wafat, dan Dibangkitkan Sebatang Kara

Editor

Yunan Helmy

27 - Jul - 2025, 02:57

Ilustrasi sahabat nabi (ist)

JATIMTIMES - Di padang pasir yang sunyi bernama Rabadzah, seorang lelaki tua mengembuskan napas terakhirnya. Ia bukan orang biasa. Dialah Abu Dzar Al-Ghifari, sahabat Rasulullah yang dikenal paling tegas melawan kebatilan dan paling zuhud terhadap dunia.

Kepergiannya menjadi penegas sabda Nabi Muhammad SAW puluhan tahun sebelumnya: "Semoga Allah merahmati Abu Dzar. Ia berjalan sendiri, wafat sendiri, dan akan dibangkitkan sendiri."

Baca Juga : Kalender Hijriah Agustus 2025 Lengkap dengan Jadwal Puasa Sunah dan Ayyamul Bidh Safar 1447 H

Kalimat itu bukan sekadar doa, melainkan nubuat yang terbukti nyata. Dalam kisah yang diceritakan sendiri oleh Rasulullah SAW saat Perang Tabuk pada tahun kesembilan Hijriyah, disebutkan bahwa Abu Dzar akan meninggal di tempat sepi, disaksikan oleh rombongan orang beriman. Bertahun-tahun kemudian, sabda itu benar-benar terjadi.

Menjelang ajalnya, Abu Dzar terbaring lemah di tengah hamparan pasir, hanya ditemani istrinya yang menangis haru. Ia tahu saat itu telah tiba. Ketika sang istri bersedih karena tak memiliki kain kafan, Abu Dzar menenangkan: "Janganlah menangis! Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda bahwa salah satu dari kami akan wafat di padang pasir, dan disaksikan oleh rombongan orang-orang beriman. Dan lihatlah jalan itu, bisa jadi rombongan itu sudah dekat."

Tak lama setelah ruhnya kembali ke hadirat Allah, kafilah kaum Mukminin yang dipimpin sahabat Abdullah bin Mas'ud melintasi wilayah itu. Mereka menemukan jasad Abu Dzar terbujur, ditemani istri dan anaknya yang menangis. Air mata pun mengalir deras dari Ibnu Mas’ud. Ia berseru, “Benarlah sabda Rasulullah SAW. Engkau berjalan sendiri, wafat sendiri, dan kelak akan dibangkitkan sendiri.”

Abu Dzar yang bernama asli Jundub bin Janadah dikenal sebagai sosok yang berani, tajam nuraninya, dan paling zuhud di antara para sahabat. Bahkan sebelum masuk Islam, ia telah menentang penyembahan berhala. Setelah memeluk Islam, ia menjadi pribadi revolusioner yang tak segan menyuarakan kebenaran meskipun harus menanggung risiko intimidasi dan penganiayaan.

Keberaniannya bukan hanya kepada musuh-musuh Islam. Bahkan terhadap sesama sahabat yang dinilainya melenceng dari kebenaran, ia tetap tegas memberikan nasihat. Rasulullah SAW pun pernah berkata, "Tak akan ada orang di bawah langit ini yang lebih benar ucapannya daripada Abu Dzar."

Abu Dzar hidup sederhana, menolak jabatan, menolak kekayaan. Suatu hari, ia menolak tawaran menjadi amir di Irak. “Demi Allah, kalian tak akan bisa memancingku dengan dunia,” ucapnya lantang.

Baca Juga : BSU Rp600 Ribu Tak Bisa Diambil jika Penerima Meninggal, Ini Penjelasan Resminya

Pernah juga seorang sahabat menegurnya karena mengenakan pakaian lusuh, padahal diketahui ia memiliki baju baru. Abu Dzar menjawab, “Baju itu sudah kuberikan kepada yang lebih membutuhkan. Tidakkah kamu lihat, saya masih punya selembar burdah, kambing untuk diperah susunya, dan keledai untuk ditunggangi? Nikmat apa lagi yang kurang?”

Dalam salah satu majelis, Abu Dzar menyampaikan tujuh wasiat Nabi SAW kepadanya yang menjadi panduan hidupnya: Yakni mendekatkan diri dan menyantuni orang miskin; melihat ke bawah, bukan ke atas; tidak meminta-minta; menyambung silaturahmi; mengatakan kebenaran meski pahit; tidak takut terhadap celaan orang dalam membela agama dan memperbanyak bacaan La haula walaa quwwata illa billah.

Wasiat itu ia jalankan bukan sekadar dalam kata, tetapi dalam setiap langkah hidupnya. Imam Ali radhiyallahu ‘anhu bahkan berkata, "Tak ada yang tersisa saat ini yang tak peduli celaan orang dalam menegakkan agama Allah, kecuali Abu Dzar."