JATIMTIMES
⚡ AMP
Versi Web

MBG Prasmanan Pangkas Waktu Tunggu, Kesiapan SPPG Jalankan Standar Keamanan Pangan Jadi Kunci

Reporter: Tubagus Achmad • Editor: Yunan Helmy
📅 19 Oktober 2026, 20:13 WIB • ⏱️ 3 menit baca

JATIMTIMES - Perubahan sistem penyajian program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi prasmanan di SMPN 1 Kepanjen tidak mengubah standar penanganan bahan baku yang diterapkan mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Inovasi pelayanan ini justru menjadi momentum evaluasi untuk menjaga kualitas makanan, memastikan keamanan pangan, dan meningkatkan efisiensi penyajian bagi siswa.

Uji coba yang melibatkan 63 siswa tersebut merupakan bagian dari pilot project Badan Gizi Nasional (BGN). Pelaksanaannya dipantau langsung oleh anggota DPR RI Fraksi Gerindra Ma'ruf Mubarok atau Gus Mamak, Wakil Ketua Komisi B DPRD Jawa Timur Chusni Mubarok, Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Malang Alayk Mubarok, Kapolres Malang AKBP Rulian Syauri, serta perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Malang.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Jawa Timur Chusni Mubarok menilai, penyajian prasmanan berpotensi meningkatkan kualitas makanan karena suhu panas dapat dipertahankan hingga waktu penyajian. Sehingga, paket MBG yang diterima siswa menjadi lebih segar untuk dikonsumsi. 

"Evaluasi kami, dengan proses ini banyak siswa merasakan makanan lebih fresh, makanan lebih enak," ungkap Chusni, Senin (19/10/2026). 

Dia mengatakan, dari pengolahan dipertahankan rantai panasnya, food chain, lalu dilanjutkan dibawa menuju dapur di sekolah dan disiapkan langsung saat pelaksanaan uji coba MBG prasmanan. Namun, penerapan sistem tersebut membutuhkan dukungan peralatan dan pengawasan yang memadai agar standar keamanan pangan tetap terjaga. 

"Kalau infrastruktur tambahan pasti. Nah, ini yang nanti akan menjadi kesepakatan antara BGN dengan mitra SPPG, bagaimana terkait penyiapan infrastruktur untuk MBG prasmanan ini," ujar Chusni. 

Pihaknya menyebut, ketika melakukan dialog singkat dengan kepala SPPG pada saat uji coba MBG prasmanan ini, paket MBG dipertahankan pada suhu 60 derajat. Sehingga, kondisi paket MBG lebih segar, enak dan di luar danger zone atau zona berbahaya. 

Sementara itu, Kepala SPPG mitra Jatirejoyoso 1 Ananda Rafi menjelaskan bahwa perubahan dari sistem rantai dingin menjadi rantai panas membutuhkan penyesuaian dalam proses pengolahan dan distribusi makanan. Karena itu, pengendalian suhu menjadi perhatian penting agar makanan tetap berada dalam kondisi yang sesuai selama proses pelayanan.

Menurut Rafi, proses adaptasi juga dilakukan terhadap kebiasaan siswa yang sebelumnya menerima makanan dalam wadah individual. Setelah sekitar empat hari penyesuaian, waktu tunggu atau holding time yang semula lebih dari 30 menit berhasil ditekan menjadi kurang dari 20 menit.

"Selama dua minggu mengevaluasi, kami cari solusi, sudah siap semuanya. Dari peralatan juga mitra SPPG mendukung, yayasan mendukung. Nah, jika nantinya dipermanenkan, SPPG Jatirejoyoso 1 siap untuk melaksanakan MBG prasmanan itu," jelas Rafi. 

Rafi menegaskan, perubahan sistem penyajian tidak mengurangi standar pemeriksaan bahan baku. Pemeriksaan dilakukan sejak bahan diterima dari pemasok hingga tahap persiapan di dapur, dengan tetap mengacu pada prosedur operasional keamanan pangan yang berlaku.

"Untuk penerimaan bahan baku, kami sortir mulai dari suplier. Dapur SPPG kami mintanya sudah bersih, bahan sudah dipilah-pilah, sudah dicuci. Sampai nanti di dapur saat penerimaan kita sortir dan saat persiapan kita cuci kembali. Jadi, untuk bahan kita tidak mengubah standar apapun, karena dari sebelumnya sudah menerapkan SOP dari BGN, dengan mempertimbangkan keamanan pangannya," beber Rafi. 

Pihak SPPG mitra Jatirejoyoso 1 juga menyatakan siap melaksanakan sistem prasmanan apabila nantinya ditetapkan secara permanen. Namun, keputusan tersebut tetap membutuhkan evaluasi menyeluruh, termasuk kesiapan infrastruktur, efektivitas waktu pelayanan, dan konsistensi pengendalian suhu makanan.

Uji coba ini menjadi bahan evaluasi bagi BGN untuk memastikan inovasi pelayanan MBG tidak hanya meningkatkan pengalaman makan siswa, tetapi juga memenuhi prinsip keamanan pangan dan ketepatan pelayanan. Dengan pengawasan dan perbaikan berkelanjutan, program MBG diharapkan semakin optimal dalam mendukung pemenuhan gizi siswa. 

Baca Juga: Kebakaran Hanguskan Dua Rumah di Situbondo, Ayah Terluka Selamatkan Anak

Baca Juga: Korban Tewas Kebakaran Bromo Bertambah Jadi 5 Orang

Topik Terkait
# MBG# MBG prasmanan# Kabupaten Malang

Ingin Pengalaman Baca Interaktif?

Nikmati fitur komentar, video liputan, indeks kurs & cuaca terkini di portal web utama.

Buka Versi Lengkap