JATIMTIMES
⚡ AMP
Versi Web

Tinjau Tiga Proyek Strategis, Mas Ibin Siapkan Wajah Baru Kota Blitar sebagai Kota Kreatif

Reporter: Aunur Rofiq • Editor: Dede Nana
📅 19 Oktober 2026, 14:14 WIB • ⏱️ 5 menit baca

JATIMTIMES – Pemerintah Kota Blitar menyiapkan transformasi sejumlah aset daerah menjadi pusat aktivitas ekonomi, ruang kreatif, dan destinasi wisata baru. Langkah ini menjadi bagian dari strategi Wali Kota Blitar H. Syauqul Muhibbin atau Mas Ibin untuk meningkatkan daya tarik kota sekaligus memperkuat pendapatan asli daerah (PAD).wali

Strategi tersebut ditegaskan Mas Ibin saat meninjau tiga proyek strategis, Senin (19/10/2026). Ketiganya meliputi revitalisasi Pasar Legi, pengembangan Water Park Sumber Udel, dan pembangunan Ecopark Joko Pangon.

Dalam peninjauan itu, Mas Ibin memastikan pembangunan tidak hanya berorientasi pada perbaikan fisik. Setiap proyek diarahkan memiliki fungsi ekonomi yang jelas, mampu menjawab kebutuhan masyarakat, serta menghasilkan manfaat jangka panjang bagi daerah.

Di tengah keterbatasan fiskal akibat pemangkasan transfer pemerintah pusat, Pemkot Blitar memilih mengoptimalkan potensi aset yang telah dimiliki.

"Kota Blitar sudah kita rencanakan menjadi kota kreatif. Di tengah anggaran yang sangat kecil akibat pemotongan dari pemerintah pusat, kami tidak mengeluh. Kami mencoba membangun dengan cara sederhana yang justru menumbuhkan kreativitas," ujar Mas Ibin.

Joko Pangon Disiapkan Jadi Magnet Wisata Baru

Salah satu proyek yang mendapat perhatian adalah Ecopark Joko Pangon. Kawasan tersebut disiapkan sebagai destinasi wisata baru untuk memperluas pilihan rekreasi masyarakat sekaligus menarik wisatawan berkunjung ke Kota Blitar.

Mas Ibin menilai pengembangan destinasi baru menjadi kebutuhan penting seiring upaya pemerintah menghidupkan aktivitas kota hingga malam hari melalui konsep Kota Blitar 24 Jam.

"Kota Blitar perlu destinasi wisata baru. Pemerintah juga berkewajiban menyediakan tempat yang menyenangkan bagi masyarakat. Karena itu, Joko Pangon kami dahulukan pembangunannya karena kami melihat ada potensi ekonomi yang bisa dikembangkan," katanya.

Menurut Mas Ibin, investasi pembangunan fasilitas wisata harus memiliki prospek pengembalian yang terukur. Pendapatan dapat diperoleh melalui tiket masuk, pengelolaan kawasan, serta aktivitas usaha para penyewa tempat atau tenant.

Pengembangan Joko Pangon juga membuka peluang pemanfaatan sumber air di kawasan tersebut sebagai wahana permainan air. Namun, realisasinya masih membutuhkan pengembangan lanjutan dan dukungan pembiayaan.

"Harapan kami, investasi yang dikeluarkan pemerintah nantinya bisa kembali menjadi PAD. Jadi, selain memberikan fasilitas rekreasi, kawasan ini juga menghasilkan pendapatan bagi daerah," ujarnya.

Pasar Legi Bertransformasi Menjadi Pasar Kreatif

Perubahan serupa disiapkan di Pasar Legi. Mas Ibin menilai kemajuan rehabilitasi pasar tersebut cukup baik, tetapi masih diperlukan pembenahan untuk meningkatkan kenyamanan dan menghidupkan kembali aktivitas perdagangan.

Dalam peninjauannya, Mas Ibin menemukan sejumlah ruangan di bagian belakang pasar yang disebut tidak pernah dimanfaatkan sejak 2004.

"Saya juga kaget, ada beberapa ruangan pasar yang sudah sekitar 22 tahun tidak digunakan. Tugas kami sekarang bagaimana ruangan-ruangan itu bisa dimanfaatkan dan Pasar Legi kembali ramai," katanya.

Pemkot Blitar merancang perubahan citra Pasar Legi dari pasar tradisional menjadi pasar kreatif yang mengikuti perkembangan perilaku konsumen.

Konsep tersebut membuka peluang hadirnya pusat kuliner, kafe, area permainan, kegiatan seni, hingga ruang aktivitas anak muda. Pasar juga diharapkan mampu melayani kebutuhan masyarakat pada waktu yang lebih fleksibel, termasuk malam hari dan akhir pekan.

"Pasar kreatif itu menyesuaikan dengan perilaku konsumen. Kalau masyarakat datang malam, kita harus menyediakan kebutuhan mereka pada malam hari. Kita tidak bisa memaksa konsumen mengikuti pola pasar yang lama," tegasnya.

Mas Ibin mencontohkan transformasi sejumlah pasar di Jakarta, Solo, dan Malang sebagai referensi pengembangan.

Selain pembenahan fungsi ruang, pemerintah berencana meningkatkan sirkulasi udara melalui pemasangan blower pada tahun depan. Langkah tersebut diperlukan karena kondisi bagian dalam pasar masih terasa panas.

Ia juga mengajak masyarakat menyumbangkan gagasan untuk menentukan jenis usaha dan aktivitas yang sesuai dengan kebutuhan pengunjung.

"Kalau ingin Pasar Legi ramai, kita harus berubah. Pasar tradisional harus bisa berinovasi dan mengikuti perkembangan zaman," ujarnya.

Sumber Udel Dikembangkan Jadi Pusat Rekreasi Multifungsi

Sementara itu, revitalisasi Water Park Sumber Udel diarahkan untuk mengembalikan daya tarik fasilitas rekreasi yang telah lama dikenal masyarakat Blitar.

Mas Ibin menjelaskan, pembenahan tetap mempertahankan karakter bangunan lama. Perubahan dilakukan melalui pengecatan, perbaikan sejumlah fasilitas, serta penambahan tribun.

Pengembangan berikutnya mencakup rencana penyediaan area kebugaran, kafe, dan ruang penyelenggaraan kegiatan.

"Sumber Udel nanti multifungsi. Orang tidak hanya datang untuk berenang, tetapi juga bisa nongkrong, ke kafe, nge-gym, atau menikmati berbagai event. Kami ingin mengembalikan kejayaannya, bahkan membuatnya lebih ramai," katanya.

Setelah rehabilitasi selesai, pemerintah berencana membuka proses penawaran awal dan lelang pengelolaan Sumber Udel. Mas Ibin berharap pemenang lelang berasal dari kalangan anak muda yang memiliki kreativitas dan gagasan segar dalam mengembangkan destinasi wisata tersebut.

"Saya berharap nanti Sumber Udel dikelola oleh anak-anak muda, karena konsep anak-anak muda itu bagus. Saya yakin kalau dikelola anak muda, Sumber Udel akan kembali ramai seperti dulu, bahkan lebih ramai," ujar Mas Ibin.

Ia memperkirakan investasi rehabilitasi berpotensi kembali melalui penerimaan sewa dalam kurun tiga hingga empat tahun. Namun, proyeksi tersebut masih bergantung pada nilai kontrak dan hasil pengelolaan.

Menurut Mas Ibin, prinsip serupa diterapkan pada pengembangan aset daerah lainnya. Setiap investasi pemerintah diharapkan menghasilkan manfaat ganda berupa peningkatan kualitas pelayanan publik dan tambahan pendapatan daerah.

"Kami akan memantau berapa yang dikeluarkan dan berapa pendapatan setiap tahunnya. Harapannya, pembangunan fasilitas masyarakat ini juga memberikan kontribusi kembali kepada daerah melalui PAD," pungkasnya.

Melalui pengembangan Pasar Legi, Sumber Udel, dan Joko Pangon, Pemkot Blitar berupaya memperluas fungsi aset publik menjadi ruang ekonomi dan rekreasi yang lebih produktif. Transformasi tersebut sekaligus mendukung pengembangan Kota Blitar 24 Jam dan penguatan ekonomi lokal.

Baca Juga: Mahrus Ali DPRD Kabupaten Malang Dorong Pendidikan Politik Generasi Muda, Wujudkan Kualitas Demokrasi Indonesia

Baca Juga: Ungkap Kendala Pemadaman Karhutla di Jatim, Wagub Emil Tekankan Strategi Sekat Bakar

Topik Terkait
# wali kota blitar# pemkot blitar

Ingin Pengalaman Baca Interaktif?

Nikmati fitur komentar, video liputan, indeks kurs & cuaca terkini di portal web utama.

Buka Versi Lengkap