JATIMTIMES – Hamparan tembakau mengering di atas rak-rak bambu menjadi pemandangan khas di Desa Plalangan, Kecamatan Sumbermalang, Kabupaten Situbondo. Di bawah terik matahari, para pekerja sibuk menata daun demi daun, menjalani tahapan panjang pengolahan tembakau sebelum nantinya disetorkan ke pabrik.
Di balik aktivitas tersebut, tersimpan kerja keras petani yang harus menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan hasil. Mulai dari menanam, memanen, mengolah, hingga menjemur, seluruh proses membutuhkan tenaga, ketelatenan, serta biaya produksi yang tidak sedikit.
Heri, petani tembakau asal Desa Plalangan, mengungkapkan bahwa hasil panen raya dapat mencapai sekitar 3 hingga 4 ton. Jumlah ini merupakan hasil borong daun tembakau basah di lahan tembakau di beberapa tempat seperti Kecamatan Bungatan, Mlandingan dan Sumbermalang sendiri. Daun tembakau tersebut kemudian diproses dan dikelola petani di kawasan Sumbermalang.
“Kalau panen raya, hasilnya bisa mencapai sekitar 3 sampai 4 ton,” ungkap Heri saat menjelaskan hasil produksi tembakaunya, Sabtu (17/10/2026) malam.
Besarnya hasil panen itu tidak lepas dari keterlibatan banyak pekerja. Untuk proses pemetikan, dibutuhkan sekitar 12 hingga 13 orang. Sementara itu, tahapan masat melibatkan empat hingga lima orang, sedangkan proses menata tembakau untuk dijemur membutuhkan sekitar 15 pekerja.
“Kalau untuk metik, biasanya sekitar 12 sampai 13 orang. Yang bagian masat (merajang daun tembakau) sekitar empat sampai lima orang, sedangkan yang menata untuk dijemur bisa sampai 15 orang,” jelasnya.
Aktivitas di tempat pengolahan berlangsung secara bertahap. Daun tembakau yang dipanen tidak langsung siap dipasarkan, tetapi harus melewati proses penanganan sebelum dijemur hingga mencapai kondisi yang diinginkan.
Heri menjelaskan, tanaman tembakau membutuhkan waktu sekitar tiga bulan sejak ditanam hingga memasuki masa panen. Setelah itu, proses pengolahan terus berlanjut, termasuk tahapan masat yang memerlukan waktu sekitar dua hingga tiga hari.
“Mulai tanam sampai panen sekitar tiga bulan. Untuk masat dua sampai tiga hari, kemudian penjemuran sekitar enam hari,” tuturnya.
Tahap penjemuran menjadi bagian penting dalam rangkaian produksi. Setelah melewati proses tersebut, tembakau masih harus melalui tahapan berikutnya hingga siap disetorkan ke pabrik. Jika dihitung secara keseluruhan, perjalanan dari awal penanaman hingga penyetoran membutuhkan waktu sekitar enam bulan.
“Kalau dihitung dari mulai tanam sampai tembakau disetorkan ke pabrik, totalnya bisa sekitar enam bulan,” kata Heri.
Lamanya proses produksi membuat petani harus mengatur tenaga kerja dan biaya secara cermat. Sebab, selama proses berlangsung, kebutuhan operasional terus berjalan, sementara hasil penjualan baru diperoleh setelah tembakau melewati tahapan pengolahan.
Selain hasil panen, harga jual menjadi faktor penting yang menentukan pendapatan petani. Heri menyebut harga tembakau yang menggunakan gula berada di kisaran Rp65 ribu per kilogram. Adapun tembakau tanpa penggunaan gula dapat mencapai Rp80 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram.
“Kalau menggunakan gula, harganya sekitar Rp65 ribu per kilogram. Kalau tidak menggunakan gula, bisa di kisaran Rp80 ribu sampai Rp90 ribu per kilogram,” ungkapnya.
Harga tersebut menunjukkan bahwa perlakuan terhadap tembakau menjadi salah satu hal yang berkaitan dengan nilai jualnya. Meski demikian, harga yang diterima petani tetap bergantung pada kualitas hasil produksi dan ketentuan pembelian dari pabrik.
Heri juga mengungkapkan bahwa harga tembakau pernah berada di kisaran Rp45 ribu per kilogram. Perubahan harga tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi petani, mengingat proses produksi membutuhkan waktu panjang dan melibatkan banyak tenaga kerja.
“Harga tembakau pernah juga berada di kisaran Rp45 ribu per kilogram,” ujarnya.
Dalam satu musim panen, nilai perputaran uang dari usaha tembakau disebut dapat mencapai Rp50 juta hingga Rp100 juta. Besaran tersebut bergantung pada hasil produksi dan harga jual yang diperoleh. Angka itu merupakan gambaran nilai usaha, bukan otomatis keuntungan bersih yang diterima petani setelah dikurangi biaya produksi.
Heri turut menyebut istilah ereng dalam menggambarkan luasan lahan tembakau. Satu ereng diperkirakan memiliki luas sekitar 400 meter persegi. Dalam keterangannya, angka Rp40 juta per ereng juga disebut berkaitan dengan usaha tembakau, tetapi perlu dipastikan kembali apakah merujuk pada nilai lahan, biaya produksi, atau nilai hasil usaha.
Bagi masyarakat Desa Plalangan, kegiatan tembakau tidak hanya melibatkan petani yang menanam dan memanen. Proses pengolahan hingga penjemuran turut membuka pekerjaan bagi warga sekitar, dengan puluhan orang terlibat dalam sejumlah tahapan produksi.
Hamparan rak bambu yang dipenuhi daun tembakau menjadi gambaran bagaimana komoditas ini menggerakkan aktivitas ekonomi di pedesaan. Setiap tahap membutuhkan kerja bersama, ketelitian, dan waktu agar hasil panen dapat memenuhi kualitas yang diharapkan pasar.
Di tengah perubahan harga dan panjangnya masa produksi, petani tembakau di Sumbermalang terus berupaya menjaga kualitas hasil panennya. Bagi Heri, hasil panen yang baik menjadi harapan setelah menjalani proses panjang, mulai dari menanam hingga tembakau siap disetorkan ke pabrik.
Baca Juga: Lingkarpreneur 2026 UB Pertemukan Startup Mahasiswa dengan Investor, Buka Peluang Kolaborasi Bisnis
Baca Juga: Kemarau Berkepanjangan di Kota Malang, Harga Pakan Kambing Melonjak hingga Dua Kali Lipat