JATIMTIMES
⚡ AMP
Versi Web

Khutbah Jumat 16 Oktober 2025: Alam Kian Rusak, Ini Tanggung Jawab Umat Muslim

Reporter: Binti Nikmatur • Editor: Dede Nana
📅 16 Oktober 2026, 08:31 WIB • ⏱️ 9 menit baca

JATIMTIMES - Kerusakan alam yang terjadi di berbagai tempat patut menjadi perhatian bersama. Penebangan pohon, pembakaran hutan, pencemaran lingkungan, hingga kebiasaan membuang sampah sembarangan dapat membawa dampak panjang bagi kehidupan manusia. Padahal, alam menyediakan berbagai kebutuhan yang menopang kehidupan. Menjaganya merupakan tanggung jawab yang tidak bisa diabaikan.

Islam mengajarkan umatnya untuk memperlakukan alam dengan baik. Rasulullah Muhammad saw memberikan teladan melalui anjuran menanam pohon dan melakukan perbuatan yang membawa manfaat bagi makhluk hidup. Sikap tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan memiliki nilai kebaikan yang patut dijaga dalam kehidupan sehari-hari.

Khutbah Jumat kali ini membahas tanggung jawab Muslim dalam merawat alam dengan meneladani Rasulullah saw. Kepedulian itu dapat dimulai dari hal sederhana, seperti menjaga kebersihan, mengurangi sampah, merawat tanaman, dan tidak merusak lingkungan. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari ikhtiar menjaga bumi sebagai tempat hidup bersama.

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهِمَا آيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ, وَسَخَّرَ لَنَا مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْ نِعَمٍ ظَاهِرَةٍ وَبَاطِنَةٍ لِنَكُونَ مِنَ الشَّاكِرِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Salah satu wujud ketakwaan itu ialah menyadari bahwa kehidupan di bumi merupakan amanah yang harus dijaga, bukan kekayaan yang boleh kita manfaatkan sesuka hati.

Saudaraku yang dirahmati Allah,

Pernahkah kita membayangkan bagaimana kehidupan berlangsung ketika hutan kehilangan pepohonannya, sungai tak lagi jernih, dan udara yang kita hirup dipenuhi asap?

Kita mungkin masih bisa membeli air bersih, berpindah ke tempat yang lebih aman, atau menutup pintu rumah agar terhindar dari polusi. Namun, sampai kapan manusia dapat menghindar jika kerusakan alam terus meluas?

Kebakaran hutan dan lahan, pencemaran sungai, tumpukan sampah, serta rusaknya kawasan resapan air bukan persoalan yang jauh dari kehidupan kita. Dampaknya dapat hadir di sekitar rumah, mengganggu kesehatan, merusak mata pencaharian, bahkan memaksa sebagian orang meninggalkan tempat tinggalnya.

Di balik setiap bencana yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan, ada pelajaran yang patut kita renungkan. Apakah selama ini kita telah memperlakukan bumi dengan bijaksana? Apakah kita mengambil manfaat dari alam tanpa memikirkan akibatnya? Dan apakah kita sudah menjalankan amanah sebagai manusia yang diberi tanggung jawab untuk merawat kehidupan?

Allah Swt. telah mengingatkan kita melalui firman-Nya dalam Al-Qur'an, Surah Ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Allah membuat mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.”

Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Ayat ini mengajak kita melihat kerusakan alam dengan kesadaran yang lebih dalam. Manusia bukan sekadar penghuni bumi yang berhak mengambil hasilnya. Manusia juga memikul tanggung jawab atas cara memperlakukan bumi beserta seluruh kehidupan di dalamnya.

Kita memerlukan air untuk hidup, tetapi sungai justru tercemar oleh limbah dan sampah. Kita membutuhkan tanah yang subur, tetapi hutan dibuka tanpa memperhitungkan akibatnya. Kita memerlukan udara bersih, tetapi pembakaran lahan dapat menyebarkan asap hingga mengganggu kesehatan banyak orang.

Kerusakan yang dilakukan di satu tempat pun dapat membawa dampak ke tempat lain. Hutan yang kehilangan tutupan vegetasi dapat meningkatkan risiko erosi dan longsor. Saluran air yang tersumbat sampah dapat memperparah genangan. Lahan yang dikeringkan secara tidak tepat, terutama gambut, menjadi lebih rentan terbakar ketika musim kemarau tiba.

Dengan demikian, persoalan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Ketika alam kehilangan keseimbangannya, kehidupan masyarakat ikut terancam. Orang yang paling merasakan dampaknya bahkan sering kali bukan orang yang mengambil keuntungan dari kerusakan tersebut.

Dalam Marah Labid, Syekh Nawawi Banten ketika menafsirkan Surah Ar-Rum ayat 41 menjelaskan:

أَيْ تَبَيَّنَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ كَالْجَدَبِ وَكَثْرَةِ الْحَرَقِ، وَالْغَرَقِ، وَمَوْتِ دَوَابِّ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ، وَقِلَّةِ اللُّؤْلُؤِ بِسَبَبِ كَسْبِ النَّاسِ الْمَعَاصِيَ

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan laut, seperti paceklik, banyaknya kebakaran dan banjir, kematian hewan-hewan darat dan laut, serta berkurangnya mutiara, yang disebabkan oleh perbuatan manusia.”

Penjelasan tersebut mengingatkan kita bahwa kerusakan lingkungan memiliki akibat yang luas. Alam yang terganggu dapat memengaruhi ketersediaan pangan, keselamatan manusia, kehidupan hewan, hingga keberlangsungan mata pencaharian masyarakat.

Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan semestinya tumbuh dari kesadaran iman. Menjaga kebersihan, menghindari tindakan yang merusak, dan menggunakan sumber daya secara bertanggung jawab merupakan bagian dari ikhtiar merawat kehidupan yang Allah titipkan kepada kita.

Jemaah yang dirahmati Allah,

Islam memberikan teladan yang sangat indah tentang bagaimana manusia seharusnya menyikapi kehidupan. Rasulullah Muhammad Saw mengajarkan agar seorang Muslim tetap menebarkan manfaat selama masih memiliki kesempatan, sekalipun manfaat itu baru dirasakan pada masa mendatang.

Dalam hadis riwayat Imam Ahmad, Rasulullah Saw. bersabda:

إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ

Artinya: “Jika hari kiamat telah tiba sementara di tangan salah seorang di antara kalian terdapat sebuah tunas tanaman, apabila ia mampu untuk menanamnya sebelum kiamat benar-benar terjadi, maka hendaklah ia menanamnya.” (HR Ahmad)

Cobalah kita renungkan pesan hadis ini. Kiamat menggambarkan berakhirnya kehidupan dunia. Namun, dalam gambaran yang sangat kuat itu, Rasulullah Saw. tetap mendorong umatnya untuk menanam apabila masih mampu melakukannya.

Ada pelajaran tentang harapan dan tanggung jawab di dalamnya. Kebaikan tidak semestinya ditunda hanya karena hasilnya belum terlihat. Kita tidak harus menunggu menjadi orang berpengaruh untuk berbuat sesuatu. Kita tidak perlu menunggu memiliki kekayaan berlimpah untuk mulai menjaga lingkungan.

Menanam pohon, merawat tanaman, menghemat air, mengurangi sampah, dan tidak membakar lahan merupakan langkah yang dapat dimulai dari kemampuan masing-masing. Barangkali terlihat kecil, tetapi kebiasaan yang dilakukan secara konsisten dapat membawa manfaat bagi lingkungan sekitar.

Pohon yang ditanam hari ini mungkin belum sempat kita nikmati keteduhannya. Air yang kita jaga hari ini mungkin baru dirasakan manfaatnya oleh anak cucu kita. Lingkungan yang kita rawat sekarang mungkin menjadi penopang kehidupan bagi generasi yang belum lahir.

Di sinilah kita belajar bahwa amanah menjaga bumi tidak berhenti pada kepentingan diri sendiri. Ada hak orang lain yang perlu kita hormati, termasuk hak generasi mendatang untuk hidup di lingkungan yang sehat dan layak.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Kepedulian terhadap alam juga harus diwujudkan melalui cara mengelola sumber daya yang sesuai dengan karakter lingkungan. Indonesia memiliki lahan gambut yang menyimpan air dan berperan penting bagi keseimbangan ekosistem. Namun, ketika gambut dikeringkan atau dibuka dengan cara yang tidak tepat, risiko kebakaran dapat meningkat. Api di lahan gambut juga dapat menyebar dan sulit dipadamkan.

Karena itu, pengelolaan gambut memerlukan pengetahuan dan kehati-hatian. Karakter lahan perlu dikenali sebelum dimanfaatkan. Penggunaan lahan mesti disesuaikan dengan kondisi ekosistemnya. Tata air harus dijaga agar gambut tidak menjadi terlalu kering. Pembukaan lahan dengan cara membakar harus dihindari, sementara kegiatan pertanian perlu direncanakan dengan memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Hal-hal tersebut mungkin terdengar teknis. Namun, di baliknya terdapat nilai yang dekat dengan ajaran agama: jangan bertindak tanpa pengetahuan, jangan mengambil manfaat dengan mengorbankan keselamatan orang lain, dan jangan mewariskan kerusakan demi keuntungan sesaat.

Tentu, menjaga lingkungan bukan tanggung jawab individu semata. Pemerintah perlu membuat dan menegakkan kebijakan perlindungan lingkungan secara adil. Pelaku usaha harus memastikan kegiatan ekonomi berjalan dengan memperhatikan kelestarian alam. Petani membutuhkan pengetahuan dan dukungan agar dapat mengelola lahan secara berkelanjutan. Masyarakat pun perlu membangun kebiasaan yang lebih bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, perubahan besar tetap membutuhkan kesediaan setiap orang untuk memulai dari dirinya sendiri. Kita bisa berhenti membuang sampah sembarangan. Kita bisa menggunakan air secukupnya. Kita bisa menolak pembakaran lahan. Kita juga dapat mengingatkan dengan cara yang baik ketika melihat tindakan yang membahayakan lingkungan.

Jangan sampai kita rajin berdoa memohon keselamatan, tetapi pada saat yang sama mengabaikan perilaku yang memperbesar risiko bencana. Jangan sampai kita berharap anak cucu hidup sejahtera, tetapi meninggalkan tanah, air, dan udara dalam keadaan rusak.

Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Ketika bencana datang, kita menyaksikan betapa rapuhnya kehidupan manusia. Rumah dapat rusak, mata pencaharian terhenti, dan keluarga kehilangan orang-orang yang dicintai. Dalam keadaan seperti itu, saudara-saudara kita membutuhkan pertolongan, dukungan, dan doa.

Marilah kita mendoakan siapa pun yang sedang menghadapi musibah. Semoga Allah Swt memberikan kekuatan dan kesabaran kepada mereka, melindungi yang masih berada dalam bahaya, serta memudahkan proses pemulihan bagi masyarakat yang terdampak. Semoga mereka yang kehilangan rumah, harta benda, dan orang-orang tercinta diberi ketabahan serta memperoleh pertolongan yang dibutuhkan.

Pada saat yang sama, musibah hendaknya mendorong kita untuk memperbaiki ikhtiar. Kita memang tidak dapat mencegah semua bencana, tetapi kita dapat mengurangi risiko yang timbul akibat kelalaian dan kerusakan lingkungan. Kita tidak mampu mengendalikan seluruh keadaan alam, tetapi kita dapat memilih untuk tidak memperburuknya.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu membaca tanda-tanda kebesaran-Nya, menjaga amanah kehidupan, dan meninggalkan kebaikan bagi sesama makhluk.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

Khutbah II

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى

آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

Baca Juga: 7 Doa untuk Anak yang Sedang Ujian: Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya

Baca Juga: Doa Minta Keselamatan dari Bahaya dan Bencana: Lengkap Arab, Latin dan Artinya

Topik Terkait
# khutbah jumat# pilihan khutbah jumat# kerusakan alam

Ingin Pengalaman Baca Interaktif?

Nikmati fitur komentar, video liputan, indeks kurs & cuaca terkini di portal web utama.

Buka Versi Lengkap