JATIMTIMES
⚡ AMP
Versi Web

Herlambang Hashemi Buktikan Film Independen Malang Bisa Berprestasi di Level Dunia

Reporter: Hendra Saputra • Editor: Sri Kurnia Mahiruni
📅 15 Oktober 2026, 15:36 WIB • ⏱️ 4 menit baca

JATIMTIMES - Karya sineas muda asal Malang, Herlambang Hashemi, membuktikan bahwa film independen buatan anak daerah mampu menembus panggung internasional. Melalui film pendek Melawan Stigma (2024) yang didistribusikan dengan judul Breaking the Stigma, Herlambang berhasil menarik perhatian di sejumlah festival film mancanegara, mulai dari Eropa hingga Amerika.

Di usianya yang baru menginjak 29 tahun, Herlambang telah menghasilkan 10 film pendek secara independen. Kiprahnya menjadi bukti bahwa keterbatasan ruang dan sumber daya bukan penghalang bagi sineas muda untuk membawa cerita dari daerah ke hadapan penonton dunia.

Film Melawan Stigma menjadi salah satu karya yang mengantarkan namanya ke panggung internasional. Film tersebut tercatat mengikuti sejumlah festival, di antaranya Garofano Rosso International Film Festival di Italia, Black Cat Award International Film Festival di Bolivia, Cannes International Shorts di Prancis, hingga Büyük Taarruz Uluslararası Kısa Film Festival di Turki.

Tak sekadar menembus seleksi festival, film garapan Herlambang itu juga meraih penghargaan Best International Film dalam ajang Brightside Tavern Film Festival di Amerika Serikat. Bahkan, nama film tersebut masih tercantum dalam daftar festival hingga 2026.

Jejak karya Herlambang juga dapat ditemukan di sejumlah platform perfilman digital, seperti IMDb, Letterboxd, Amazon Prime Video, Apple TV, hingga Rotten Tomatoes. Menariknya, Melawan Stigma memperoleh rating 9,4 di IMDb.

Perjalanan Herlambang di dunia perfilman tidak lahir secara instan. Ketertarikannya terhadap film tumbuh sejak masih berusia sekitar 10 tahun, ketika mendiang ayahnya kerap mengajaknya menyewa VCD.

Salah satu film yang membekas dalam ingatannya adalah Transformers. Dari pengalaman menonton film tersebut, tumbuh keinginan untuk suatu saat mampu menciptakan karya serupa.

Ia masih mengingat perkataan mendiang ayahnya yang menjadi pemantik ambisi tersebut. "Hanya orang orang Barat yang bisa membuat film seperti itu".

Kalimat itu justru menumbuhkan tekad Herlambang untuk membuktikan bahwa dirinya juga bisa berkarya di dunia perfilman. Sejak saat itu, ia mulai memandang film bukan hanya sebagai hiburan, melainkan juga sebagai medium untuk merekam pengalaman dan menyampaikan pesan sosial.

"Saat itu ada pikiran gimana kalau semuanya bisa diabadikan lewat film. Jadi orang itu gak melihat kita sebagai pribadi saja, tapi juga melihat kita karena ada cerita yang ingin disampaikan. Sekarang, sampai bisa tembus internasional, ya karena itu sih," ungkapnya.

Tekad tersebut terus ia bawa hingga memasuki bangku SMP dan perkuliahan. Di sela aktivitasnya, Herlambang konsisten membuat video dan film pendek untuk mengasah kemampuan sekaligus mencari karakter penceritaan yang sesuai dengan gagasannya.

Lulusan Program Studi Televisi dan Film Universitas Jember itu kemudian mengeksplorasi beragam genre, mulai dari horor, drama, hingga romansa. Isu-isu sosial juga menjadi salah satu elemen yang kerap ia angkat dalam karya-karyanya.

Sebelum Melawan Stigma, Herlambang telah menghasilkan sejumlah film pendek, yakni Noir Spirit Monomatic (2012), Noir Spirit Black Shadow (2013), Memorinto (2014), Tuhanku Disakuku (2015), Haru Biru (2015), I'm Sorry (2016), Knock (2017), Introvert (2017), dan Reaper is Typing (2019).

Sepuluh film tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya membangun identitas sebagai pembuat film independen. Dalam prosesnya, Herlambang tidak berjalan sendirian. Ia bersama sejumlah teman membentuk tim kecil yang bekerja secara mandiri untuk mewujudkan setiap proyek.

Menariknya, Herlambang turut mengambil peran sebagai penulis sekaligus sutradara dalam karya-karyanya. Pola kerja tersebut memberinya keleluasaan untuk menjaga gagasan cerita sekaligus menerjemahkannya ke dalam bahasa visual.

Meski berhasil meraih pengakuan di sejumlah festival internasional, Herlambang mengakui apresiasi terhadap film pendeknya di Indonesia masih terbilang terbatas.

Menurut dia, sejumlah karya yang dibuatnya di dalam negeri baru sebatas masuk sebagai official selection atau terpilih untuk ditayangkan dalam festival. Sementara di luar negeri, karyanya tidak hanya mendapat kesempatan pemutaran, tetapi juga mampu membawa pulang penghargaan.

"Kayak terpilih buat ditayangkan dimana gitu. Kalau di luar negeri dapat penghargaan, piala plus ditayangkan juga," kata dia.

Perbedaan pengalaman tersebut tidak membuat Herlambang berhenti berkarya. Sebaliknya, pencapaian di panggung internasional menjadi dorongan untuk terus meningkatkan kualitas produksi dan memperluas jangkauan ceritanya.

Saat ini, sineas muda asal Malang itu tengah berfokus mengembangkan proyek film terbaru. Isu sosial masih menjadi salah satu pijakan yang ingin ia eksplorasi dalam proses kreatifnya.

Bagi Herlambang, film memiliki peran lebih luas daripada sekadar menyuguhkan hiburan. Lewat cerita dan sudut pandang yang dibangun, sebuah film dapat mengajak penonton memahami persoalan sosial secara berbeda.

Perjalanan Herlambang sekaligus menunjukkan bahwa karya dari Malang memiliki peluang untuk dikenal lebih luas ketika dibangun dengan konsistensi, keberanian, dan gagasan yang kuat. Dari tim kecil dengan proses produksi independen, ia membuktikan bahwa cerita lokal bisa melintasi batas negara dan mendapat tempat di panggung perfilman internasional.

Baca Juga: RJ Mitte, Aktor Breaking Bad yang Perjuangkan Inklusi Disabilitas, Meninggal di Usia 34 Tahun

Baca Juga: Kicauan Burung Jadi Magnet Ekonomi, Piala Bakorwil III Malang Incar Kolaborasi Lebih Besar

Topik Terkait
# Herlambang Hashemi# Sineas Muda# Film Independen# Malang

Ingin Pengalaman Baca Interaktif?

Nikmati fitur komentar, video liputan, indeks kurs & cuaca terkini di portal web utama.

Buka Versi Lengkap