JATIMTIMES
⚡ AMP
Versi Web

Mengenal Taman Nasional Tanjung Puting, Habitat Orang Utan yang Kini Terancam Karhutla

Reporter: Mutmainah J • Editor: Sri Kurnia Mahiruni
📅 15 Oktober 2026, 15:29 WIB • ⏱️ 8 menit baca

JATIMTIMES - Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah menjadi salah satu kawasan konservasi yang memiliki peran penting dalam menjaga kekayaan flora dan fauna Indonesia. Hamparan hutan tropis, kawasan rawa gambut, hingga hutan mangrove di dalamnya menjadi rumah bagi berbagai satwa liar, termasuk orang utan Kalimantan dan bekantan yang keberadaannya semakin terancam.

Namun, kekayaan alam tersebut kini menghadapi ancaman serius akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Api yang melanda kawasan Taman Nasional Tanjung Puting tidak hanya mengancam kelestarian hutan, tetapi juga habitat satwa yang bergantung pada ekosistem tersebut untuk bertahan hidup.

Kondisi ini menjadi perhatian karena Tanjung Puting bukan sekadar kawasan pelestarian alam. Taman nasional tersebut juga dikenal sebagai salah satu destinasi wisata berbasis konservasi yang menarik pengunjung dari dalam maupun luar negeri.

Lantas, seperti apa Taman Nasional Tanjung Puting dan kekayaan alam yang tersimpan di dalamnya? Berikut profil, daya tarik, serta kondisi kawasan konservasi tersebut di tengah ancaman karhutla.

Mengenal Taman Nasional Tanjung Puting

Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) terletak di semenanjung barat daya Kalimantan Tengah, mencakup wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Seruyan. Kawasan ini memiliki luas sekitar 415.040 hektare, menjadikannya salah satu kawasan konservasi penting di Indonesia.

Sejarah perlindungan kawasan Tanjung Puting bermula pada 1937. Saat itu, Pemerintah Hindia Belanda menetapkannya sebagai cagar alam dan suaka margasatwa, terutama untuk melindungi orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dan bekantan (Nasalis larvatus).

Pada 1977, Tanjung Puting masuk dalam daftar Cagar Biosfer Indonesia yang ditetapkan UNESCO. Selanjutnya, melalui SK Menteri Pertanian RI Nomor 736/Mentan/X/1982 tertanggal 14 Oktober 1982, kawasan tersebut dinyatakan sebagai calon taman nasional.

Saat ini, Taman Nasional Tanjung Puting dikelola oleh Balai Taman Nasional Tanjung Puting, yang berada di bawah Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE).

Kawasan ini mempunyai beragam tipe ekosistem, mulai dari hutan tropis dataran rendah, hutan kerangas, hutan rawa air tawar, hutan rawa gambut, hutan mangrove, hutan pantai, hingga hutan sekunder. Keragaman ekosistem tersebut menjadi faktor penting yang mendukung kehidupan berbagai jenis flora dan fauna.

Daya Tarik Taman Nasional Tanjung Puting

Taman Nasional Tanjung Puting dikenal sebagai kawasan pelestarian alam yang mengutamakan perlindungan ekosistem hutan rawa dan rawa gambut, sekaligus menjadi habitat penting bagi sejumlah satwa yang dilindungi.

Berdasarkan informasi mengenai kawasan TNTP, terdapat sekitar 38 jenis mamalia, termasuk tujuh jenis primata. Orang utan Kalimantan, bekantan, owa Kalimantan (Hylobates agilis), dan beruang madu (Helarctos malayanus) menjadi bagian dari kekayaan satwa yang hidup di kawasan tersebut.

Berikut sejumlah daya tarik Taman Nasional Tanjung Puting.

1. Habitat Bekantan, Primata Berhidung Panjang

Bekantan merupakan primata endemik Pulau Kalimantan yang mudah dikenali dari hidungnya yang besar dan panjang. Satwa dengan nama ilmiah Nasalis larvatus ini mempunyai rambut berwarna cokelat kemerahan dan banyak ditemukan di kawasan hutan mangrove, rawa, serta hutan pantai.

Bekantan umumnya hidup berkelompok. Salah satu pola sosialnya adalah one-male group, yakni kelompok yang terdiri atas seekor jantan dewasa, beberapa betina, dan anak-anaknya. Selain itu, terdapat kelompok yang hanya beranggotakan bekantan jantan.

Ketika memasuki usia remaja, bekantan jantan dapat meninggalkan kelompoknya dan bergabung dengan kelompok jantan lainnya. Pola ini menjadi bagian dari dinamika sosial satwa tersebut.

Keistimewaan lainnya, bekantan dikenal sebagai perenang yang baik. Satwa ini dapat berenang melintasi perairan, termasuk dari satu pulau ke pulau lainnya.

Keberadaan bekantan di Tanjung Puting memperlihatkan pentingnya menjaga kelestarian hutan dan perairan yang menjadi bagian dari habitat alaminya.

2. Rumah Orang Utan Kalimantan

Orang utan Kalimantan menjadi salah satu satwa ikonik Taman Nasional Tanjung Puting. Kawasan ini memiliki populasi orang utan yang penting bagi upaya konservasi spesies tersebut.

Orang utan mempunyai kemiripan DNA dengan manusia hingga sekitar 97 persen. Primata ini juga dikenal sebagai mamalia arboreal, yaitu hewan yang menghabiskan sebagian besar waktunya di pepohonan.

Di Tanjung Puting, wisatawan mengenal sejumlah lokasi konservasi dan penelitian orang utan, antara lain Camp Leakey, Pondok Tanggui, dan Tanjung Harapan.

Di lokasi tertentu, pengunjung dapat mengamati orang utan dalam kegiatan yang berkaitan dengan program rehabilitasi dan pemberian pakan terjadwal, sesuai aturan pengelola. Meski demikian, kemunculan satwa tidak selalu dapat dipastikan karena orang utan merupakan satwa liar.

Pengunjung juga tidak diperkenankan memberi makan secara pribadi atau melakukan tindakan yang mengganggu perilaku alaminya. Pengamatan harus mengikuti ketentuan petugas demi keselamatan satwa maupun wisatawan.

Karena itu, kelestarian hutan Tanjung Puting sangat menentukan keberlangsungan hidup orang utan. Ketika hutan terbakar, satwa ini berisiko kehilangan tempat berlindung, sumber makanan, dan ruang untuk bergerak.

3. Habitat Beragam Fauna dan Flora Langka

Selain orang utan dan bekantan, Taman Nasional Tanjung Puting menyimpan kekayaan fauna lainnya. Sejumlah reptil yang ditemukan di kawasan ini antara lain buaya sinyulong (Tomistoma schlegelii), buaya muara (Crocodylus porosus), dan labi-labi.

Kawasan ini juga menjadi habitat bagi lebih dari 200 jenis burung. Salah satunya adalah bangau storm atau sandang lawe (Ciconia stormi), burung yang dikenal memiliki status konservasi mengkhawatirkan.

Kekayaan Tanjung Puting tidak hanya berasal dari satwa. Berbagai jenis tumbuhan tumbuh di dalam kawasan hutan, termasuk kantong semar (Nepenthes sp.), tumbuhan yang dikenal mampu menangkap serangga untuk memperoleh nutrisi tambahan.

Keragaman flora dan fauna tersebut menunjukkan bahwa ekosistem Tanjung Puting mempunyai hubungan yang saling berkaitan. Kerusakan pada satu bagian hutan berpotensi memengaruhi kehidupan berbagai organisme lain yang bergantung pada ekosistem yang sama.

4. Menyusuri Sungai dengan Perahu Klotok

Taman Nasional Tanjung Puting juga dikenal sebagai destinasi wisata alam yang menawarkan pengalaman menyusuri sungai menggunakan perahu klotok.

Perahu kayu tradisional ini menjadi salah satu sarana transportasi wisatawan untuk menjelajahi Sungai Sekonyer dan mencapai sejumlah lokasi pengamatan satwa.

Sepanjang perjalanan, pengunjung dapat menikmati pemandangan hutan tropis yang tumbuh di tepian sungai. Jika beruntung, wisatawan juga bisa melihat berbagai jenis satwa liar di habitatnya.

Perjalanan menggunakan klotok menjadi pengalaman yang khas bagi wisatawan yang berkunjung ke Tanjung Puting. Namun, kegiatan wisata tersebut sangat bergantung pada kondisi alam dan keamanan kawasan.

Ketika terjadi kebakaran hutan, akses wisata, kenyamanan perjalanan, dan keselamatan pengunjung ikut terdampak. Dengan demikian, perlindungan kawasan konservasi juga berkaitan erat dengan keberlangsungan kegiatan wisata alam.

Taman Nasional Tanjung Puting Kini Terancam Karhutla

Kekayaan alam Taman Nasional Tanjung Puting kini menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Situasi tersebut menjadi perhatian karena api berpotensi merusak kawasan hutan sekaligus mengancam habitat berbagai satwa yang dilindungi.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto membenarkan adanya upaya penanganan kebakaran di kawasan tersebut. Pemadaman dilakukan melalui sejumlah langkah, termasuk pengerahan water bombing atau pemadaman menggunakan bom air dari udara.

Namun, upaya pemadaman tidak selalu berjalan mudah. Kabut asap yang membatasi jarak pandang menjadi salah satu kendala dalam menjangkau titik api melalui jalur udara.

Dalam video yang beredar di media sosial, api terlihat mengepung kawasan hutan dari dua sisi, yakni barat dan selatan. Kondisi ini menggambarkan besarnya tantangan yang dihadapi petugas dalam menangani kebakaran di kawasan konservasi tersebut.

Tim gabungan dan relawan yang berupaya melakukan pemadaman di lapangan juga menghadapi keterbatasan. Ketika penanganan dari darat dinilai belum menunjukkan perubahan signifikan, muncul desakan agar pemerintah mengerahkan dukungan pemadaman dari udara untuk menjangkau titik api yang sulit diakses.

Luas kawasan terdampak diperkirakan mencapai sekitar 54 ribu hektare. Namun, angka tersebut masih berupa perkiraan sehingga belum dapat dipastikan sebagai luas lahan yang benar-benar terbakar.

Karena itu, angka tersebut perlu dibedakan dari hasil pengukuran resmi luas area terbakar. Kepastian mengenai dampak kebakaran membutuhkan pendataan dan verifikasi lebih lanjut dari pihak berwenang.

Kunjungan Wisatawan Ikut Terdampak

Kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting tidak hanya menjadi persoalan lingkungan. Aktivitas pariwisata yang selama ini mengandalkan keindahan hutan dan keberadaan satwa liar juga menghadapi tekanan.

Data Balai Taman Nasional Tanjung Puting yang diberitakan Antara mencatat sebanyak 79.920 kunjungan wisatawan sepanjang 2025. Dari total tersebut, sekitar 78 persen merupakan wisatawan mancanegara, sedangkan 22 persen lainnya wisatawan domestik.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa Tanjung Puting memiliki daya tarik bagi wisatawan dari berbagai negara. Keberadaan orang utan, keanekaragaman satwa, serta pengalaman menjelajahi sungai menggunakan klotok menjadi bagian dari daya tariknya.

Namun, sejak kebakaran melanda kawasan tersebut, jumlah kunjungan wisatawan dilaporkan mengalami penurunan hingga 80 persen.

Penurunan itu turut berdampak pada pekerja wisata dan masyarakat yang menggantungkan penghasilan pada aktivitas pariwisata di sekitar kawasan konservasi. Ketika perjalanan wisata terganggu, pendapatan pihak-pihak yang terlibat dalam layanan wisata juga berpotensi berkurang.

Di sisi lain, relawan dan petugas menghadapi tantangan dalam upaya melindungi kawasan hutan yang terbakar. Dukungan pemadaman dan penanganan yang memadai menjadi penting agar dampak kebakaran tidak semakin meluas.

Kebakaran hutan di Taman Nasional Tanjung Puting menjadi pengingat bahwa hutan bukan hanya kumpulan pepohonan. Di dalamnya terdapat habitat, sumber makanan, dan ruang hidup bagi berbagai spesies yang saling bergantung.

Bagi orang utan dan bekantan, kerusakan habitat dapat mengganggu akses terhadap makanan dan tempat berlindung. Bagi tumbuhan dan satwa lain, kebakaran juga berpotensi mengubah kondisi ekosistem yang selama ini menopang kehidupan mereka.

Dampaknya dapat meluas hingga sektor pariwisata dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada kelestarian alam. Ketika kawasan konservasi mengalami kerusakan, upaya pemulihan ekosistem juga dapat membutuhkan waktu panjang.

Karena itu, penanganan karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting menjadi bagian penting dari upaya melindungi keanekaragaman hayati Indonesia. Penguatan pemadaman, pemantauan kondisi kawasan, serta pemulihan habitat diperlukan untuk mengurangi dampak kebakaran.

Tanjung Puting memiliki nilai ekologis yang jauh melampaui fungsinya sebagai destinasi wisata. Menjaga kawasan ini berarti ikut mempertahankan habitat orang utan Kalimantan, bekantan, dan beragam spesies lain yang keberadaannya menjadi bagian penting dari kekayaan alam Indonesia.

Baca Juga: Bukan Cuma Soal Usia, Ini 7 Perbedaan Gen Z dan Milenial di Dunia Kerja

Baca Juga: Ramalan 6 Zodiak 15 Oktober 2026: Ada Peluang Baru hingga Tantangan

Topik Terkait
# Taman Nasional Tanjung Puting# Habitat Orang Utan# Orang Utan# Hutan Kalimantan# Kebakaran Hutan# Karhutla

Ingin Pengalaman Baca Interaktif?

Nikmati fitur komentar, video liputan, indeks kurs & cuaca terkini di portal web utama.

Buka Versi Lengkap