JATIMTIMES – Jeruji besi memang membatasi kebebasan fisik, tetapi tidak dengan kesempatan seseorang untuk belajar. Di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Situbondo, pendidikan menjadi jalan bagi warga binaan untuk menata kembali masa depan, mengejar ijazah yang belum diraih, sekaligus menumbuhkan harapan untuk kembali ke masyarakat dengan bekal yang lebih baik.
Melalui program pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C, warga binaan mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan yang setara dengan jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Program ini terlaksana melalui kolaborasi Rutan Situbondo dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Rumpin Inddas Kabupaten Situbondo.
Bagi sebagian orang, kesempatan duduk di bangku sekolah mungkin menjadi hal yang biasa. Namun, bagi warga binaan yang belum menuntaskan pendidikan formal, kesempatan belajar di dalam rutan memiliki arti tersendiri. Di tengah keterbatasan ruang gerak, mereka tetap bisa mengembangkan pengetahuan dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan masa pidana.
Program pendidikan kesetaraan ini bukan sekadar kegiatan belajar untuk memenuhi jadwal pembinaan. Lebih dari itu, pendidikan menjadi bagian dari upaya membuka kembali kesempatan yang mungkin pernah terlewatkan. Warga binaan dapat memanfaatkan masa pembinaan untuk memperbaiki kualitas diri, tanpa harus kehilangan hak untuk memperoleh pendidikan.
Kepala Rutan Kelas IIB Situbondo, Suwono, memandang pendidikan sebagai salah satu aspek penting dalam proses pembinaan. Menurutnya, keterbatasan akses pendidikan yang dialami seseorang pada masa lalu tidak seharusnya menjadi penghalang untuk terus belajar dan membangun masa depan.
“Melalui program pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C ini, kami ingin memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri. Kami berharap ilmu yang diperoleh dapat menjadi bekal berharga ketika mereka kembali ke masyarakat, sehingga mampu membangun masa depan yang lebih baik dan menjadi pribadi yang produktif,” ujar Suwono, Selasa (13/10/2026)
Harapan tersebut menjadi dasar bagi Rutan Situbondo untuk terus mengembangkan pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada masa pidana, tetapi juga pada kesiapan warga binaan ketika kembali menjalani kehidupan di luar rutan. Pendidikan diharapkan menjadi salah satu bekal untuk memperluas kesempatan mereka dalam kehidupan sosial maupun dunia kerja.
Di sisi lain, keterlibatan PKBM Rumpin Inddas menjadi bagian penting dalam membuka akses pendidikan bagi kelompok masyarakat yang menghadapi keterbatasan. Ketua PKBM Rumpin Inddas Situbondo, Indah Ayuli Nurti saat dihubungi JATIMTIMES melalui sambungan telepon, mengatakan bahwa lembaganya berkomitmen mendukung pendidikan kesetaraan, termasuk melalui penguatan literasi dan numerasi dalam pembelajaran Paket B dan Paket C.
Indah menjelaskan, upaya tersebut juga sejalan dengan misi menekan angka anak tidak sekolah (ATS) di Kabupaten Situbondo. Menurutnya, akses pendidikan perlu menjangkau berbagai kelompok masyarakat, termasuk warga binaan yang secara fisik memiliki keterbatasan untuk mengikuti kegiatan belajar di luar rutan.
“Kami hanya ingin menurunkan ATS di Situbondo. Salah satunya dengan kegiatan yang diselenggarakan di rutan ini. Setidaknya, walaupun mereka tidak memiliki kebebasan jasmani, mereka memiliki kemerdekaan untuk bisa mendapatkan hak yang sama dalam belajar,” ungkap Indah.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa pendidikan tidak semestinya berhenti karena kondisi seseorang. Meski berada di balik jeruji besi, warga binaan tetap memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, menambah pengetahuan, dan memperbaiki kualitas hidup melalui proses belajar.
Kerja sama antara Rutan Situbondo dan PKBM RUMPIN INDDAS saat ini masih berada pada tahun pertama. Kedua pihak telah menjalin nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan jangka waktu empat tahun. Durasi kerja sama tersebut diharapkan menjadi landasan untuk menjaga kesinambungan program pendidikan bagi warga binaan.
Tentu, pelaksanaan pendidikan di dalam rutan memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya berkaitan dengan mekanisme ujian kesetaraan yang saat ini menggunakan sistem daring atau online. Kondisi warga binaan yang tidak dapat leluasa keluar dari rutan membuat pelaksanaan ujian membutuhkan persiapan dan penyesuaian teknis.
Indah mengatakan, pihaknya tengah mempertimbangkan sejumlah opsi agar warga binaan tetap bisa mengikuti ujian. Salah satunya dengan membawa laptop dan perangkat pendukung ke dalam rutan. Alternatif lainnya adalah memadukan ujian tertulis dengan ujian daring sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku.
“Untuk sekarang kan ujiannya online. Nanti jika diijinkan, bisa kita siasati dengan membawa laptop ke rutan, atau sebagian ujian tertulis dan sebagian lagi online,” jelasnya.
Menurut Indah, mendatangkan perangkat ujian ke rutan menjadi pilihan yang perlu dipertimbangkan karena mobilisasi warga binaan ke luar membutuhkan prosedur khusus. Dengan penyesuaian tersebut, proses pendidikan diharapkan dapat berjalan tanpa mengabaikan ketentuan keamanan dan tata tertib rutan.
“Karena untuk mobilisasi mereka keluar prosedurnya mungkin sangat sulit, jadi mungkin nanti kita yang datang ke rutan dengan membawa peralatan yang memadai,” imbuhnya.
Bagi Rutan Situbondo dan PKBM Rumpin Inddas, keberhasilan program ini bukan hanya tentang terselenggaranya kegiatan pembelajaran. Lebih jauh, pendidikan diharapkan benar-benar memberi manfaat bagi warga binaan, baik dalam meningkatkan kemampuan dasar maupun membuka peluang untuk melanjutkan pendidikan setelah menyelesaikan masa pidana.
Pendidikan memang tidak serta-merta menghapus masa lalu seseorang. Namun, melalui kesempatan belajar, warga binaan memiliki ruang untuk menyiapkan langkah berikutnya. Ijazah, pengetahuan, serta keterampilan yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk membangun kehidupan yang lebih produktif dan kembali berkontribusi di tengah masyarakat.
Di balik tembok Rutan Situbondo, proses pembinaan melalui pendidikan kesetaraan itu menjadi pengingat bahwa kesempatan memperbaiki diri tidak semestinya berhenti pada batas-batas ruang. Sebab, ketika kebebasan fisik belum sepenuhnya dimiliki, kesempatan untuk belajar tetap dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.
Baca Juga: 1.085 Hotspot Terdeteksi di Sumatra Kalimantan, 3 Wilayah Ini Alami Udara Berbahaya
Baca Juga: Survei CELIOS: 75 Persen Responden Mengaku Tertekan oleh Kebijakan Pemerintah