JATIMTIMES - Menjelang Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur pada 12 Oktober 2026, ada banyak hal menarik yang bisa ditelusuri dari provinsi yang berada di ujung timur Pulau Jawa ini. Bukan hanya sejarah terbentuknya pemerintahan, Jawa Timur juga menyimpan kisah panjang di balik nama daerah yang selama ini akrab di telinga masyarakat.
Surabaya, Banyuwangi, Malang, hingga Kediri memiliki latar belakang sejarah dan kebudayaan yang berbeda. Sebagian nama daerah berkaitan dengan catatan masa kerajaan, sementara lainnya dikenal melalui cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kisah-kisah tersebut menjadi bagian dari identitas lokal yang memperkaya sejarah Jawa Timur.
Mengutip buku Riwayat Hari Jadi Provinsi Jawa Timur yang diterbitkan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur serta sejumlah sumber resmi pemerintah daerah, perjalanan Jawa Timur tidak bisa dilepaskan dari perkembangan kerajaan, perubahan pemerintahan, dan kebudayaan masyarakatnya. Menelusuri asal-usul nama daerah pun menjadi salah satu cara untuk mengenal kekayaan sejarah provinsi ini menjelang hari jadinya.
Lantas, bagaimana kisah di balik nama sejumlah daerah di Jawa Timur?
1. Surabaya, Kota Pahlawan dengan Jejak Sejarah Kerajaan
Surabaya dikenal sebagai ibu kota Jawa Timur sekaligus Kota Pahlawan. Namun, jauh sebelum identik dengan peristiwa pertempuran 10 November 1945, Surabaya telah memiliki catatan sejarah sejak masa kerajaan.
Nama Surabaya kerap dikaitkan dengan kata sura yang berarti ikan hiu dan baya yang berarti buaya. Kedua hewan tersebut menjadi simbol yang dikenal luas melalui legenda pertarungan hiu dan buaya. Ada pula penafsiran yang menghubungkan nama Surabaya dengan keberanian menghadapi bahaya.
Dari sisi sejarah tertulis, nama yang merujuk pada Surabaya tercatat dalam Prasasti Canggu atau Prasasti Trowulan I bertahun 1358 Masehi, pada masa Kerajaan Majapahit. Catatan ini menunjukkan bahwa Surabaya telah dikenal sejak berabad-abad silam.
Seiring perjalanan waktu, Surabaya berkembang menjadi pusat perdagangan dan pemerintahan. Kota ini kemudian memiliki peran penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, terutama melalui pertempuran pada November 1945.
Hubungan Surabaya dengan sejarah Jawa Timur semakin kuat karena kota ini menjadi ibu kota provinsi. Berdasarkan catatan sejarah Pemerintah Provinsi Jawa Timur, pada 12 Oktober 1945, R.M.T.A. Soerjo mulai menjalankan pemerintahan provinsi di Surabaya setelah sebelumnya menyelesaikan tugas di Bojonegoro.
2. Banyuwangi, Nama yang Melekat dengan Legenda Sri Tanjung
Bergeser ke ujung timur Pulau Jawa, Banyuwangi memiliki cerita yang tidak kalah menarik. Nama daerah ini kerap diartikan sebagai gabungan kata banyu, yang berarti air, dan wangi, yang berarti harum.
Dalam cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, nama Banyuwangi dikaitkan dengan legenda Sri Tanjung. Kisah tersebut menceritakan seorang perempuan yang difitnah oleh suaminya sendiri. Untuk membuktikan kesuciannya, Sri Tanjung dikisahkan menjalani ujian yang kemudian membuat kebenaran terungkap melalui air yang beraroma harum.
Cerita ini menjadi bagian dari kekayaan tradisi lisan masyarakat Banyuwangi. Meski populer, legenda Sri Tanjung sebaiknya dipahami sebagai cerita budaya, bukan satu-satunya bukti sejarah mengenai asal-usul nama wilayah tersebut.
Selain legenda, Banyuwangi memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan Kerajaan Blambangan. Salah satu peristiwa penting dalam sejarah daerah ini adalah Perang Puputan Bayu pada 1771, yang menjadi salah satu dasar penetapan hari jadi Banyuwangi.
Kisah Banyuwangi memperlihatkan bahwa identitas daerah tidak hanya terbentuk dari perkembangan administrasi pemerintahan, tetapi juga dari cerita rakyat dan warisan budaya yang terus hidup di tengah masyarakat.
3. Malang, Wilayah yang Menyimpan Jejak Kerajaan Kuno
Malang menjadi salah satu wilayah di Jawa Timur yang dikenal memiliki peninggalan sejarah dari masa Hindu-Buddha. Kawasan ini berkaitan dengan perkembangan Kerajaan Kanjuruhan dan Singasari yang pernah memiliki peran penting dalam sejarah Nusantara.
Kerajaan Kanjuruhan diketahui melalui Prasasti Dinoyo yang bertahun 760 Masehi. Sementara itu, Tumapel menjadi pusat kekuasaan yang kemudian berkembang menjadi Kerajaan Singasari pada masa Ken Arok.
Jejak kerajaan tersebut memperlihatkan bahwa kawasan Malang telah menjadi bagian penting dari perkembangan politik dan kebudayaan Jawa Timur sejak berabad-abad lalu.
Meski demikian, sejarah kerajaan di Malang perlu dibedakan dari asal-usul nama Malang itu sendiri. Penjelasan mengenai nama Malang memiliki sejumlah versi yang berkembang, sehingga perlu ditelusuri melalui sumber sejarah lokal agar tidak mencampurkan legenda dengan fakta yang terdokumentasi.
Dalam momentum Hari Jadi Jawa Timur ke-81, sejarah Malang menjadi pengingat bahwa wilayah provinsi ini memiliki warisan masa lampau yang jauh lebih panjang daripada usia pemerintahan provinsi yang diperingati setiap 12 Oktober.
4. Kediri, Nama yang Dekat dengan Sejarah Kerajaan Kadiri
Kediri juga memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah Jawa Timur. Wilayah ini berkaitan dengan Kerajaan Kadiri atau Kediri, salah satu kerajaan besar pada masa Hindu-Buddha yang berkembang sekitar abad ke-11 hingga ke-13.
Pada masa tersebut, perkembangan sastra menjadi salah satu bagian penting kebudayaan kerajaan. Salah satu karya yang terkenal adalah Kakawin Bharatayuddha, yang ditulis oleh Mpu Sedah dan diselesaikan oleh Mpu Panuluh pada masa pemerintahan Raja Jayabaya pada abad ke-12.
Warisan sejarah itu menjadikan Kediri dikenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki keterkaitan kuat dengan perkembangan sastra Jawa kuno.
Namun, hubungan nama Kediri dengan kerajaan tersebut tidak serta-merta menjelaskan seluruh asal-usul katanya. Penamaan wilayah perlu ditelusuri melalui sumber sejarah yang relevan, sementara keberadaan Kerajaan Kadiri merupakan bagian dari sejarah yang dapat dikaji melalui prasasti dan karya sastra.
Kediri menjadi contoh bagaimana nama suatu daerah dapat membawa masyarakat pada penelusuran sejarah yang lebih luas, mulai dari perkembangan pemerintahan hingga warisan kebudayaan.
5. Madiun, Daerah dengan Perjalanan Sejarah Panjang
Madiun merupakan salah satu wilayah di Jawa Timur yang memiliki perjalanan sejarah panjang. Perkembangannya tidak terlepas dari perubahan kekuasaan dan sistem pemerintahan sejak masa kerajaan hingga pemerintahan kolonial.
Pada masa Hindia Belanda, Madiun menjadi salah satu wilayah keresidenan. Pembagian administratif tersebut merupakan bagian dari sistem pemerintahan kolonial yang kemudian mengalami perubahan setelah Indonesia merdeka.
Sementara itu, asal-usul nama Madiun memiliki sejumlah penjelasan yang berkembang dalam tradisi lokal. Untuk memastikan versi yang paling kuat secara historis, diperlukan penelusuran terhadap arsip, dokumen sejarah, dan sumber resmi pemerintah daerah.
Meski asal katanya perlu dikaji lebih lanjut, perjalanan sejarah Madiun tetap menjadi bagian dari gambaran besar perkembangan Jawa Timur. Setiap daerah memiliki pengalaman sejarah yang berbeda, tetapi seluruhnya ikut membentuk karakter provinsi hingga saat ini.
6. Hari Jadi Jawa Timur, Momentum Mengenali Sejarah Daerah
Peringatan Hari Jadi Provinsi Jawa Timur setiap 12 Oktober bukan sekadar agenda tahunan. Tanggal tersebut memiliki dasar sejarah yang berkaitan dengan perjalanan awal pemerintahan provinsi setelah Indonesia merdeka.
Mengutip laman resmi Bakorwil Bojonegoro, R.M.T.A. Soerjo yang ditunjuk sebagai Gubernur Jawa Timur pertama dilantik pada 5 September 1945. Setelah menyelesaikan tugasnya di Bojonegoro, ia kemudian pindah ke Surabaya pada 12 Oktober 1945. Peristiwa tersebut menjadi penanda mulai berjalannya mekanisme pemerintahan Provinsi Jawa Timur dari ibu kota provinsi.
Tanggal 12 Oktober 1945 kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Provinsi Jawa Timur melalui Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 6 Tahun 2007.
Pada 2026, Jawa Timur memperingati hari jadinya yang ke-81. Momentum ini dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengenal kembali sejarah daerah masing-masing, termasuk kisah di balik nama kabupaten dan kota yang menjadi bagian dari provinsi ini.
Surabaya memiliki catatan sejarah sejak masa Majapahit, Banyuwangi dikenal dengan legenda Sri Tanjung dan sejarah Blambangan, sedangkan Malang serta Kediri menyimpan jejak kerajaan kuno. Madiun pun memiliki perjalanan panjang dalam perkembangan pemerintahan dan administrasi wilayah.
Berbagai kisah tersebut menunjukkan bahwa Jawa Timur tidak dibentuk oleh satu kota atau satu peristiwa saja. Identitas provinsi ini tumbuh dari sejarah, kebudayaan, dan perjalanan masyarakat di berbagai daerah.
Menjelang Hari Jadi Jawa Timur ke-81, mengenali asal-usul nama daerah menjadi salah satu cara sederhana untuk merawat ingatan sejarah sekaligus memahami kekayaan identitas lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Baca Juga: Hari Jadi ke-81 Jawa Timur, Mengapa Surabaya Dijuluki Kota Pahlawan dan Jadi Ibu Kota Provinsi?
Baca Juga: Sejarah Hari Jadi Jawa Timur 12 Oktober, Berawal dari Perjalanan Panjang Pemerintahan