JATIMTIMES
⚡ AMP
Versi Web

Sering Menunda Alarm Berkali-kali? Ini yang Bisa Terjadi pada Tubuh dan Kualitas Tidur

Reporter: Mutmainah J • Editor: Sri Kurnia Mahiruni
📅 9 Oktober 2026, 08:47 WIB • ⏱️ 4 menit baca

JATIMTIMES - Menekan tombol snooze atau menunda alarm beberapa menit menjadi kebiasaan banyak orang saat bangun pagi. Alih-alih langsung beranjak dari tempat tidur, mereka memilih tidur kembali hingga alarm berbunyi untuk kedua, ketiga, bahkan beberapa kali berikutnya.

Kebiasaan ini kerap dianggap sebagai cara mendapatkan tambahan waktu istirahat. Namun, tidur kembali dalam jeda singkat setelah terbangun belum tentu membuat tubuh lebih segar. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan menunda alarm dapat memengaruhi proses bangun tidur, meskipun dampaknya berbeda pada setiap orang.

Salah satu kondisi yang bisa terjadi saat seseorang terbangun adalah sleep inertia, yaitu keadaan ketika otak belum sepenuhnya beralih dari tidur menuju kondisi terjaga. Pada fase ini, seseorang mungkin masih merasa mengantuk, sulit berkonsentrasi, atau membutuhkan waktu untuk kembali beraktivitas secara normal.

Penelitian Keiko Ogawa, Emi Kaizuma-Ueyama, dan Mitsuo Hayashi yang diterbitkan dalam Journal of Physiological Anthropology pada 2022 mengkaji pengaruh penggunaan alarm tunda terhadap kondisi tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan alarm berulang berpotensi memperpanjang sleep inertia. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan jika kebiasaan menunda alarm dilakukan terus-menerus.

1. Rasa kantuk bisa bertahan lebih lama

Alarm yang berbunyi berulang kali membuat seseorang mengalami proses terbangun secara berkali-kali. Kondisi ini berpotensi membuat tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa benar-benar segar setelah bangun pagi.

2. Konsentrasi belum optimal

Rasa kantuk setelah bangun dapat memengaruhi kewaspadaan dan kemampuan merespons sesuatu. Penelitian Ogawa dan rekan-rekannya menemukan indikasi bahwa penggunaan alarm tunda dapat memengaruhi performa pada tugas respons sederhana.

Karena itu, seseorang mungkin merasa belum siap menjalani aktivitas yang membutuhkan konsentrasi sesaat setelah bangun tidur.

3. Tidur menjadi terputus-putus

Tidur kembali selama beberapa menit setelah alarm berbunyi tidak selalu memberikan istirahat yang berkualitas. Bunyi alarm yang berulang dapat memecah periode tidur menjelang waktu bangun.

Penelitian pada 2022 tersebut menemukan peningkatan durasi terjaga dan tidur ringan pada periode menjelang bangun ketika alarm tunda digunakan. Meski demikian, pengaruhnya terhadap kualitas tidur secara keseluruhan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

4. Bisa menjadi tanda kurang tidur

Jika hampir setiap pagi seseorang kesulitan bangun tanpa menunda alarm berkali-kali, kebiasaan ini bisa menjadi petunjuk bahwa waktu tidur malam belum mencukupi.

Jadwal tidur yang tidak teratur dan durasi tidur yang terlalu singkat dapat membuat tubuh masih membutuhkan istirahat ketika alarm berbunyi. Namun, kebiasaan menunda alarm tidak otomatis membuktikan seseorang mengalami kekurangan tidur.

Apakah Menunda Alarm Selalu Berdampak Buruk?

Tidak selalu. Penelitian Tina Sundelin dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam Journal of Sleep Research pada 2024 menunjukkan bahwa dampak menunda alarm tidak sesederhana anggapan bahwa kebiasaan tersebut selalu merusak kualitas tidur.

Dalam penelitian itu, penggunaan alarm tunda selama sekitar 30 menit pada orang yang terbiasa melakukannya tidak menunjukkan gangguan yang jelas pada sejumlah indikator tidur, suasana hati, dan respons tubuh. Bahkan, performa pada beberapa tes kognitif setelah bangun tidak lebih buruk dibandingkan ketika peserta langsung terbangun.

Meski demikian, penggunaan alarm tunda juga mengurangi waktu tidur sekitar enam menit dalam pengujian tersebut. Hasil ini menunjukkan bahwa dampaknya dapat berbeda bergantung pada kebiasaan tidur dan kondisi masing-masing orang.

Artinya, menunda alarm sesekali tidak serta-merta berbahaya. Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah kebiasaan tersebut membuat seseorang terus mengantuk, sulit bangun, atau mengalami gangguan saat menjalani aktivitas sehari-hari.

Cara Mengurangi Kebiasaan Menunda Alarm

Agar lebih mudah bangun pagi, beberapa kebiasaan berikut bisa dicoba:

• Tidur dengan durasi cukup. Orang dewasa umumnya membutuhkan tidur sekitar 7–9 jam setiap malam.

• Jaga jadwal tidur tetap teratur. Usahakan tidur dan bangun pada waktu yang relatif sama setiap hari.

• Letakkan alarm agak jauh dari tempat tidur. Cara ini mendorong tubuh untuk bangun dan bergerak ketika alarm berbunyi.

• Dapatkan cahaya alami pada pagi hari. Membuka tirai setelah bangun dapat membantu tubuh menyesuaikan ritme tidur dan terjaga.

Jika rasa kantuk berlebihan dan kesulitan bangun terus terjadi meskipun waktu tidur sudah cukup, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Pada akhirnya, kualitas tidur tidak hanya ditentukan oleh kebiasaan menunda alarm. Durasi tidur yang cukup, jadwal istirahat yang konsisten, dan kondisi tubuh secara keseluruhan tetap menjadi faktor penting agar bangun pagi terasa lebih segar.

Baca Juga: Jumat 9 Oktober 2026, 6 Zodiak Ini Punya Peluang Menarik: Libra hingga Pisces

Baca Juga: Kalender Jawa Weton Jumat Wage 9 Oktober 2026: Hindari Bepergian Dulu

Topik Terkait
# alarm# bangun tidur# tidur# bangun pagi

Ingin Pengalaman Baca Interaktif?

Nikmati fitur komentar, video liputan, indeks kurs & cuaca terkini di portal web utama.

Buka Versi Lengkap