JATIMTIMES
⚡ AMP
Versi Web

Penenun Gedog Tuban Didominasi Usia Lanjut, Hany DPRD Jatim Tekankan Pentingnya Regenerasi

Reporter: Muhammad Choirul Anwar • Editor: A Yahya
📅 8 Oktober 2026, 17:03 WIB • ⏱️ 3 menit baca

JATIMTIMES – Di tengah tingginya potensi pasar ekspor dan namanya yang makin tersohor, tenun gedog khas Tuban kini menghadapi tantangan terkait keberlanjutan produksinya, mengingat mayoritas perajin pemintal dan penenun tradisional telah memasuki usia lanjut.

Lambatnya laju regenerasi perajin di tengah dominasi kelompok usia lanjut menjadi persoalan serius yang dapat mengancam kelestarian warisan budaya warisan leluhur tersebut.

Isu strategis ini turut dibedah dalam diskusi podcast NGODE (Ngobrol Bareng Dewan) di kanal YouTube JTNTV, menghadirkan Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur (Jatim) Aulia Hany Mustikasari, serta Kepala Bidang Pemasaran dan Kelembagaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jatim Ali Afandi.

Dalam kesempatan itu, Anggota Komisi B DPRD Jatim, Aulia Hany Mustikasari, menekankan bahwa program pelatihan bagi penenun muda tidak dapat dilakukan secara instan. Menurutnya, pelatihan yang efektif membutuhkan durasi yang memadai, pendampingan intensif, serta fasilitasi alat yang nyata agar ilmu yang didapat tidak menguap.

"Bukan hanya dikasih pelatihan saja. Tapi nanti mereka kembali lagi, dikasih alatnya. Menenun itu kan harus learning by doing, enggak bisa cuma sekali aja, karena kalau sekali aja mungkin belum rapi," tegas Mbak Hany, sapaan akrabnya, dalam podcast yang tayang di kanal YouTube JTNTV milik JatimTIMES, Kamis (8/10/2026).

Mbak Hany mencontohkan, Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Disnakerin) Kabupaten Tuban pernah memfasilitasi pelatihan menenun dengan durasi sekitar sebulan bagi kelompok muda. Model pelatihan berdurasi panjang dan berbasis praktik langsung ini dinilainya sangat efektif untuk memastikan peserta benar-benar terampil dan menguasai teknik menenun secara rapi.

Legislator dari Dapil XII Tuban-Bojonegoro ini menjelaskan, pola pendampingan berkelanjutan dari daerah tersebut menginspirasi Komisi B DPRD Jatim untuk mendorong skema serupa di tingkat provinsi. Menurutnya, rapat kerja antara dewan dan dinas terkait merupakan ruang krusial untuk menyerap kendala lapangan dan mengonversinya menjadi kebijakan prioritas.

"Fungsinya kita rapat kerja kan untuk ini, ada masalah-masalah di daerah kami yang bisa kita diskusikan untuk dijadikan program-program yang lebih tepat sasaran," jelas legislator Fraksi Partai Golkar itu.

Lebih lanjut, Mbak Hany menegaskan pentingnya kolaborasi dengan subsektor ekonomi kreatif untuk menciptakan ruang perkenalan yang alami bagi anak-anak muda. Bagi Gen Z, minat terhadap warisan budaya tidak bisa dipaksakan tanpa diberi kesempatan untuk merasakan langsung pengalaman pembuatannya.

"Mengenalkan ke teman-teman muda untuk merasakan langsung biar tahu. Itu kan memang harus berkenalan dulu, enggak bisa tiba-tiba dipaksa dan muncul dengan sendirinya kalau enggak mencoba," urainya.

Menanggapi pandangan legislatif, Kepala Bidang Pemasaran dan Kelembagaan Pariwisata dan Ekraf Disbudpar Jatim, Ali Afandi, memaparkan bahwa lambatnya regenerasi juga dipicu oleh minimnya penghargaan (appreciation) publik terhadap rumit dan lamanya proses pengerjaan selembar kain tenun.

Ali menilai, jika sebuah karya dihargai secara layak di pasaran, generasi muda secara alami akan tertarik untuk mengolah dan meneruskan potensi tersebut. Untuk itu, Disbudpar Jatim mendorong penguatan narasi (storytelling) dengan membekali generasi muda keterampilan pembuatan konten digital dan dokumenter.

"Storytelling-nya harus diperkuat agar penghargaan publik itu muncul, bahwa ketika membeli dengan harga sekian, itu layak karena prosesnya sangat luar biasa," jelas Ali.

Lewat visualisasi proses pemintalan hingga penenunan di media sosial, Ali optimistis nilai ekonomi produk akan naik dan profesi penenun kembali dipandang istimewa oleh anak muda.

"Kita ada pelatihan fotografi dan video content creator untuk menceritakan prosesnya yang tidak mudah. Ketika itu digaungkan, anak-anak generasi muda akan melihat bahwa menjadi bagian dari ini adalah sesuatu yang spesial," tegas Ali.

Ia menambahkan, tenun gedog merupakan bagian dari wastra nasional berharga yang harus dijaga keberlangsungannya agar ciri khas budaya lokal Jatim ini tidak tergerus zaman atau diklaim oleh pihak lain.

Baca Juga: Penertiban Pasar Kebalen Berulang, DPRD Dorong Relokasi PKL

Baca Juga: Sembilan Posisi Eselon II Kosong, Jadwal Mutasi Jabatan Pemkot Batu Berpotensi Mundur Lagi

Topik Terkait
# tuban# tenun gedog# aulia hany mustikasari# ngode# ngobrol bareng dewan

Ingin Pengalaman Baca Interaktif?

Nikmati fitur komentar, video liputan, indeks kurs & cuaca terkini di portal web utama.

Buka Versi Lengkap