JATIMTIMES - Ketika anak mulai merantau untuk kuliah, bekerja, atau mengejar pengalaman baru, kehidupan keluarga tentu ikut berubah. Rumah yang sebelumnya ramai dengan kehadiran anak bisa terasa lebih sepi. Komunikasi yang dahulu terjadi secara spontan pun kini harus dilakukan dari jarak jauh.
Meski begitu, tinggal berjauhan bukan berarti hubungan orang tua dan anak harus ikut menjauh. Di tengah perkembangan teknologi, orang tua tetap bisa hadir dalam keseharian anak meskipun tidak dapat bertemu secara langsung. Justru, perhatian sederhana dan komunikasi yang dilakukan secara konsisten dapat membantu menjaga hubungan tetap hangat.
Lantas, bagaimana cara orang tua tetap dekat dengan anak yang sedang merantau? Dilansir dari berbagai sumber, berikut beberapa hal yang bisa dilakukan.
1. Tak perlu menunggu sampai ada obrolan panjang
Menjaga hubungan dengan anak yang merantau tidak selalu membutuhkan waktu khusus untuk menelepon atau melakukan video call selama berjam-jam.
Melansir Journal of Social and Personal Relationships, teknologi dapat menjadi salah satu sarana penting untuk mempertahankan rasa kedekatan dalam hubungan, termasuk melalui komunikasi yang dilakukan sehari-hari.
Karena itu, orang tua tidak perlu menunggu sampai memiliki banyak waktu untuk menghubungi anak. Pesan singkat, mengirim foto, membagikan meme, mengucapkan selamat pagi, atau sekadar menceritakan kejadian kecil di rumah bisa menjadi bentuk perhatian.
Hal-hal sederhana tersebut dapat membuat anak tetap merasa dilibatkan dalam kehidupan keluarga, begitu pula sebaliknya.
2. Jangan selalu membicarakan kuliah atau pekerjaan
Pertanyaan seperti "Bagaimana kuliahnya?" atau "Pekerjaan sudah selesai?" memang menunjukkan perhatian. Namun, jika hampir setiap percakapan hanya berisi pertanyaan serupa, komunikasi lama-kelamaan bisa terasa seperti kewajiban untuk memberikan laporan kepada orang tua.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Emerging Adulthood menunjukkan bahwa dukungan yang dirasakan, keterbukaan anak, nasihat dari orang tua, serta pembicaraan mengenai pertemanan berkaitan dengan perasaan yang lebih positif terhadap hubungan antara orang tua dan anak pada hari berikutnya.
Karena itu, sesekali cobalah membawa percakapan ke hal yang lebih dekat dengan kehidupan pribadi anak. Orang tua bisa bertanya mengenai teman-temannya, aktivitas yang sedang disukai, pengalaman menarik yang baru dialami, atau sesuatu yang sedang memenuhi pikirannya.
Dengan begitu, komunikasi tidak hanya membahas kewajiban anak, tetapi juga menjadi ruang untuk berbagi kehidupan.
3. Jadikan komunikasi sebagai percakapan dua arah
Saat anak masih tinggal di rumah, orang tua mungkin terbiasa mengetahui banyak hal tanpa harus bertanya. Mulai dari apakah anak sudah makan, sedang sibuk, hingga kapan pulang.
Ketika anak merantau, kebiasaan tersebut tentu berubah. Orang tua mungkin menjadi lebih sering bertanya karena ingin memastikan anak baik-baik saja.
Perhatian tersebut tetap penting, tetapi komunikasi sebaiknya tidak hanya menjadi rangkaian pertanyaan dari orang tua kepada anak. Berikan kesempatan kepada anak untuk bercerita dan pastikan orang tua juga mau mendengarkan.
Dalam hubungan jarak jauh, pola komunikasi dapat berubah. Percakapan yang dahulu berlangsung secara spontan bisa menjadi lebih terencana. Pembicaraan yang awalnya hanya berkaitan dengan tugas atau kegiatan sehari-hari juga dapat berkembang menjadi percakapan yang lebih personal.
Karena itu, orang tua tidak harus selalu memberikan nasihat setiap kali anak bercerita. Ada kalanya anak hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan tanpa langsung memberikan solusi.
4. Temukan pola komunikasi yang cocok untuk keduanya
Setiap keluarga memiliki kebiasaan komunikasi yang berbeda. Ada orang tua dan anak yang merasa nyaman melakukan panggilan telepon setiap malam. Namun, ada pula yang lebih cocok bertukar pesan beberapa kali dalam sehari.
Pesan teks bisa menjadi pilihan ketika ingin tetap berkomunikasi tanpa mengganggu kesibukan masing-masing. Sementara itu, video call memungkinkan orang tua dan anak melihat ekspresi serta mendengar intonasi secara langsung sehingga percakapan bisa terasa lebih dekat.
Tidak ada aturan bahwa komunikasi harus dilakukan setiap hari atau pada jam tertentu. Yang lebih penting adalah menemukan ritme yang tidak membuat salah satu pihak merasa terbebani.
Kualitas dan kenyamanan komunikasi jauh lebih penting daripada sekadar menghitung seberapa sering orang tua dan anak saling menghubungi.
5. Tetap beri anak ruang untuk menjalani kehidupannya
Merantau sering kali menjadi salah satu fase penting ketika anak mulai belajar menjadi lebih mandiri. Mereka harus mengambil keputusan sendiri, beradaptasi dengan lingkungan baru, bertemu orang-orang berbeda, sekaligus belajar menghadapi konsekuensi dari pilihannya.
Orang tua tentu tetap perlu menunjukkan perhatian. Namun, perhatian tidak harus diwujudkan dengan terus meminta kabar, mengawasi setiap aktivitas, atau ikut menentukan seluruh keputusan anak.
Anak juga membutuhkan kesempatan untuk bertemu teman, mencoba pengalaman baru, menyelesaikan masalah sendiri, dan belajar dari apa yang dialaminya.
Jarak bahkan bisa menjadi kesempatan bagi orang tua dan anak untuk membangun hubungan yang lebih dewasa. Hubungan tidak lagi hanya berpusat pada aturan dan kewajiban, tetapi bisa berkembang menjadi hubungan antara dua orang yang saling berbagi cerita, bertukar pendapat, dan memberikan dukungan.
Pada akhirnya, kedekatan dengan anak yang sedang merantau tidak ditentukan oleh seberapa sering bertemu atau berapa lama melakukan panggilan telepon. Kehadiran orang tua justru dapat terasa melalui perhatian-perhatian kecil yang dilakukan secara konsisten.
Meski terpisah jarak dan tidak lagi tinggal di bawah atap yang sama, hubungan orang tua dan anak tetap dapat hangat selama keduanya memiliki ruang untuk berkomunikasi, saling mendengarkan, dan menghargai kehidupan masing-masing.
Baca Juga: Kalender Jawa Weton Rabu Pahing 7 Oktober 2026: Rawan Sakit Saat Bepergian
Baca Juga: 6 Zodiak yang Diprediksi Punya Hari Menarik pada 7 Oktober 2026, Ada Peluang Baru Menanti