JATIMTIMES - Usai mendapat tudingan melakukan tindakan pungutan liar atau pungli kepada wali murid oleh sejumlah pihak, Komite sekolah akhirnya memberikan klarifikasi dan menjelaskan rentetan kronologinya.
Ketua Komite SMPN 1 Bululawang Sunarko Prahwono menegaskan, bahwa pihak Komite SMPN 1 Bululawang tidak pernah melakukan pungli terhadap wali murid. Menurutnya, seluruh program yang dilakukan telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
"Jadi awalnya kita menerima proposal dari sekolah tentang program sekolahan yang pembiayaannya tidak bisa dicover oleh dana BOSP (Bantuan Operasional Satuan Pendidikan)," ujar Sunarko kepada JatimTIMES.com.
Kemudian pihaknya bersama jajaran Komite SMPN 1 Bululawang dan para wali murid melakukan rapat untuk membahas proposal yang telah diajukan oleh pihak sekolah. Di mana dalam rapat tersebut dibahas mengenai setiap poin kebutuhan program SMPN 1 Bululawang yang tidak dapat dicover atau ditanggung oleh BOSP.
Sehingga, pihaknya melakukan pengumpulan biaya dengan menggunakan skema Peran Serta Masyarakat (PSM). Mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah, pihaknya telah berupaya melakukan pengumpulan dana dengan beberapa cara. Mulai dari menggali dari Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan hingga orang kaya yang peduli pendidikan di sekitar SMPN 1 Bululawang.
"Kita sudah menggali CSR dari perusahaan di sekitar wilayah Bululawang, tetapi CSR nya tidak ada sama sekali. Kita sudah gali dari orang kaya yang peduli pendidikan dan Alhamdulillaah hasilnya juga tidak ada," jelas Sunarko.
Sehingga cara terakhir yang digunakan yakni dengan melakukan pengumpulan dana dari pasa wali murid dan bersifat sukarela atau berbentuk sumbangan. Terlebih lagi, banyak kegiatan para murid, pembangunan hingga perawatan rutin fasilitas sekolah yang tidak bisa ditanggung oleh dana BOSP.
Pihaknya juga membeberkan, alokasi dana yang nantinya terkumpul akan digunakan untuk membangun kamar mandi khusus perempuan. Pasalnya selama ini kamar mandi murid di SMPN 1 Bululawang tidak terpisah antara murid laki-laki dan perempuan. Sehingga memunculkan ketidaknyamanan dan rasa khawatir dari pada wali murid.
Kemudian, dana yang nantinya terkumpul juga akan digunakan untuk pelebaran ruas jalan akses masuk ke SMPN 1 Bululawang untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan para wali murid yang mengantarkan atau menjemput murid. "Terlebih lagi di ruas jalan depan SMPN 1 Bululawang ini kan termasuk ramai kendaraan, sehingga perlu adanya pelebaran ruas jalan akses masuk ke sekolah supaya yang mengantar atau menjemput menjadi aman," jelas Sunarko.
Selain itu, nantinya dana yang terkumpul juga akan digunakan untuk perawatan rutin fasilitas sekolah serta kebutuhan sekolah lainnya yang selama ini tidak dapat ditanggung melalui dana BOSP. Berdasarkan berbagai macam kebutuhan tersebut, pihak Komite SMPN 1 Bululawang melakukan rapat dengan para wali murid.
"Dalam rapat tersebut kita beberkan semua kebutuhan yang tidak bisa ditanggung oleh dana BOSP. Kemudian kita tawarkan bagi para wali murid yang ingin menyumbang dipersilahkan menyumbang semampunya dan tidak ditetapkan dengan besaran nominal tertentu, utamanya bagi murid yang anak yatim dan tidak mampu dibebaskan dari segala bentuk sumbangan," jelas Sunarko.
Pihaknya juga menyebut, dari tahun-tahun sebelumnya, Komite SMPN 1 Bululawang telah menggunakan skema yang sama dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Namun, baru kali ini muncul tudingan Komite SMPN 1 Bululawang melakukan tindakan pungli.
"Tahun-tahun sebelumnya kami juga menggunakan skema seperti ini dan tidak ada paksaan terhadap wali murid. Kita juga sudah banyak memberikan pembebasan terhadap wali murid agar tidak perlu menyumbang dan pada intinya kita tidak pernah memaksa para wali murid untuk menyumbang," tegas Sunarko.
Sementara itu, salah satu wali murid SMPN 1 Bululawang Wardah Nuril Inayah mengatakan, tidak pernah ada paksaan maupun kewajiban dari Komite SMPN 1 Bululawang untuk memberikan sejumlah uang.
"Kami tidak pernah dipaksa oleh komite maupun sekolah untuk menyerahkan uang dengan nominal yang telah ditentukan. Malahan banyak wali murid yang dibebaskan untuk tidak perlu ikut menyumbang," tutur Inayah.
Pihaknya pun mengaku bersyukur dengan adanya pengumpulan dana yang dilakukan oleh Komite SMPN 1 Bululawang, aktivitas belajar dan mengajar di SMPN 1 Bululawang semakin nyaman. Terlebih lagi, dirinya mengaku memiliki anak yang mengikuti ekstrakulikuler dan kegiatan di dalam ekstrakulikuler tersebut sangat terbantu dengan adanya bantuan dana yang dikumpulkan oleh Komite SMPN 1 Bululawang.
"Alhamdulillaah ya dengan adanya sumbangan dana ini fasilitas sekolah semakin menunjang, termasuk kegiatan ekstrakurikuler anak saya di bidang olahraga semakin terfasilitasi," tutur Inayah.
Baca Juga: 2.000 Perempuan Kompak Bergerak, GOW Fit-Fest 2026 Tegaskan Pentingnya Ibu Sehat dan Bahagia
Baca Juga: Jelang Hari Jadi ke-81 Jawa Timur, Gubernur Khofifah Ziarah ke Makam Bung Karno di Blitar