JATIMTIMES
⚡ AMP
Versi Web

Nalar, Ilmu, dan Kepemimpinan Jadi Tiga Bekal yang Dibedah LKP2M dalam Diklat Pra 28

Reporter: Anggara Sudiongko • Editor: Sri Kurnia Mahiruni
📅 4 Oktober 2026, 20:12 WIB • ⏱️ 4 menit baca

JATIMTIMES - Penguatan nalar, pemahaman terhadap ilmu, dan kapasitas kepemimpinan menjadi persoalan utama yang dibawa Lembaga Kajian, Penelitian, dan Pengembangan Mahasiswa (LKP2M) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang dalam Diklat Pra 28 Tahun 2026. Tiga aspek tersebut menjadi materi utama pada hari pertama kegiatan yang diikuti 90 peserta di Auditorium Gedung D UIN Maliki Malang beberapa waktu lalu.

Pembina LKP2M, Agung Prasetiyo, M.Pd., menempatkan proses belajar sebagai bagian penting dalam pengembangan kapasitas mahasiswa. Menurutnya, kemampuan dan pengalaman yang diperoleh dalam proses pendidikan membutuhkan ketekunan untuk dapat memberikan hasil dalam jangka panjang.

“Tekunlah belajar, kalian yang menanam hari ini, akan memanen di masa yang akan datang,” ujar Agung.

Penekanan tersebut sejalan dengan materi yang diberikan pada hari pertama Diklat Pra 28. Peserta tidak hanya diarahkan pada penguasaan materi, tetapi juga pada persoalan mendasar mengenai bagaimana mahasiswa membangun cara berpikir, memahami pengetahuan, dan menggunakan kemampuannya ketika berhadapan dengan persoalan organisasi.

Penguatan nalar menjadi salah satu kebutuhan penting dalam kehidupan akademik maupun organisasi. Mahasiswa berhadapan dengan berbagai gagasan dan pendapat yang tidak selalu memiliki dasar argumentasi yang kuat. 

"Karena itu, kemampuan berpikir secara runtut dan rasional menjadi bagian penting sebelum seseorang mengambil kesimpulan atau menentukan sikap," katanya.

Persoalan tersebut dibahas melalui materi Logika Berpikir yang disampaikan Abd Rahman Ambo’ Dalle, S.Pd. Peserta diajak memahami pola berpikir yang runtut dan rasional, termasuk mengenali logical fallacy serta membangun argumentasi secara kritis.

Pembahasan mengenai logical fallacy menjadi bagian dari upaya memahami bahwa kesalahan dalam berpikir dapat memengaruhi kualitas sebuah argumentasi. Sebuah pendapat tidak cukup hanya disampaikan dengan keyakinan, tetapi perlu ditopang alasan yang tepat dan proses penalaran yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dari kemampuan membangun penalaran, persoalan kemudian bergeser pada bagaimana mahasiswa memahami ilmu. Materi Filsafat Ilmu yang disampaikan Ghulam Nurul Wildan, S.Pd., M.Pd., membahas hakikat kebenaran dan pengetahuan melalui perspektif epistemologi.

Ilmu tidak hanya dipahami sebagai kumpulan pengetahuan yang diperoleh melalui proses pendidikan. Peserta diajak melihat ilmu sebagai proses pencarian kebenaran yang juga memiliki dimensi etika dan harus diarahkan pada kebermanfaatan.

Pemahaman tersebut menempatkan pengetahuan dalam konteks yang lebih luas. Mahasiswa tidak hanya dituntut mengetahui suatu hal, tetapi juga memahami bagaimana pengetahuan tersebut diperoleh dan bagaimana penggunaannya dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, persoalan kepemimpinan menjadi bagian lain yang melengkapi dua aspek tersebut. Materi Leadership yang disampaikan Mahmuri, S.H., membahas manajemen kepemimpinan, komunikasi strategis, hingga pengambilan keputusan dalam organisasi.

Kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk memimpin orang lain. Di dalamnya terdapat proses membaca situasi, membangun komunikasi, serta menentukan keputusan ketika menghadapi dinamika organisasi.

Karena itu, kemampuan bernalar dan pemahaman terhadap ilmu memiliki keterkaitan dengan kepemimpinan. Keputusan yang diambil dalam organisasi membutuhkan pertimbangan, sementara pertimbangan tersebut membutuhkan kemampuan membaca persoalan dan memahami informasi yang tersedia.

Tiga materi tersebut sekaligus memperlihatkan tiga tahapan kemampuan yang saling berhubungan. Logika berpikir memberikan dasar bagi mahasiswa untuk menyusun dan menguji argumentasi. Filsafat ilmu memperluas pemahaman mengenai pengetahuan dan kebenaran. Leadership kemudian membawa kemampuan tersebut ke dalam konteks pengambilan keputusan dan dinamika organisasi.

Rangkaian pembelajaran pada hari pertama berlangsung melalui diskusi dan tanya jawab. Peserta diberikan ruang untuk menyampaikan pertanyaan, pendapat, serta tanggapan terhadap materi yang disampaikan para narasumber.

Interaksi tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran karena peserta tidak hanya menerima materi secara konseptual. Pembahasan juga memberi ruang bagi peserta untuk menguji pemahaman melalui pertanyaan dan tanggapan selama sesi berlangsung.

Diklat Pra 28 Tahun 2026 menjadi ruang awal bagi 90 peserta untuk mempertemukan tiga kebutuhan tersebut dalam proses pengembangan kapasitas mahasiswa. Penguatan nalar, pemahaman ilmu, dan kepemimpinan ditempatkan sebagai kemampuan yang saling melengkapi dalam menghadapi persoalan akademik maupun organisasi.

Melalui hari pertama Diklat Pra 28, LKP2M membawa perhatian peserta pada persoalan yang lebih mendasar daripada sekadar penguasaan materi. Mahasiswa didorong untuk memperkuat cara berpikir, memahami ilmu secara lebih kritis, serta membangun kapasitas kepemimpinan yang dapat digunakan dalam menghadapi dinamika organisasi.

Baca Juga: MTsN 1 Kota Malang Perkuat Infrastruktur Pendidikan, Ruang Guru Jadi Bagian Pembenahan Berkelanjutan

Baca Juga: MIN 2 Kota Malang Susun Evaluasi Diri Madrasah, Kepala Kemenag Ingatkan Jadi Pedoman

Topik Terkait
# UIN Malang# UIN Maliki Malang# UIN Maulana Malik Ibrahim

Ingin Pengalaman Baca Interaktif?

Nikmati fitur komentar, video liputan, indeks kurs & cuaca terkini di portal web utama.

Buka Versi Lengkap