JATIMTIMES
⚡ AMP
Versi Web

1 Oktober di Kanjuruhan, Malam Itu Langit Seakan Kehilangan Birunya

Reporter: Hendra Saputra • Editor: Nurlayla Ratri
📅 1 Oktober 2026, 11:18 WIB • ⏱️ 6 menit baca

JATIMTIMES - Hari ini, Kamis, 1 Oktober 2026, tepat empat tahun tragedi Kanjuruhan. Empat tahun sejak Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, menjadi saksi salah satu peristiwa paling kelam dalam perjalanan sepak bola Indonesia.

Sebanyak 135 orang kehilangan nyawa dalam tragedi yang terjadi seusai pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya pada 1 Oktober 2022. Empat tahun berlalu, tetapi bagi keluarga korban, Aremania, masyarakat Malang Raya, hingga mereka yang berada langsung di lokasi malam itu, peristiwa tersebut tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu.

Hari ini, ingatan itu kembali hadir.

Bukan hanya melalui nama-nama korban yang terpatri di monumen, foto dan dokumentasi tragedi, tetapi juga melalui cerita orang-orang yang menyaksikan sendiri bagaimana sebuah pertandingan sepak bola berubah menjadi kepanikan massal.

Salah satunya adalah jurnalis JatimTIMES yang malam itu berada di Stadion Kanjuruhan untuk menjalankan tugas jurnalistik.

Dari Jalanan yang Dipenuhi Warna Biru

Jika mengingat kembali 1 Oktober 2022, atmosfer pertandingan sebenarnya sudah terasa sejak pagi.

Arema FC akan menghadapi Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan. Laga besar itu membuat jalan menuju Kepanjen dipenuhi kendaraan Aremania.

Memasuki siang hingga sore, warna biru semakin mendominasi jalan raya.

Dari Kecamatan Pakisaji hingga Kepanjen, Aremania dengan atribut lengkap bergerak menuju Stadion Kanjuruhan. Aparat keamanan dari kepolisian dan TNI juga terlihat berjaga di sejumlah titik.

Wajah para suporter yang datang membawa harapan masih jelas dalam ingatan.

Mereka datang untuk mendukung tim kesayangan. Mereka datang dengan keyakinan Arema FC mampu mengamankan tiga poin di kandang sendiri.

Di dalam stadion, suara nyanyian dan teriakan dukungan menggema.

Sekitar 45 ribu penonton memenuhi stadion.

Tidak ada yang membayangkan bahwa beberapa jam kemudian suasana tersebut akan berubah menjadi tangisan.

Ketika Kekalahan Menjadi Awal Malam Panjang

Pertandingan akhirnya berakhir dengan skor 2-3 untuk kemenangan Persebaya.

Arema FC sempat tertinggal dua gol melalui Silvio Junior dan Leo Lelis. Abel Camara kemudian menyamakan kedudukan melalui dua golnya.

Namun, Sho Yamamoto kembali membawa Persebaya unggul pada menit ke-51.

Peluit panjang berbunyi.

Pertandingan selesai.

Tetapi malam panjang di Kanjuruhan justru baru dimulai.

Sejumlah suporter turun ke lapangan. Situasi kemudian berkembang menjadi kericuhan dan aparat keamanan menggunakan gas air mata.

Asap menyebar ke sejumlah area stadion.

Orang-orang berusaha mencari jalan keluar.

Pintu keluar menjadi tujuan ribuan penonton yang panik.

Dalam situasi tersebut, korban berjatuhan.

Tragedi Kanjuruhan akhirnya menewaskan 135 orang dan menyebabkan ratusan lainnya mengalami luka-luka.

Jurnalis yang Keluar untuk Meliput, Tetapi Justru Terjebak dalam Tragedi

Jurnalis JatimTIMES yang berada di lokasi malam itu awalnya hendak menjalankan tugas seperti biasa.

Setelah pertandingan, keputusan diambil untuk keluar dari stadion guna mengikuti konferensi pers.

Namun, perjalanan menuju media center tidak berjalan normal.

Bagian belakang tribun sudah dipenuhi orang.

Suasana crowded. Banyak Aremania terlihat ketakutan.

Keputusan kemudian diambil untuk keluar dari kawasan stadion.

Di luar stadion, aparat keamanan masih terlihat berjaga di sekitar kendaraan taktis yang digunakan untuk membawa pemain Persebaya.

Namun suara letupan kembali terdengar.

Gas air mata tidak hanya terasa di dalam stadion.

Aremania berlarian menjauh.

Sebagian masuk ke warung untuk berlindung. Sebagian lainnya terus berlari tanpa tahu harus menuju ke mana.

Jurnalis JatimTIMES pun ikut berlindung di sebuah warung.

Di dalamnya, ada anak-anak dan perempuan yang menangis ketakutan.

Ada pula yang muntah karena tidak tahan dengan kondisi saat itu.

Lebih dari satu jam berada di tempat persembunyian, kondisi kemudian dirasakan sedikit lebih baik.

Jurnalis tersebut akhirnya keluar.

Namun, pemandangan di luar justru jauh dari kata normal.

Tangisan.

Teriakan.

Suara klakson.

Semuanya bercampur menjadi satu.

Di sekitar lokasi, terlihat kendaraan polisi yang terbakar dan terbalik.

Tidak ada yang berani mendekat.

Saat Seorang Jurnalis Tak Lagi Hanya Menulis Berita

Dengan jaket yang digunakan untuk melindungi kepala, langkah diarahkan kembali menuju depan Stadion Kanjuruhan.

Semakin mendekati pintu masuk stadion, suara tangisan semakin terdengar.

Awalnya, orang-orang yang tergeletak dikira hanya pingsan.

Tetapi dugaan itu seketika runtuh.

Ketika membantu mengangkat seorang Aremania, terdengar suara,

“Laillaha illallah.. Laillaha illallah.”

Orang yang digotong ternyata sudah tidak bernyawa.

Jurnalis JatimTIMES tersebut kemudian ikut membantu membawa korban menuju lorong Stadion Kanjuruhan. Wajah korban ditutup menggunakan kaus berwarna biru.

Di lorong stadion, pemandangan yang lebih memilukan sudah menunggu.

Jenazah berjajar.

Air mata tidak lagi bisa ditahan.

Rasa takut, gemetar, kaget dan shock bercampur menjadi satu.

Stadion yang beberapa jam sebelumnya dipenuhi nyanyian Aremania berubah menjadi tempat bersemayamnya para korban.

Di tengah situasi tersebut, sejumlah pemain asing Arema FC, termasuk Renshi Yamaguchi dan Abel Camara, juga terlihat ikut mengangkat jenazah Aremania.

Malam itu, tugas jurnalistik dan sisi kemanusiaan bertemu dalam situasi yang tidak pernah dibayangkan.

Datang untuk meliput pertandingan.

Tetapi akhirnya ikut membantu mengangkat korban.

Ketika Hari Berganti, Tragedi Belum Berakhir

Sekitar pukul 03.00 WIB, Minggu, 2 Oktober 2022, jurnalis tersebut memutuskan meninggalkan lokasi.

Namun tugas belum selesai.

Informasi mengenai konferensi pers Kapolda Jawa Timur saat itu, Irjen Pol Nico Afinta, membuatnya kembali menuju Mapolres Malang di Kepanjen.

Suasana di sekitar Mapolres Malang juga masih mencekam.

Penjagaan TNI dan Polri diperketat. Sejumlah kendaraan taktis terparkir di halaman.

Konferensi pers akhirnya digelar.

Pada saat itu, tragedi Kanjuruhan telah menyebar menjadi pemberitaan nasional dan internasional.

Sekitar pukul 08.00 WIB, perjalanan pulang kembali dilakukan.

Namun pagi itu justru menghadirkan pemandangan yang semakin menyesakkan.

Ambulans terlihat lalu-lalang di sejumlah rumah sakit di kawasan Kepanjen.

Air mata kembali tak terbendung.

Sebab malam sebelumnya bukan sekadar sebuah pertandingan yang berakhir dengan kekalahan.

Ada keluarga yang kehilangan ayah.

Ada orang tua yang kehilangan anak.

Ada anak yang kehilangan orang tuanya.

Ada sahabat yang tidak pernah lagi menerima pesan dari orang yang malam itu berangkat bersama mereka ke stadion.

Empat Tahun Kemudian, Nama Mereka Tetap Disebut

Kini empat tahun sudah berlalu.

Hari ini, masyarakat kembali memperingati tragedi tersebut.

Informasi yang diterima media ini, warga dan Aremania dari berbagai daerah akan mendatangi Stadion Kanjuruhan. Sejumlah titik seperti Gate 13, monumen dan patung singa kembali menjadi tempat masyarakat mengenang para korban.

Rencananya juga akan ada “Doa Untukmu Nawak” di halaman Stadion Kanjuruhan.

Hari ini bukan sekadar tentang mengingat sebuah tanggal.

Ini tentang mengingat manusia.

Tentang 135 nama.

Tentang keluarga yang ditinggalkan.

Tentang mereka yang selamat tetapi membawa luka dan trauma.

Dan tentang mereka yang malam itu berada di Stadion Kanjuruhan, menyaksikan sendiri bagaimana atmosfer sepak bola berubah menjadi tragedi.

Bagi jurnalis JatimTIMES yang berada di lokasi, empat tahun tidak cukup untuk membuat semua ingatan itu hilang.

Sebab ada suara yang masih terngiang.

Ada tangisan yang masih terbayang.

Ada wajah-wajah yang tidak pernah terlupakan.

Dan ada satu malam yang sampai hari ini masih terasa panjang.

1 Oktober 2022 telah berlalu. Tetapi setiap kali 1 Oktober kembali datang, Kanjuruhan kembali mengingatkan bahwa 135 orang pernah datang untuk menonton sepak bola, lalu tidak pernah kembali ke rumah.

Baca Juga: Ambulans Berisi Jenazah Korban KM Virgo Kecelakaan di Jombang

Baca Juga: Satpol PP Segel Toko Mihol di Wonokromo, Jual Eceran dan Berada Dekat Pemukiman

Ingin Pengalaman Baca Interaktif?

Nikmati fitur komentar, video liputan, indeks kurs & cuaca terkini di portal web utama.

Buka Versi Lengkap