JATIMTIMES - Ada orang yang baru mencari charger ketika baterai HP sudah hampir habis. Namun, ada pula yang langsung mengisi daya meski indikator baterai masih menunjukkan 50 persen, 60 persen, bahkan lebih.
Bagi sebagian orang, kebiasaan tersebut hanya dianggap sebagai cara untuk memastikan HP selalu siap digunakan. Tetapi jika dilakukan terus-menerus karena merasa gelisah melihat baterai berkurang, kebiasaan ini bisa berkaitan dengan kebutuhan akan rasa aman dan kekhawatiran kehilangan akses terhadap ponsel.
Lantas, seperti apa ciri orang yang selalu charge HP meski baterai masih banyak?
Dilansir dari Simply Psychology, kecemasan yang berhubungan dengan penggunaan ponsel dapat terlihat melalui beberapa perilaku, termasuk rasa panik ketika baterai lemah, sulit berada jauh dari layar serta kebiasaan mengecek ponsel secara berulang.
Dari pola tersebut, ada beberapa karakter yang mungkin terlihat pada orang yang selalu memastikan baterai HP tetap tinggi.
8 Ciri Orang yang Sering Charge HP Meski Baterai Masih Banyak
1. Merasa tenang saat baterai penuh
Bagi sebagian orang, melihat baterai berada di angka tinggi memberikan rasa aman. Mereka merasa lebih siap menghadapi situasi tidak terduga karena HP tidak akan mudah mati.
Itulah sebabnya charger bisa langsung dicari meskipun baterai sebenarnya masih cukup untuk digunakan selama beberapa jam.
2. Suka segala sesuatu dalam kondisi siap
Kebiasaan mengecas lebih awal juga dapat berkaitan dengan kecenderungan menyukai keteraturan dan persiapan.
Baterai yang mulai turun mungkin dianggap sebagai sesuatu yang harus segera dibereskan. Dengan mengisi daya, kondisi HP kembali dianggap "siap" digunakan kapan saja.
3. Mudah khawatir ketika baterai menurun
Ada orang yang merasa tidak nyaman hanya karena melihat angka baterai terus berkurang.
Kondisi tersebut sering disebut low battery anxiety, yakni rasa cemas ketika daya HP mulai menipis. Mengisi daya kemudian menjadi cara untuk mengurangi rasa khawatir tersebut.
4. Selalu memikirkan kemungkinan terburuk
"Bagaimana kalau nanti butuh HP?" Pertanyaan semacam itu bisa membuat seseorang memilih mengisi daya lebih awal. Mereka ingin mengantisipasi kemungkinan HP mati ketika sedang bepergian, bekerja atau berada di tempat yang sulit menemukan sumber listrik.
Tak heran jika kebiasaan tersebut terkadang disertai dengan membawa powerbank dan kabel cadangan.
5. Takut tidak bisa dihubungi
HP telah menjadi alat komunikasi penting. Panggilan keluarga, pekerjaan, pesan hingga informasi darurat semuanya dapat masuk melalui perangkat tersebut.
Karena itu, sebagian orang merasa perlu memastikan HP selalu aktif. Baterai yang mulai rendah dapat menimbulkan kekhawatiran akan kehilangan komunikasi.
6. Ingin semuanya sempurna sebelum beraktivitas
Baterai 100 persen bisa menjadi bagian dari persiapan sebelum menjalani aktivitas.
Sebelum keluar rumah misalnya, mereka mungkin memastikan bukan hanya dompet dan kunci yang sudah dibawa, tetapi juga baterai HP harus penuh.
Kecenderungan seperti ini dapat berjalan bersama kebutuhan untuk memastikan berbagai hal berada dalam kondisi ideal.
7. Sering mengecek persentase baterai
Ciri lainnya adalah terlalu sering melihat indikator baterai. Bahkan ketika tidak ada kebutuhan untuk mengecas, mata bisa secara otomatis memeriksa apakah baterai masih 80 persen, 70 persen atau sudah turun lebih rendah.
Ketika angka tersebut turun, muncul dorongan untuk segera mencari colokan.
8. Sulit merasa nyaman tanpa HP
Jika HP menjadi sumber hiburan, komunikasi sekaligus tempat mencari informasi, ketergantungan secara psikologis terhadap perangkat bisa semakin kuat.
Akibatnya, kondisi HP yang hampir kehabisan daya dapat menimbulkan rasa tidak nyaman. Mengisi baterai kemudian menjadi kebiasaan yang memberikan ketenangan sementara.
Apa Hubungannya dengan Nomophobia?
Kebiasaan selalu memastikan HP memiliki daya juga sering dikaitkan dengan nomophobia atau no mobile phone phobia.
Istilah tersebut menggambarkan rasa cemas atau tidak nyaman ketika seseorang tidak dapat mengakses ponselnya. Sementara low battery anxiety lebih berfokus pada kekhawatiran ketika daya baterai mulai menipis.
Namun, penting untuk membedakan kebiasaan sehari-hari dengan kondisi psikologis. Tidak semua orang yang mengecas HP meski baterainya masih banyak berarti mengalami nomophobia atau gangguan kecemasan.
Seseorang mungkin melakukannya karena alasan sederhana, seperti akan bepergian jauh, membutuhkan HP untuk bekerja atau memang terbiasa menjaga baterai tetap penuh.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika kekhawatiran tersebut mulai sulit dikendalikan dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Cara Mengurangi Kebiasaan Terlalu Sering Charge HP
Jika Anda merasa terlalu sering mengecek baterai atau langsung mencari charger ketika persentasenya turun sedikit, kebiasaan tersebut dapat dikurangi secara bertahap.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba antara lain:
• Tentukan waktu khusus untuk mengecas HP, misalnya pada malam hari.
• Jangan langsung mengecas hanya karena baterai turun beberapa persen.
• Kurangi kebiasaan mengecek indikator baterai berulang kali.
• Simpan powerbank sebagai cadangan, bukan sebagai alasan untuk terus memantau baterai.
• Luangkan waktu tanpa HP, mulai dari 15–30 menit setiap hari.
• Alihkan perhatian ketika muncul dorongan untuk terus mengecek baterai.
Jika rasa cemas karena baterai HP sampai mengganggu pekerjaan, tidur, aktivitas sosial atau hubungan dengan orang lain, berkonsultasi dengan psikolog dapat membantu mencari penyebab dan strategi yang sesuai.
Jadi, sering charge HP meski baterai masih banyak tidak otomatis menunjukkan masalah psikologis. Kebiasaan tersebut baru menjadi perhatian ketika pengisian daya dilakukan terutama untuk meredakan kecemasan dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Ramalan Zodiak 30 September 2026: 6 Zodiak Ini Ketiban Hoki di Hari Terakhir September
Baca Juga: Kalender Jawa Weton Rabu Kliwon 30 September 2026: Jangan Gampang Menyerah