JATIMTIMES - Persoalan utama dalam perencanaan madrasah bukan semata seberapa banyak data yang berhasil dikumpulkan, melainkan sejauh mana data tersebut mampu mengubah cara madrasah menentukan program. Titik itulah yang ditekankan Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang H. Achmad Shampton, S.Ag., M.Hi. saat membuka Evaluasi Diri Madrasah (EDM) dan Rencana Kerja Tahunan Madrasah (RKTM) MAN 2 Kota Malang, Sabtu (26/9/2026).
Gus Shampton, sapaan H. Achmad Shampton, meminta hasil evaluasi tidak berhenti sebagai dokumen administratif. Data harus digunakan untuk membaca posisi madrasah, menemukan persoalan, sekaligus menentukan intervensi yang benar-benar dibutuhkan.
Baca Juga : PHK Jawa Timur Capai 5.400 Orang, Masuk 3 Besar Nasional hingga Agustus 2026
“Data jangan hanya dikumpulkan dan disimpan. Data harus dibaca, dianalisis, dan dievaluasi untuk menentukan prioritas dan melahirkan aksi nyata,” ujar Gus Shampton dalam kegiatan yang berlangsung di Aula PSBB MAN 2 Kota Malang.
Menurutnya, keberadaan data menjadi penting karena dari sana madrasah dapat mengetahui posisi yang telah dicapai sekaligus menentukan arah perbaikan. Dengan pendekatan tersebut, program tidak disusun hanya berdasarkan kebiasaan atau perkiraan, tetapi berangkat dari kebutuhan yang terukur.
“Dari data kita mengetahui posisi kita dan menentukan langkah perbaikan,” lanjutnya.
Gus Shampton juga membawa pembahasan pada capaian prestasi madrasah. Menurut dia, prestasi tidak cukup ditempatkan sebagai hasil akhir yang kemudian diumumkan atau dirayakan. Di balik sebuah capaian terdapat proses yang perlu dibedah untuk mengetahui faktor yang membuatnya berhasil.
“Prestasi jangan hanya dirayakan, tetapi juga dipelajari. Apa yang membuat kita berhasil harus dipertahankan dan dikembangkan,” katanya.
Sebaliknya, capaian yang belum sesuai target harus ditempatkan sebagai bahan evaluasi. Pola tersebut membuat evaluasi tidak hanya mencari kekurangan, tetapi juga mengidentifikasi praktik yang sudah terbukti berhasil agar dapat dikembangkan.
“Sedangkan yang belum berhasil menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan. Madrasah harus terus belajar,” tegas Gus Shampton.
Persoalan perencanaan juga tidak berhenti pada program akademik. Gus Shampton mengingatkan madrasah mengenai kebutuhan menyiapkan keberlanjutan pembiayaan pendidikan di tengah dinamika regulasi pemerintah, termasuk kemungkinan kebijakan layanan pembelajaran gratis.
Ia menyebut wakaf tunai sebagai salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan sepanjang pengelolaannya berada dalam koridor regulasi.
“Madrasah perlu menyiapkan alternatif pembiayaan yang sesuai regulasi,” ujarnya.
Menurut Gus Shampton, wakaf tunai dapat menjadi salah satu ikhtiar mendukung keberlanjutan pendidikan dengan syarat pengelolaannya dilakukan secara profesional, transparan, dan akuntabel.
Kepala MAN 2 Kota Malang Dr. H. Samsudin, M.Pd. menempatkan EDM sebagai ruang untuk menguji kembali capaian madrasah sebelum menentukan program berikutnya. Evaluasi, menurutnya, harus mampu memperlihatkan bagian yang telah berjalan baik sekaligus menunjukkan titik yang masih membutuhkan pembenahan.
Baca Juga : 5 Rekomendasi Drakor Rating Tinggi untuk Akhir Pekan, Ada Flex x Cop 2 hingga Spooky in Love
“EDM harus menjadi cermin bagi madrasah untuk melihat apa yang sudah berhasil, apa yang belum maksimal, dan apa yang perlu diperbaiki,” kata Samsudin.
Hasil evaluasi tersebut kemudian menjadi pijakan penyusunan RKTM. Karena itu, program yang masuk dalam rencana kerja tidak cukup hanya memiliki bentuk kegiatan, tetapi harus memiliki alasan yang jelas, prioritas, ukuran capaian, serta dampak yang hendak dicapai.
“Kita ingin program yang berbasis data, memiliki prioritas yang jelas, terukur, dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan mutu layanan pendidikan,” ujarnya.
Dalam proses tersebut, Komite MAN 2 Kota Malang juga ditempatkan sebagai bagian dari perencanaan madrasah. Ketua Komite MAN 2 Kota Malang Prof. Dr. H. Agus Maimun, M.Pd. menyebut komite tidak semestinya hanya hadir ketika madrasah membutuhkan dukungan.
“Komite harus menjadi mitra strategis yang tidak hanya hadir ketika dibutuhkan, tetapi ikut berpikir, merencanakan, dan membangun masa depan madrasah,” ujar Agus Maimun.
Ia mendorong terbentuknya pola kerja komite yang lebih profesional melalui konsep smart committee. Menurutnya, keterlibatan komite harus ditopang perencanaan yang jelas serta tata kelola yang transparan.“Kita ingin mewujudkan smart committee yang profesional, transparan, dan memiliki perencanaan yang jelas,” katanya.
Agus Maimun juga menyampaikan orientasi Komite MAN 2 Kota Malang yang tidak hanya diarahkan pada penyelesaian program dalam satu periode. Dukungan terhadap madrasah, menurutnya, perlu diarahkan pada pengembangan yang berkelanjutan. “Cita-cita kita bukan hanya menyelesaikan program saat ini, tetapi menyiapkan masa depan,” ujarnya.
Rangkaian EDM-RKTM MAN 2 Kota Malang berlangsung September hingga Desember 2026. Kegiatan tersebut disampaikan Ketua P2M2 En Efendi, M.Pd., dengan melibatkan unsur pimpinan madrasah, 30 perwakilan guru dan tenaga kependidikan, serta Komite MAN 2 Kota Malang.