JATIMTIMES
⚡ AMP
Versi Web

Suhu Jatim Tembus 37,1 Derajat, Jember Terpanas Hari Ini: Berikut Penyebabnya

Reporter: Binti Nikmatur • Editor: Sri Kurnia Mahiruni
📅 25 September 2026, 18:04 WIB • ⏱️ 5 menit baca

JATIMTIMES - Cuaca panas terasa makin menyengat di sejumlah wilayah Jawa Timur. Suhu udara bahkan menembus 37 derajat Celsius pada Jumat (25/9/2026).

Informasi BMKG Juanda mencatat suhu tertinggi Jawa Timur hari ini mencapai 37,1 derajat Celsius. Angka tersebut terpantau di AWS Mayang, Jember.

Baca Juga : Nikmati Eksotisme dan Sensasi 'Gandrung On Train', Perjalanan Kereta Api ke Ketapang  Banyuwangi

Posisi berikutnya ditempati AWS Kediri dan Lamongan yang sama-sama mencatat suhu maksimum 36,6 derajat Celsius.

"Update per tanggal 25 September 2026 hari ini suhu tertinggi di Jawa Timur mencapai 37.1 °C di AWS Mayang Jember. Diikuti AWS Kediri dan Lamongan dengan suhu 36,6° C," tulis Info BMKG Juanda dalam keterangannya.

Lantas, mengapa udara Jawa Timur belakangan terasa begitu panas?

BMKG Juanda menjelaskan September hingga Oktober memang menjadi periode yang perlu diwaspadai karena suhu udara di Jawa Timur dapat mencapai nilai maksimum.

Data BMKG Jawa Timur menunjukkan wilayah tersebut masih berada pada periode puncak musim kemarau sekitar Agustus-September. Kondisi kemarau membuat cuaca cenderung lebih panas dan kering.

"September-October memang bulan-bulan yang terasa paling panas, paling sumuk sepanjang tahun karena pada bulan-bulan ini suhu udara biasanya mencapai nilai maksimumnya," jelas BMKG Juanda, dikutip Jumat (25/9/2026).

Untuk September 2026, suhu maksimum tertinggi sebelumnya tercatat di AWS Mayang Jember dengan 36,7 derajat Celsius. Suhu tersebut bahkan berpotensi meningkat pada Oktober. BMKG Juanda memperkirakan suhu maksimum bisa berada pada kisaran 36-38 derajat Celsius.

Faktor lain yang perlu mempengaruhi suhu maksimum panas adalah posisi semu Matahari. Pada 23 September 2026 kemarin, Matahari berada tepat di atas garis ekuator Bumi dalam fenomena yang dikenal sebagai equinox.

BMKG menjelaskan equinox tidak secara langsung menyebabkan suhu udara melonjak. Namun, fenomena ini menandai pergerakan posisi semu Matahari menuju belahan Bumi selatan.

Setelah equinox September, posisi Matahari secara bertahap bergerak ke arah selatan. Karena Jawa Timur berada di belahan Bumi selatan, posisi Matahari akan semakin tinggi bagi wilayah tersebut menjelang periode kulminasi utama.

"Yang meskipun tidak berdampak secara langsung, namun menandakan posisi matahari bergerak ke wilayah belahan bumi selatan," jelas BMKG Juanda.

Fenomena tersebut kemudian berkaitan dengan kulminasi utama, yang dikenal masyarakat sebagai hari tanpa bayangan. Pada saat kulminasi utama, Matahari berada tepat di posisi zenit bagi lokasi tertentu sehingga benda tegak dapat terlihat hampir tidak memiliki bayangan.

BMKG telah menjadwalkan fenomena hari tanpa bayangan di berbagai wilayah Indonesia pada periode setelah equinox September. Waktu terjadinya berbeda-beda bergantung pada koordinat masing-masing daerah.

Panas yang dirasakan warga Jawa Timur tahun ini juga berlangsung dalam kondisi iklim yang berbeda dari biasanya.

BMKG menyatakan El Niño berada pada kategori sangat kuat. Hasil pemantauan Dasarian II September menunjukkan indeks ENSO periode Juli-Agustus-September mencapai 2,63, yang masuk kategori El Niño sangat kuat.

BMKG juga memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia mengalami kemunduran. Kombinasi El Niño sangat kuat dan IOD positif berdampak terhadap berkurangnya curah hujan serta memperpanjang periode kering.

Baca Juga : Imbauan Salat Istisqa Tak Cukup, Fauzan Fuadi Tagih Langkah Konkret Pemprov Atasi Kekeringan

Kondisi atmosfer yang kering dan minim tutupan awan membuat pemanasan permukaan pada siang hari menjadi lebih intensif. BMKG juga menjelaskan bahwa suhu udara maksimum yang tinggi, ditambah kelembapan relatif rendah, dapat mempercepat penguapan dan meningkatkan risiko dehidrasi.

BMKG Juanda menjelaskan kondisi tersebut membuat hujan yang turun tidak cukup sering untuk meredakan kondisi kering di sejumlah wilayah.

"Ditambah tahun ini bisa jadi terasa lebih panas dari biasanya karena adanya fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat yang berdampak pada kemarau berkepanjangan di seluruh wilayah Indonesia," jelasnya.

Ada faktor lain yang membuat panas September terasa semakin menyengat bagi warga Jawa Timur.

Pada Juli-Agustus, sebagian wilayah Jawa Timur mengalami fenomena bediding. Suhu udara pada malam hingga pagi hari dapat terasa sangat dingin karena langit cerah dan kelembapan udara rendah yang menjadi karakter musim kemarau.

Ketika memasuki September, kondisi tersebut mulai berubah. Suhu siang meningkat, sementara sensasi dingin yang sebelumnya dirasakan pada malam dan pagi hari masih membekas dalam ingatan masyarakat.

"Dari sisi psikologis masyarakat, Jawa Timur khususnya, memasuki bulan September kita cenderung merasa sangat panas. Karena di bulan Juli Agustus sebelumnya kita merasakan fenomena bediding, di mana suhu udara justru terasa lebih dingin karena mencapai suhu terendahnya di puncak musim kemarau," jelas BMKG Juanda.

BMKG Juanda juga mengingatkan panas yang terjadi saat ini tidak bisa hanya dikaitkan dengan satu fenomena cuaca atau iklim. 

Perubahan iklim global turut berpengaruh terhadap kecenderungan kenaikan suhu dalam jangka panjang. Kenaikan tersebut tidak selalu berlangsung secara lurus dari tahun ke tahun karena dipengaruhi berbagai dinamika atmosfer dan laut.

"Perlu kalian ingat juga, sudah seringkali kami infokan bahwa kondisi cuaca saat ini merupakan manifestasi dari laju perubahan iklim," ujarnya.
"Sehingga dengan atau tanpa El Nino, secara global bumi kita memang akan terus mengalami tren kenaikan suhu. Meskipun garis kenaikannya cenderung fluktuatif dan tidak selalu linear," sambungnya.

Aktivitas manusia, termasuk perubahan tutupan lahan dan meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca, menjadi bagian dari faktor yang berkontribusi terhadap perubahan iklim global.

Dengan kondisi cuaca panas yang masih berlangsung, warga Jawa Timur diimbau untuk memperhatikan asupan cairan dan membatasi aktivitas berat di bawah paparan Matahari, terutama pada siang hari.

BMKG juga mengingatkan kondisi kering akibat kemarau dan El Niño sangat kuat masih perlu diwaspadai. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.

Topik Terkait
# Cuaca Panas# kemarau# musim kemarau# Jawa Timur# Suhu Jatim# Cuaca Jatim

Ingin Pengalaman Baca Interaktif?

Nikmati fitur komentar, video liputan, indeks kurs & cuaca terkini di portal web utama.

Buka Versi Lengkap