JATIMTIMES - Hampir setiap hari kita berhadapan dengan sesuatu yang serba cepat. Pesan ingin segera dibalas, pekerjaan harus segera selesai, informasi datang silih berganti, dan berbagai urusan seakan tidak memberi banyak ruang untuk berhenti sejenak. Kesibukan semacam ini perlahan dapat memengaruhi cara kita menjalani kehidupan, termasuk ketika berhadapan dengan kewajiban kepada Allah SWT.
Ibadah membutuhkan ketenangan dan kesungguhan. Salat, misalnya, tidak cukup dikerjakan sekadar untuk menggugurkan kewajiban. Ada bacaan yang perlu dihayati, gerakan yang perlu dilakukan dengan tertib, serta hati yang perlu diarahkan kepada Allah SWT. Begitu juga dengan ibadah lainnya, masing-masing memiliki tuntunan yang perlu dijalankan dengan baik.
Baca Juga : Kalender Jawa Weton Jumat Kliwon 25 September 2026: Jangan Bepergian Jauh
Khutbah Jumat kali ini membahas pentingnya menjaga kualitas ibadah di tengah kehidupan yang serba cepat. Kesibukan dan tuntutan zaman boleh membuat langkah kita lebih gesit, tetapi jangan sampai waktu untuk menghadap Allah SWT justru dijalani dengan tergesa-gesa.
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلَّهِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالطَّاعَةِ وَالْعِبَادَةِ، وَنَهَانَا عَنِ الْغَفْلَةِ وَالتَّفْرِيطِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
Ma’asyiral muslimin, jemaah Jumat rahimakumullah.
Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Swt. Atas limpahan rahmat dan nikmat-Nya, hingga pada hari yang penuh kemuliaan ini kita masih diberi kesempatan untuk berkumpul di rumah-Nya, menunaikan salat Jumat, serta mengharap ridha dan ampunan-Nya.
Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw., kepada keluarga, para sahabat, serta seluruh umatnya yang setia mengikuti ajaran beliau hingga akhir zaman.
Pada kesempatan yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada seluruh jemaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Ketakwaan kita wujudkan dengan menjalankan apa yang diperintahkan Allah dan meninggalkan segala sesuatu yang dilarang-Nya.
Jemaah Jumat yang dirahmati Allah,
Kita hidup pada zaman ketika segala sesuatu bergerak begitu cepat. Pagi hari kita berangkat bekerja. Waktu terasa singkat karena pekerjaan harus segera diselesaikan. Berita datang setiap saat. Pesan masuk tanpa mengenal waktu.
Di media sosial, kita melihat orang lain berlomba menunjukkan pencapaian dan kesuksesan.
Tanpa terasa, ritme kehidupan seperti itu juga terbawa ke dalam diri kita.
Makan ingin cepat. Bekerja harus segera selesai. Istirahat pun kadang tidak cukup. Bahkan dalam urusan ibadah, ada kalanya kita melakukannya dengan tergesa-gesa karena pikiran masih tertuju pada pekerjaan dan berbagai urusan dunia.
Padahal, hidup seorang Muslim tidak hanya berbicara tentang bagaimana memperoleh kehidupan dunia. Ada akhirat yang juga harus dipersiapkan.
Islam mengajarkan keseimbangan. Kita diperintahkan untuk bekerja, mencari nafkah, memenuhi kebutuhan keluarga, dan menjalani kehidupan dunia dengan baik. Namun, semua itu tidak boleh membuat kita kehilangan waktu dan perhatian untuk beribadah kepada Allah.
Allah Swt. memberikan pedoman yang sangat jelas dalam Al-Qur’an surat Al-Qashash ayat 77:
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
Artinya: “Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan dunia dan akhirat tidak perlu dipertentangkan. Dunia tetap harus kita jalani dengan sungguh-sungguh, sementara akhirat harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.
Kita bekerja karena ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Kita mencari nafkah untuk keluarga. Kita berusaha memperbaiki kehidupan. Semua itu dapat menjadi bagian dari amal kebaikan ketika dilakukan dengan cara yang halal dan disertai niat yang benar.
Namun, jangan sampai kesibukan mencari dunia membuat kita lupa kepada Allah. Jangan sampai karena mengejar target pekerjaan, salat ditunda.
Jangan sampai karena ingin mendapatkan keuntungan lebih banyak, waktu untuk keluarga dan ibadah terus dikorbankan.
Sebaliknya, jangan sampai pemahaman tentang ibadah membuat seseorang meninggalkan kewajiban mencari nafkah dan tanggung jawab terhadap keluarga.
Ma’asyiral muslimin, hafizhakumullah.
Imam At-Thabari dalam Tafsir Jami'ul Bayan 'an Ta'wili Ayil Qur'an, juz 19, hlm. 524, menjelaskan kandungan ayat tersebut sebagai tuntunan agar manusia menempatkan urusan dunia dan akhirat secara proporsional.
Allah memerintahkan manusia mengambil bagian dari kehidupan dunia, namun bagian tersebut hendaknya digunakan untuk mempersiapkan kehidupan akhirat. Jangan sampai seseorang mengejar dunia hingga kehilangan bekal untuk kehidupan setelah kematian.
Imam At-Thabari berkata:
وَلَا تَتْرُكْ نَصِيْبَكَ وَحَظَّكَ مِنَ الدُّنْيَا، أَنْ تَأْخُذَ فِيْهَا بِنَصِيْبِكَ مِنَ الْآخِرَةِ، فَتَعْمَلَ فِيْهِ بِمَا يُنَجِّيْكَ غَدًا مِنْ عِقَابِ اللهِ
Artinya: “Jangan engkau tinggalkan bagianmu dari dunia, (jangan pula) engkau gadaikannya dengan bagianmu dari akhirat. Maka engkau telah melakukan pekerjaan yang akan menyelamatkanmu esok hari dari siksa Allah.”
Pesan ini patut kita renungkan dalam kehidupan sehari-hari. Apa gunanya penghasilan bertambah jika waktu kita untuk bersujud kepada Allah semakin berkurang? Apa gunanya pekerjaan semakin tinggi jika hati semakin jauh dari Allah?
Baca Juga : KPK Gelar Rakor Tertutup Bersama Pemerintah dan DPRD Kabupaten Malang, Ada Apa?
Namun, di sisi lain, kita juga perlu bertanya, bagaimana mungkin seseorang berharap hidupnya berkah jika ia mengabaikan tanggung jawab untuk bekerja, menafkahi keluarga, dan memenuhi kebutuhan hidup dengan cara yang halal? Karena itu, yang dibutuhkan adalah keseimbangan.
Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Keseimbangan itu juga harus kita hadirkan dalam ibadah. Ibadah bukan pekerjaan yang dilakukan sekadar untuk menggugurkan kewajiban. Ada hati yang harus dihadirkan. Ada kesadaran bahwa ketika berdiri dalam salat, kita sedang menghadap Allah Swt.
Karena itu, jangan sampai salat kita dilakukan sekadar mengejar waktu. Gerakan dilakukan terburu-buru, bacaan dilafalkan tanpa penghayatan, sementara pikiran masih sibuk memikirkan pekerjaan, perdagangan, keluarga, dan berbagai urusan lainnya.
Allah Swt. berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 238:
حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ
Artinya: “Peliharalah semua salat (fardu) dan salat Wusṭā. Berdirilah karena Allah (dalam salat) dengan khusyuk.” (QS Al-Baqarah: 238).
Ayat tersebut mengingatkan kita untuk menjaga salat. Bukan sekadar mengerjakannya, tetapi juga memberikan perhatian yang layak kepada ibadah tersebut.
Ada waktunya kita bekerja. Ada waktunya kita beristirahat. Dan ada waktunya kita berhenti dari semua kesibukan untuk menghadap Allah.
Saat itulah hati perlu kita tenangkan.
Sebab, salah satu tanda keberhasilan seorang mukmin juga berkaitan dengan kekhusyukan dalam salat. Allah Swt. berfirman:
قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خٰشِعُوْنَ
Artinya: “Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS Al-Mu’minun: 1-2).
Ma’asyiral muslimin, hafizhakumullah.
Mungkin selama ini kita merasa tidak memiliki cukup waktu untuk beribadah. Padahal, bisa jadi persoalannya bukan semata-mata karena waktu yang sedikit. Kita hanya belum mampu menempatkan sesuatu sesuai dengan prioritasnya.
Delapan jam bekerja tidak seharusnya membuat kita kehilangan waktu untuk mengingat Allah. Kesibukan mencari nafkah tidak semestinya menjadi alasan untuk meninggalkan salat. Begitu juga kesibukan beribadah tidak boleh menjadi alasan untuk melupakan tanggung jawab terhadap keluarga dan pekerjaan.
Islam mengajarkan kita untuk menjalani keduanya dengan seimbang. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh seolah-olah pekerjaan itu adalah amanah yang harus ditunaikan.
Beribadahlah dengan khusyuk seolah-olah itulah kesempatan terakhir kita menghadap Allah. Jangan biarkan dunia mengambil seluruh perhatian kita hingga akhirat terlupakan. Namun, jangan pula meninggalkan dunia dan tanggung jawab yang telah Allah amanahkan kepada kita.
Semoga Allah Swt. menjadikan pekerjaan kita sebagai jalan memperoleh rezeki yang halal dan berkah. Semoga kesibukan dunia tidak menjauhkan kita dari ibadah. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk menjalankan kewajiban dunia sekaligus mempersiapkan bekal menuju akhirat.
Mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba Allah yang mampu menjalani kehidupan secara seimbang, bekerja dengan amanah, mencari nafkah dengan cara yang halal, serta beribadah dengan penuh kekhusyukan. Amin ya Rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَهَدَانَا إِلَى طَرِيقِهِ الْمُسْتَقِيمِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ.
فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ