JATIMTIMES
⚡ AMP
Versi Web

Daratan Baru 32,8 Hektare Muncul di Anak Krakatau, Ini Analisis Pakar

Reporter: Binti Nikmatur • Editor: A Yahya
📅 24 September 2026, 15:26 WIB ⏱️ 5 menit baca

JATIMTIMES - Kemunculan daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, membuat publik bertanya-tanya. Apakah daratan tersebut merupakan awal terbentuknya gunung api baru yang kerap disebut sebagai "cucu Krakatau"?

Pakar gempa dan tsunami sekaligus anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Daryono memberikan penjelasan mengenai fenomena tersebut. Menurutnya, daratan baru itu bukan gunung api independen.

Baca Juga : Unisba Blitar Perluas Panggung Akademik, dari Bumi Bung Karno Bangun Jejaring hingga Vietnam

"Faktanya, daratan ini bukanlah gunung api independen, melainkan akumulasi material vulkanik seperti abu, batuan, dan lava hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengendap di laut," kata Daryono melalui akun Instagram pribadinya, Kamis (24/9/2026).

Material vulkanik tersebut terus menumpuk seiring aktivitas Gunung Anak Krakatau. Endapan yang awalnya berada di bawah permukaan laut kemudian dapat menyembul hingga membentuk daratan.

"Proses penumpukan ini berlangsung bertahap seiring meningkatnya aktivitas gunung tersebut, hingga akhirnya endapan menyembul ke permukaan air," jelasnya.

Fenomena itu terjadi di kawasan antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung. Badan Geologi Kementerian ESDM sebelumnya mendeteksi adanya penambahan daratan seluas 32,8 hektare berdasarkan evaluasi citra satelit Sentinel.

"Badan Geologi menghitung penambahan luasan sebesar 32,8 ha," kata Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM S.S. Rita Susilawati dalam keterangan tertulis Badan Geologi.

Badan Geologi menyebut penambahan daratan tersebut berada di sektor barat laut hingga barat-barat daya tubuh Gunung Anak Krakatau. Material yang membentuknya diduga berasal dari endapan piroklastik dan aliran lava selama erupsi menerus pada 4-6 September 2026.

Citra Sentinel juga memperlihatkan dua gumuk kecil yang tampak seperti pulau di sebelah barat laut dan tenggara tubuh Gunung Anak Krakatau.

"Kemunculannya 'kedua pulau' tersebut diduga berkaitan dengan erupsi menerus selama sekitar 25 jam," ujar Rita.

Daryono menjelaskan kondisi geologi di sekitar Anak Krakatau ikut memengaruhi proses terbentuknya daratan tersebut.

"Terbentuknya daratan baru di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor geologis dan oseanografis," ujarnya.

Menurut Daryono, dasar laut di kawasan tersebut relatif dangkal. Kondisi itu membuat material vulkanik yang dimuntahkan saat erupsi lebih mudah menumpuk.

"Dasar laut di area kaldera purba sisa letusan 1883 tersebut tergolong dangkal, sehingga material erupsi lebih cepat menumpuk tinggi," katanya.

Selain kondisi dasar laut, arah lontaran material dan dinamika laut juga ikut berpengaruh. "Selain itu, lontaran piroklastik dan aliran lava selama erupsi memang dominan terlempar ke arah sektor tersebut," jelas Daryono.

Arus dan gelombang Selat Sunda kemudian dapat memindahkan material yang lebih ringan. Material tersebut bisa terbawa menuju area perairan yang lebih tenang sebelum akhirnya mengendap.

"Dinamika arus serta gelombang laut Selat Sunda juga berperan penting sebagai pemindah sedimentasi yang membawa material erosi ringan ke titik-titik perairan yang lebih tenang hingga mengendap secara permanen," ujarnya.

Badan Geologi juga memiliki interpretasi sementara mengenai proses tersebut. Rita menjelaskan magma encer yang keluar saat erupsi diduga mencapai permukaan melalui jalur bukaan yang memanjang dari barat laut ke tenggara.

Material erupsi kemudian membentuk daratan di lokasi lain yang terlihat sebagai dua gumuk seperti pulau.

Namun, Badan Geologi menegaskan analisis tersebut masih perlu dibuktikan melalui pemeriksaan langsung.

"Tapi sekali lagi ini masih dugaan, yang perlu dikonfirmasi melalui pengecekan lapangan. Badan Geologi akan mencocokkan citra satelit sebelum dan sesudah erupsi serta melakukan verifikasi lapangan," ucap Rita.

Kemunculan daratan tersebut belum berarti struktur yang terbentuk akan bertahan selamanya. Daryono mengatakan keberadaannya sangat bergantung pada aktivitas vulkanik dan kondisi laut.

Baca Juga : APBD Membengkak, Dewan Tak Ingin Anggaran Hanya Biayai Birokrasi: Harus Berdampak ke Publik

"Jika Gunung Anak Krakatau terus mengalami erupsi, pasokan material baru akan membuat daratan tersebut makin meluas," kata Daryono.

Struktur tersebut juga dapat menjadi lebih kuat apabila mendapatkan pasokan lava yang kemudian membeku menjadi batuan. "Ketahanannya akan makin kokoh apabila terlapisi lava cair yang membeku menjadi batuan keras," ujarnya.

Sebaliknya, kondisi berbeda bisa terjadi apabila aktivitas erupsi berhenti. "Jika erupsi terhenti, hantaman gelombang dan abrasi laut dapat mengikis endapan pasir yang belum padat hingga tenggelam kembali," kata Daryono.

Menurutnya, struktur yang masih muda tersebut juga dapat rusak akibat longsoran bawah laut atau erupsi eksplosif dalam skala besar. "Longsoran bawah laut atau erupsi eksplosif besar juga bisa menghancurkan struktur muda ini dalam waktu singkat," lanjutnya.
Belum Bisa Disebut Gunung Api Baru

Lantas, kapan sebuah daratan baru bisa dikategorikan sebagai gunung api yang berdiri sendiri?

Daryono menjelaskan ada sejumlah syarat geologis yang harus dipenuhi. Salah satunya adalah keberadaan saluran magma sendiri.

"Daratan tersebut harus memiliki saluran magma mandiri yang terhubung langsung ke dapur magma melalui rekahan baru, terpisah dari kawah induknya," jelas Daryono.

Syarat berikutnya adalah adanya aktivitas erupsi dari struktur tersebut. "Daratan itu wajib menghasilkan aktivitas erupsi magmatik sendiri dengan memuntahkan magma atau gas dari kawahnya, bukan sekadar menampung muntahan dari gunung tetangga," ujarnya.

Selain itu, harus ada tanda aktivitas geologi yang berpusat di bawah daratan tersebut. "Harus terdapat struktur geologis serta deformasi sendiri, yaitu adanya aktivitas gempa vulkanik lokal atau pembengkakan tanah yang terpusat tepat di bawah daratan baru tersebut," kata Daryono.

Karena itu, menurut Daryono, kemunculan daratan baru di sekitar Anak Krakatau saat ini belum dapat disebut sebagai kelahiran gunung api baru.

Badan Geologi meminta masyarakat tidak panik dan tetap mengikuti informasi resmi terkait perkembangan Gunung Anak Krakatau.

Saat ini status Gunung Anak Krakatau berada pada Level II atau Waspada. Masyarakat direkomendasikan tidak mendekati wilayah dalam radius 2 kilometer dari pusat erupsi.

Khusus dua gumuk yang terlihat di sekitar Gunung Anak Krakatau, Badan Geologi meminta masyarakat tidak mendekat dalam radius 1 kilometer.

Daryono juga mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menyimpulkan fenomena tersebut sebagai kemunculan gunung api baru.

"Menghadapi fenomena ini, masyarakat diimbau untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu spekulatif yang beredar di media sosial," ujarnya.

Menurut Daryono, informasi mengenai fenomena vulkanik sebaiknya merujuk pada lembaga yang berwenang.

"Langkah paling bijak yang perlu dilakukan adalah selalu menyaring informasi melalui sumber resmi yang berwenang, seperti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)," katanya.

Ia menambahkan, pemahaman terhadap proses geologi diperlukan agar masyarakat tetap tenang sekaligus mematuhi batas aman yang telah ditetapkan petugas.

Topik Terkait
# Anak gunung Krakatau# cucu gunung Krakatau# daryono

Ingin Pengalaman Baca Interaktif?

Nikmati fitur komentar, video liputan, indeks kurs & cuaca terkini di portal web utama.

Buka Versi Lengkap