JATIMTIMES - Kasus dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, terus bertambah. Korban yang menjalani perawatan kini diperkirakan mencapai sekitar 300 orang. Rentang usia korban juga cukup beragam.
Bupati Batang M Faiz Kurniawan menyebut ada bayi berusia 10 bulan hingga warga lanjut usia yang ikut terdampak. "Variatif. Ada yang 10 bulan, yang paling kecil, sampai dewasa dan bahkan mungkin usia senja juga sudah ada," kata Faiz, dikutip detikjateng, Kamis (24/9/2026).
Baca Juga : Distribusi Air Bersih Sasar Wilayah Sumberpucung, Sekitar 3 Ribu Jiwa Terdampak Kekeringan
Sebelumnya, jumlah korban tercatat 276 orang. Namun, pasien masih berdatangan ke sejumlah fasilitas kesehatan sehingga jumlahnya terus bergerak.
Kondisi tersebut membuat rumah sakit dan puskesmas di Batang berada dalam status siaga. Sebagian pasien bahkan harus mendapatkan perawatan di area lorong karena keterbatasan kamar.
Faiz memastikan kebutuhan obat bagi pasien tetap tersedia. Pemkab juga meminta tenaga kesehatan bersiaga untuk mengantisipasi adanya tambahan korban. "Insyaallah tadi saya pastikan tidak ada puskesmas yang nanti kekurangan obat untuk menangani pasien karena keracunan MBG ini," ujarnya.
Sejak Rabu (23/9/2026) malam, Dinas Kesehatan, rumah sakit, dan sejumlah puskesmas diminta menyiapkan tenaga kesehatan. Untuk sementara, seluruh perawat diminta standby.
"Sejak tadi malam saya sudah pastikan kepada Dinkes dan juga rumah sakit serta beberapa puskesmas, pastikan semua perawat standby. Khusus hari ini tidak ada shift-shift-an dulu, semuanya standby," jelasnya.
Tidak hanya siswa, ada orang tua yang turut menjadi korban dugaan keracunan MBG tersebut. Yakni Desi (34), warga Kecamatan Bawang. Ia dirawat bersama dua anaknya, Azam (5) dan Syifa (3), di RSUD Kalisari Batang.
Desi mengatakan keluhan tidak langsung muncul setelah makanan MBG disantap pada siang hari. Ia dan kedua anaknya mulai merasa tidak enak badan pada sore hari. "Makannya siang, mulai sore nggak enak perut," katanya.
Desi mengaku ikut menyantap makanan yang sebelumnya diberikan melalui program MBG untuk anaknya. Ia tidak memakan nasi, tetapi memakan telur yang tersisa.
"Dapat dari balita. Kebetulan saya enggak makan nasi, terus ada sisa telur, itu saya makan," ujarnya.
Menurut Desi, tidak ada hal mencurigakan dari makanan tersebut ketika dikonsumsi. "Enggak ada yang aneh," katanya.
Kecurigaan muncul setelah Desi mengetahui banyak warga mengalami keluhan serupa. Sejumlah puskesmas juga dipenuhi pasien. Ia kemudian mendapat informasi dari pihak sekolah agar anak yang mengalami pusing, muntah, atau diare segera dibawa ke fasilitas kesehatan.
Baca Juga : KPK Ingatkan Eksekutif-Legislatif Kota Malang, Pokir hingga Hibah Masuk Sorotan
"Di puskesmas-puskesmas ramai, terus kok gejalanya sama. Ada info dari sekolahannya, katanya kalau ada gejala pusing, muntah, diare, bawa ke puskesmas," ungkapnya.
Desi dan kedua anaknya mengalami sejumlah gejala, antara lain diare, muntah, pusing, dan demam.
Kasus dugaan keracunan tersebut terjadi setelah makanan MBG didistribusikan kepada penerima manfaat di Kecamatan Bawang. Makanan berasal dari satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Dapur tersebut melayani 11 titik penerima manfaat dengan total sekitar 2.700 orang. Titik penerimanya meliputi TK Al Ikhlas, SDN 3 Bawang, TK Pertiwi, MA Sunan Kalijaga, MTs Sunan Kalijaga, TK Kuncup Mekar, TP Ananda, Pos PAUD Anggrek Mas, TK Korotayun, RA Al Hidayah, dan MI Salafiyah Pasusukan.
Pada Rabu (23/9) malam, Wakil Bupati Batang Suyono menyebut jumlah korban saat itu mencapai 276 orang. Data tersebut masih terus diperbarui karena pasien baru berdatangan.
"Update jam 20.38 WIB, total 276 (orang) yang terdampak di Bawang. Jadi perkembangan nantinya kita tunggu, saat ini kita perhatian bersama," kata Suyono.
Pemkab Batang bersama Dinas Kesehatan masih melakukan pemantauan terhadap seluruh korban. Pemeriksaan terhadap makanan juga dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut.
Hingga Kamis pagi, Dinas Kesehatan Batang memastikan kondisi pasien yang dirawat mulai membaik. Di media sosial juga beredar isu adanya korban meninggal dunia, hal ini juga segera dibantah oleh Dinkes Batang.