JATIMTIMES
⚡ AMP
Versi Web

Rektor UIN Malang: Guru Besar Harus Berubah Menjadi Lentera Keilmuan di Era AI

Reporter: Anggara Sudiongko • Editor: Nurlayla Ratri
📅 23 September 2026, 19:24 WIB ⏱️ 4 menit baca

JATIMTIMES - Gelar guru besar tidak semestinya hanya mengubah status akademik seorang dosen. Setelah menyandang jabatan tertinggi akademik, seorang profesor dituntut mengalami perubahan dalam kualitas keilmuan, akhlak, hingga tanggung jawab sosial.

Pesan itu disampaikan Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., CAHRM., CRMP, saat memberikan sambutan dalam pengukuhan tujuh guru besar UIN Maliki Malang.

Baca Juga : UIN Maliki Malang Kukuhkan Tujuh Guru Besar, Perkuat Kepakaran dari Bahasa Arab hingga Inovasi Pendidikan

Ilfi menggunakan konsep dalam tata bahasa Arab untuk menggambarkan perubahan yang semestinya terjadi setelah seorang akademisi dikukuhkan sebagai guru besar. Ia mengutip salah satu nadhom Alfiyah Ibnu Malik tentang isim yang dapat bersifat mu'rab maupun mabni.

Menurutnya, mu'rab menggambarkan sesuatu yang dapat mengalami perubahan, sedangkan mabni menunjukkan bentuk yang tetap. Analogi tersebut kemudian dikaitkan dengan eksistensi seorang guru besar.

“Eksistensi guru besar ada pada jabatan tertinggi akademik, maka harus berubah, harus melakukan transformasi menjadi lentera keilmuan, menerangi jalan ketika dunia dilanda kegelapan, makin tinggi akhlaknya, mampu membimbing mahasiswa dengan sungguh-sungguh, dan tampil menjadi teladan dalam keunggulan intelektual dan moralnya,” ujar Ilfi.

Sebaliknya, ia mengingatkan agar pengukuhan profesor tidak berhenti pada perubahan gelar. Jika perilaku, tanggung jawab, dan kontribusi seorang akademisi tidak berkembang setelah dikukuhkan, maka jabatan tersebut kehilangan makna substantifnya.

“Jika sama dengan sebelum menjadi guru besar, maka kedudukan guru besar tidak akan berarti apa-apa, yakni mabni,” tegasnya.

Ilfi menempatkan tanggung jawab guru besar semakin penting di tengah perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurutnya, kemampuan akademik tidak cukup hanya diwujudkan melalui penelitian dan publikasi, tetapi juga harus diimbangi kemampuan menjaga nilai kemanusiaan, etika ilmu, serta kepekaan terhadap persoalan sosial.

“Di tengah derasnya arus teknologi dan informasi serta kecerdasan buatan, guru besar tidak cukup hanya pandai meneliti dan menulis, tetapi juga harus mampu menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan etika ilmu serta kepekaan sosial,” katanya.

Ia menyebut universitas bukan sekadar tempat berlangsungnya proses pembelajaran. Perguruan tinggi harus menjadi ruang yang memungkinkan nilai keilmuan, kejujuran, dan kemanusiaan tumbuh bersamaan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Karena itu, Ilfi menegaskan komitmen UIN Malang untuk memperkuat ekosistem akademik yang inklusif, kolaboratif, dan berintegritas. Dalam ekosistem tersebut, guru besar ditempatkan sebagai salah satu fondasi karena memiliki tanggung jawab membimbing dosen muda dan mahasiswa sekaligus mengabdikan keilmuan kepada masyarakat.

“Guru besar adalah fondasi dari ekosistem ini, menjadi teladan bagi dosen muda, membimbing mahasiswa dengan kasih dan ketulusan, serta mengabdikan ilmu untuk kemajuan masyarakat, sehingga guru besar tidak ada di menara gading yang tidak menginjak bumi,” tutur Ilfi.

Dalam kesempatan tersebut, Ilfi juga mengaitkan sosok guru besar dengan konsep ar-raasikhun fil-'ilm, yakni orang-orang yang kokoh dalam ilmu. Menurut dia, kekokohan seorang guru besar tidak hanya dibangun dari penguasaan bidang keilmuan, tetapi juga dari iman dan keteguhan moral.

Baca Juga : Viral Guru di Bima NTB Diduga Gay, Foto Mesra dengan Siswa Laki-Laki

Ia merujuk Surah Ali Imran ayat 7: “Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: Kami beriman kepadanya.”

Ilfi kemudian menyebut tiga karakter yang perlu melekat pada seorang guru besar. Pertama, kokoh dalam keimanan sehingga tidak mudah tergoyahkan oleh berbagai godaan. Kedua, memiliki ilmu yang mendalam dengan akar keilmuan yang kuat tanpa menjadikannya alasan untuk bersikap sombong. Ketiga, memiliki sikap tawaduk dan tidak merasa paling mengetahui segala sesuatu.

Dalam konteks kerendahan hati seorang ilmuwan, Ilfi mengutip perkataan yang dinisbatkan kepada Imam Syafi'i: “Fakullama izdadtuhu 'ilman, izdadtuhu ma'rifatan bijahli.

Semakin bertambah ilmu, menurut ungkapan tersebut, semakin seseorang menyadari keluasan ketidaktahuannya.

Ilfi juga mengaitkan sikap merasa paling tahu dengan Dunning-Kruger effect, sebuah konsep psikologi yang menggambarkan kecenderungan seseorang dengan kemampuan atau pengetahuan terbatas menilai kemampuannya lebih tinggi daripada kenyataannya.

Dalam pengukuhan tersebut, tujuh akademisi UIN Malang dikukuhkan sebagai guru besar. Mereka adalah Prof. Dr. Bisri Mustofa, M.A., Guru Besar Bidang Ilmu Kepakaran Pembelajaran Sintaksis Arab; Prof. Dr. H. Syamsul Hadi, M.Ag., Guru Besar Ranting Ilmu Kepakaran Pemikiran Islam Modern; dan Prof. Dr. Bahruddin Fannani, M.A., Guru Besar Ranting Ilmu Kepakaran Sosiologi Gerakan Islam.

Selanjutnya Prof. Dr. Zainal Mahmudi, M.A., Guru Besar Bidang Ilmu Kepakaran Hukum Kewarisan Islam; Prof. Dr. Nur Hadi, M.A., Guru Besar Ranting Ilmu Kepakaran Strategi Pembelajaran Bahasa Arab; Prof. Dr. Mamlua'tul Hasanah, M.Pd., Guru Besar Ranting Ilmu Kepakaran Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab; serta Prof. Dr. H. Ahmad Fatah Yasin, Guru Besar Ranting Ilmu Kepakaran Inovasi Pendidikan Islam.

Ilfi menyebut lahirnya tujuh guru besar tersebut sebagai bagian dari perjalanan UIN Malang dalam memperkuat kapasitas akademiknya.

Dalam sambutannya, ia juga menyampaikan apresiasi kepada sejumlah tokoh yang hadir, termasuk Prof. Imam Suprayogo yang disebut telah meninggalkan legacy bagi UIN Malang, serta Prof. Dr. Mufidah Cholid yang hadir memberikan dukungan kepada para guru besar.

Topik Terkait
# uin malang# uin maliki# universitas islam negeri malang

Ingin Pengalaman Baca Interaktif?

Nikmati fitur komentar, video liputan, indeks kurs & cuaca terkini di portal web utama.

Buka Versi Lengkap