JATIMTIMES - Harga minyak dunia bergerak di sekitar US$100 per barel pada perdagangan Senin (21/9/2026). Pasar minyak kembali dibayangi ketegangan geopolitik setelah serangan rudal dan drone Houthi menyasar Arab Saudi.
Adapun harga minyak mentah Brent sempat naik ke US$104,68 per barel setelah serangan terhadap Riyadh. Namun, pada perdagangan Senin (21/9/2026) pagi, harga Brent terkoreksi dan berada di sekitar US$101,71 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun ke kisaran US$98,15 per barel.
Baca Juga : Ranking FIFA Peserta ASEAN Cup, Indonesia Ternyata Bukan yang Tertinggi
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan perkembangan geopolitik masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan harga minyak.
Ia menyoroti situasi di Eropa Timur dan Timur Tengah yang kembali memanas.
"Di Eropa Timur kita lihat gudang di Kiev (ibu kota Ukraina) dibom menggunakan drone oleh Rusia, ini membuat ketegangan baru kembali memanas di Eropa Timur," ujar Ibrahim dikutip dari keterangan tertulis, Senin (21/9/2026).
Sebelumnya, ketegangan di Timur Tengah terjadi setelah kelompok Houthi Yaman melancarkan serangan rudal dan drone ke Riyadh pada Sabtu (19/9/2026). Pemerintah Arab Saudi mengatakan serangan tersebut berhasil dicegat.
Adapun serangan ini menambah kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi dan jalur pengiriman minyak di kawasan. Ibrahim menilai perkembangan konflik di kawasan tersebut dapat memberikan tekanan terhadap pasar minyak dunia.
"Di Timur Tengah, Yaman Houthi sudah bisa melakukan penyerangan terhadap gudang-gudang dan bandara di Arab Saudi," kata Ibrahim.
Menurut dia, perkembangan kemampuan persenjataan Houthi juga menjadi bagian dari dinamika keamanan yang perlu diperhatikan.
"Arab Saudi meminta bantuan terhadap Amerika, Amerika pun juga tidak mau membantu Arab Saudi, karena ada perjanjian antara Yaman Houthi dengan Amerika yang tidak akan saling serang," paparnya.
Di sisi lain, jalur pelayaran di kawasan Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb ikut menjadi penyebab bergeraknya harga minyak. Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memengaruhi distribusi energi dan biaya pengiriman.
Selain Bab el-Mandeb, Selat Hormuz menjadi titik penting yang terus dipantau pasar minyak.
Ibrahim memperkirakan risiko gangguan di jalur tersebut masih menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi harga minyak.
Baca Juga : Nasim Khan Dorong Tata Niaga Gula Berpihak pada Petani, Soroti Harga hingga Impor Gula
"Di Selat Hormuz sendiri, walaupun di minggu ini akan ada pertemuan Dewan Keamanan PBB, kemungkinan Trump akan bertemu dengan Presiden Iran, tetapi kita lihat bahwa Selat Hormuz kemungkinan besar akan ditutup total oleh Iran," ujar Ibrahim.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan arus minyak dari kawasan Timur Tengah masih berlangsung. Reuters melaporkan ekspor minyak Arab Saudi kembali meningkat pada September setelah sebelumnya terdampak serangan terhadap jaringan pipa East-West.
Aktivitas kapal yang melewati Selat Hormuz memang menurun tajam akibat ketegangan, tetapi pengiriman minyak dari kawasan tersebut masih berjalan.
Ibrahim juga menyinggung belum tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran terkait perundingan yang diprakarsai Pakistan.
Di sisi lain, ketegangan Amerika Serikat dan Rusia juga menjadi perhatian setelah Washington memperketat sanksi terhadap Moskow.
"Ini membuat ketegangan antara Amerika dan Rusia semakin meruncing. Bukan saja Rusia dengan Ukraina, tapi Rusia dengan Amerika. Secara geopolitik ini mempengaruhi laju harga minyak mentah," pungkasnya.