Kenapa Gen Z Kesulitan Membeli Rumah? Ini Faktor Penyebabnya
16 - Sep - 2026, 07:18
JATIMTIMES.COM - Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, kini mendominasi populasi Indonesia dengan jumlah mencapai hampir 75 juta jiwa atau sekitar 27% dari total penduduk. Meski demikian, mimpi memiliki rumah sendiri bagi generasi muda ini sering kali terasa semakin sulit diwujudkan. Harga properti yang terus melambung tinggi, tekanan ekonomi, serta pola pengeluaran menjadi tantangan utama yang membuat kepemilikan hunian terasa seperti “misi yang sulit”.
Menurut berbagai data pasar properti, harga rumah dalam tiga tahun terakhir meningkat rata-rata sekitar 10%. Kenaikan ini tidak diimbangi dengan pertumbuhan pendapatan generasi muda yang rata-rata masih berada di bawah Rp2,5 juta per bulan. Akibatnya, kesenjangan antara harga hunian dan daya beli semakin melebar.
Baca Juga : Ramai Keluhan MBG Tak Dimakan karena Stiker Batas Jam, Takut Keracunan
Faktor Utama Penyebab Kesulitan Gen Z Membeli Rumah
Beberapa faktor struktural dan perilaku menjadi penyebab utama:
- Harga Properti yang Terus Naik Inflasi bahan baku konstruksi, pertumbuhan infrastruktur yang meningkatkan nilai lahan, serta kenaikan angka harapan hidup yang mendorong permintaan hunian menjadi pendorong utama. Di kawasan penyangga Jakarta, lonjakan harga rumah bisa mencapai 10-15% per tahun, sementara kenaikan gaji rata-rata hanya sekitar 5-7%.
- Persaingan Ketat di Pasar Kerja Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ratusan ribu pencari kerja baru setiap tahun. Kondisi ini membuat Upah Minimum Regional (UMR) sering kali tidak cukup untuk mengejar harga rumah termurah sekalipun.
- Gaya Hidup dan Pengaruh Teknologi Media sosial kerap mendorong pengeluaran impulsif untuk fashion, gadget, dan hiburan. Kemudahan akses fintech serta layanan paylater, tanpa diimbangi literasi keuangan yang memadai, semakin memperburuk siklus utang di kalangan generasi muda.
- Tantangan Cicilan dan Prioritas Survei menunjukkan sebagian Gen Z dan milenial belum mampu membayar cicilan KPR secara rutin atau bahkan belum memprioritaskan kepemilikan rumah di usia muda mereka.
Associate Director Research and Consultancy Department PT Leads Property Services Indonesia, Martin Samuel Hutapea, mengamati pergeseran pola berpikir generasi muda. “Ketimbang membeli mobil yang tenor cicilannya maksimal 6 tahun, mereka cenderung memilih mencicil rumah yang tenor cicilannya bisa mencapai 20 tahun,” katanya.
Penyebab Kenaikan Harga Rumah
Kenaikan harga properti bersifat struktural:
- Inflasi: Harga bahan bangunan ikut naik.
- Peningkatan Harapan Hidup: Permintaan hunian meningkat seiring kesejahteraan masyarakat.
- Pertumbuhan Infrastruktur: Pembangunan sarana umum mendorong nilai lahan di sekitarnya.
Langkah Praktis yang Dapat Dilakukan Gen Z
Meski tantangannya nyata, ada beberapa langkah yang dapat membantu:
- Menetapkan target tabungan yang realistis dengan mempertimbangkan kenaikan harga properti tahunan.
- Disiplin menabung dengan rekening terpisah.
- Melunasi utang-utang existing terlebih dahulu.
- Menghindari pola hidup konsumtif.
- Mencari penghasilan tambahan untuk mempercepat akumulasi dana.
Dengan perencanaan keuangan yang baik, kesadaran yang semakin meningkat, dan dukungan ekosistem pembiayaan yang terus berkembang, memiliki hunian di usia muda bukanlah hal yang mustahil. Generasi Z diharapkan dapat lebih bijak dalam mengelola keuangan agar mimpi rumah impian dapat terwujud. Dengan perencanaan keuangan yang baik, kesadaran yang semakin meningkat, dan dukungan ekosistem pembiayaan yang terus berkembang. Bagi yang ingin mengetahui solusi hunian dan simulasi pembiayaan yang sesuai untuk Gen Z, dapat mengakses platform balé properti(ads).
