Kasus Influenza A Naik di Jatim, Dokter Ingatkan Kapan Harus Swab dan Isolasi

16 - Sep - 2026, 04:27

Ilustrasi influenza pada anak. (Foto: Shutterstock)

JATIMTIMES - Kasus influenza A menjadi perhatian setelah terjadi peningkatan kasus di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Timur. Di media sosial Threads ramai kabar sejumlah rumah sakit di Surabaya juga melaporkan kenaikan pasien dengan keluhan mirip flu dalam sepekan terakhir.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin membenarkan adanya peningkatan kasus influenza di sejumlah daerah. Namun, ia meminta masyarakat tidak panik dan memastikan penanganannya tetap dipantau pemerintah.

Baca Juga : SatuBeasiswa Indonesia Resmi Diluncurkan, Mahasiswa Bisa Cari Beasiswa dalam Satu Portal Nasional

"Memang kita ada beberapa titik-titik yang kami lihat kenaikan influenza ini kami monitor. Saya dengar sih ada yang di Jawa Timur, di beberapa titik agak naik," kata Budi, dikutip detikhealth, Rabu (16/9/2026).

"Saya minta teman-teman dari P2P untuk lihat di daerah-daerah mana khususnya," lanjutnya.

Di tengah kenaikan tren wabah tersebut, anggota Komisi D DPRD Surabaya dr. Michael Leksodimulyo, MBA, M.Kes mengingatkan masyarakat tidak asal menyimpulkan seseorang terkena influenza A hanya berdasarkan gejala.

Menurut dr. Michael, pemeriksaan swab diperlukan untuk memastikan jenis influenza. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan influenza A subtipe H1N1pdm09 positif, pasien perlu mendapatkan penanganan sesuai kondisi dan menjalani isolasi.

"Kalau kita bicara mengenai virus influenza A, harus dilakukan swab. Kalau dilakukan swab kemudian keluar H1IN1PDM O9 positif, yang bersangkutan diisolasi," kata dr. Michael, dikutip video yang diunggah akun Instagram @nrmaggr.

Dokter Michael juga menekankan influenza A tidak bisa disamakan begitu saja dengan flu biasa. Ia meminta masyarakat tidak melakukan penanganan sendiri tanpa mengetahui penyebab infeksinya.

"Kalau dilakukan swab, kemudian keluar H1N1 PDM 09 positif yang bersangkutan diisolasi. Jadi itu tidak sembarangan gitu, oh ini tipe A, enggak," ujarnya.

Ia kemudian membandingkan penanganan influenza biasa dengan infeksi influenza yang terkonfirmasi melalui pemeriksaan.

"Karena apa? Influenza biasa itu 3 hari dikasih minyak kayu putih, diminumin jahe hangat, dijemur di 15 menit di matahari, wes enakan. Yang penting masuk anginnya bisa lewat," kata dr. Michael.

"Tapi kalau H1, N1, BDM09 atau influenza tipe A, itu tidak mudah. Itu harus diberikan infus, vitamin, dan untuk meningkatkan kekebalan tubuh baik anak maupun lansia, juga orang-orang dewasa," lanjutnya.

Dokter Michael juga meminta puskesmas memperkuat pemantauan di lingkungan masyarakat. Menurutnya, kader kesehatan di tingkat warga dapat berperan mendeteksi lebih awal orang yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan.

"Antisipasinya bagaimana yang bisa dilakukan dari rumah, dok? Antisipasi yang dari rumah, warga yang pertama jangan panik dulu," ujarnya.

Ia kemudian mendorong puskesmas melakukan pendekatan jemput bola dengan melibatkan kader kesehatan.

"Yang kedua, kalau saya, saya menghimbau puskesmas ini sekarang ini harus jemput bola. Istilahnya apa? KSH, posyandu, itu adalah kader terhebat di Surabaya. Yang tidak dimiliki oleh daerah lain," kata dr. Michael.

Menurut dia, kader dapat melaporkan apabila menemukan warga dengan gejala yang tidak kunjung membaik.

"Kalau mereka tahu bahwa ada sekitar yang ada di warga, yang ada di sekitar rumahnya, ada yang bersin-bersin, enggak sembuh-sembuh, batuk pilek, enggak sembuh-sembuh, dan dia dengarkan anak kuluh panas tinggi waktu dia beli di pasar," ujarnya.

"Maka KSH atau kader posyandu ini wajib untuk melaporkan ke puskesmas dan langsung dilakukan tracing," sambung dr. Michael.

Baca Juga : Perubahan APBD 2026 Didorong Fokus Tangani Banjir Kota Malang

Ia menilai pelacakan kasus sebaiknya dilakukan sejak ditemukan gejala, bukan menunggu jumlah pasien bertambah banyak.

"Jangan nanti kalau sudah ada yang sakit banyak kemudian ada kematian, baru kita bingung melakukan tracing. Sekarang ini waktunya. Kalau kita cinta kota kita, kita akan melakukan tracing atau jemput bola, itu sejak kini," tandasnya.

Sementara itu, Budi meminta masyarakat tidak menyamakan seluruh influenza A dengan flu burung atau virus influenza yang memiliki tingkat risiko berbeda.

"Cuma, kalau Influenza A ini, kan bukan Influenza yang mematikan kan, yang kita takutkan kan yang ada H5, yang dulu pernah kejadian flu burung itu," kata Budi.

Menkes memastikan pemerintah tetap memantau perkembangan kasus di wilayah yang mengalami kenaikan, termasuk Surabaya. "Tapi sebenarnya dengan treatment biasa harusnya sudah bisa diobati," ujarnya.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah muncul kabar di media sosial yang menyebut rumah sakit di Surabaya penuh akibat pasien influenza A. Namun, kondisi tersebut tidak terjadi secara merata di seluruh rumah sakit.

Hospital Director RS PHC Surabaya dr Rony Kurniawan sebelumnya membenarkan adanya kenaikan jumlah pasien. Namun, ia membantah rumah sakitnya penuh seperti narasi yang beredar di media sosial.

"Meningkat, tapi belum penuh. Diagnosa bermacam-macam, ada stroke, kecelakaan, penyakit jantung, dan lain-lain. Diagnosa mirip flu juga ada, meningkat, tapi bukan yang sangat banyak mendominasi," kata Rony. 

Di rumah sakit lain, peningkatan pasien dengan gejala influenza juga dilaporkan. Direktur Utama RS Husada Utama Surabaya dr Didi D Dewanto SpOG mengatakan pasien anak mengalami peningkatan dalam sepekan terakhir hingga ruang anak dan IGD penuh.

Data surveilans Kementerian Kesehatan hingga 12 September 2026 menunjukkan proporsi kasus influenza positif meningkat menjadi 38%, dari 22% pada pekan sebelumnya.

Pada minggu ke-35, dari 175 spesimen yang diperiksa, ditemukan 66 kasus positif influenza. Rinciannya terdiri atas dua kasus influenza A(H3N2), 63 kasus influenza A(H1N1pdm09), dan satu kasus influenza B Victoria. Sebanyak 33% kasus influenza yang terdeteksi terjadi pada kelompok usia 0-4 tahun.

Meski demikian, Kemenkes masih menempatkan aktivitas influenza pada kategori rendah. Artinya, kenaikan hasil positif tersebut belum otomatis berarti terjadi wabah influenza A secara nasional.

Karena itu, masyarakat yang mengalami gejala seperti demam, batuk, pilek, nyeri kepala, atau keluhan pernapasan yang menetap disarankan memeriksakan diri, terutama jika gejalanya berat atau kondisi tidak kunjung membaik.

Yang tidak kalah penting, masyarakat sebaiknya tidak langsung menyimpulkan terkena influenza A hanya berdasarkan gejala. Kepastian jenis virus memerlukan pemeriksaan swab.

Sementara itu, langkah pencegahan bisa dilakukan masyarakat secara mandiri, untuk membantu dan mengurangi risiko penularan. Seperti menjaga kebersihan tangan, menggunakan masker ketika sakit, menghindari kontak dekat saat bergejala, dan beristirahat di rumah.