UIN Malang Ingatkan Mahasiswa Baru, Literasi Keuangan Jadi Bekal Hadapi Ancaman Digital
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Nurlayla Ratri
14 - Sep - 2026, 06:26
JATIMTIMES - Kemudahan mengakses berbagai produk dan layanan keuangan melalui perangkat digital membuat mahasiswa perlu memiliki kemampuan mengelola finansial sejak dini. Tanpa literasi yang memadai, kemudahan tersebut justru dapat membawa pengguna pada risiko penipuan, kejahatan siber hingga perjudian online.
Persoalan tersebut menjadi perhatian Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, Prof. Dr. Ilfi Nur Diana, M.Si., saat memberikan pesan kepada ribuan mahasiswa baru dalam Kuliah Perdana Malang Mbois, Senin (14/9/2026).
Baca Juga : DPRD Kota Malang Tak Ingin Mafia Narkoba Curi Masa Depan Generasi Muda
Mengusung tema "Kuliah Hebat, Finansial Sehat, Masa Depan Kuat", kuliah perdana itu menghadirkan sejumlah tokoh yang berkaitan dengan sektor keuangan dan kebijakan publik. Mereka yakni Anggota Komisi IX DPR RI M Hasanuddin Wahid, Kepala KPw LPS II Bambang S Hidayat, Kepala OJK Malang Farid Faletehan, serta Kepala BI Malang Indra Kuspriyadi.
Di hadapan mahasiswa baru, Prof Ilfi, sapaan akrabnya menekankan, bahwa literasi keuangan tidak hanya dibutuhkan oleh mereka yang menempuh pendidikan di bidang ekonomi. Mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu tetap akan berhadapan dengan keputusan finansial, mulai dari mengatur uang sehari-hari hingga menentukan pilihan ketika menggunakan produk jasa keuangan.

"Semua mahasiswa, bidang pendidikan apa pun, harus melek literasi keuangan," tegas Ilfi.
Menurut dia, persoalan tidak hanya terletak pada seberapa mudah masyarakat memperoleh akses terhadap layanan keuangan. Kemampuan memahami produk, mekanisme dan risiko juga menjadi bagian penting yang tidak bisa diabaikan.
"Inklusi keuangan tanpa literasi itu berbahaya. Karena tak tahu risiko dari produk jasa keuangan. Ini penting agar tak masuk ke jebakan kejahatan siber, penipuan, judi online dan lainnya," ujarnya.
Ilfi melihat perkembangan teknologi digital membuat risiko tersebut semakin dekat dengan mahasiswa. Berbagai layanan finansial dapat diakses dengan cepat melalui telepon pintar. Di sisi lain, penawaran investasi, transaksi maupun layanan keuangan juga semakin mudah ditemukan di ruang digital.
Kondisi itu membuat mahasiswa perlu lebih berhati-hati sebelum mengambil keputusan. Salah satu kemampuan dasar yang perlu dibangun adalah membedakan kebutuhan dengan keinginan agar keputusan finansial tidak dilakukan secara impulsif.
"Harapannya mahasiswa bisa tahu mana kebutuhan dan mana keinginan," ucapnya.
Baca Juga : Purbaya Yudhi Sadewa Dicopot dari Menkeu, Ini Jejak Kebijakannya Selama Setahun
Pesan serupa disampaikan Ilfi terkait investasi. Menurutnya, mahasiswa yang mulai tertarik menempatkan dana pada instrumen investasi harus terlebih dahulu memiliki pemahaman mengenai literasi keuangan. Keinginan memperoleh keuntungan tidak boleh membuat seseorang mengabaikan risiko.
"Kalau mau investasi harus tahu literasi keuangan," pesannya.
Selain persoalan finansial, Ilfi juga mengingatkan mahasiswa untuk membangun kemampuan yang dibutuhkan ketika nantinya memasuki dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, proses pendidikan di perguruan tinggi tidak berhenti pada kemampuan memahami teori.
Ia mendorong mahasiswa UIN Malang memanfaatkan berbagai ruang pengembangan diri, termasuk organisasi kemahasiswaan di lingkungan kampus maupun organisasi eksternal. Pengalaman tersebut dinilai dapat membantu mahasiswa mengembangkan karakter kepemimpinan sekaligus belajar menghadapi persoalan secara langsung.
"Kalau kita ingin menjadi pendekar, ya tidak cukup hanya membaca komik pendekar. Maka belajarlah pada pendekarnya," kata Ilfi.
Melalui pesan tersebut, mahasiswa baru UIN Malang tidak hanya diarahkan untuk mengejar capaian akademik. Mereka juga perlu memiliki kecakapan praktis, termasuk memahami keputusan finansial yang akan semakin sering dihadapi seiring bertambahnya usia dan kemandirian. Kuliah Perdana Malang Mbois menjadi salah satu momentum awal bagi ribuan mahasiswa baru UIN Malang untuk mengenali tantangan yang akan mereka hadapi selama maupun setelah menjalani pendidikan di perguruan tinggi.
