Bukan Sekadar Bisa Pakai AI, Mahasiswa Malang Disiapkan Jadi Pencipta Teknologi

14 - Sep - 2026, 04:38

Program Artificial Intelligence di kampus swasta di Malang (foto: istimewa)

JATIMTIMES - Kemampuan menggunakan Artificial Intelligence (AI) kini tak lagi cukup menjadi bekal bagi generasi muda yang ingin bersaing di tengah perkembangan ekonomi digital. Tantangan berikutnya adalah bagaimana teknologi tersebut mampu diubah menjadi solusi, inovasi hingga peluang bisnis.

Persoalan itulah yang coba dijawab Universitas Bina Nusantara (Binus) Malang melalui peluncuran Program Artificial Intelligence pada Senin (14/9/2026). Program tersebut diarahkan untuk membentuk talenta digital yang tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga memiliki keberanian menciptakan inovasi berbasis AI.

Baca Juga : Warga Tlumpu Ingin Fasilitas Olahraga, Wali Kota Blitar Wujudkan Jogging Track lewat Karya Mas

Program yang mengusung semangat AI Empowers itu menempatkan mahasiswa tidak sekadar sebagai pengguna teknologi. Mereka didorong memahami pemanfaatan AI secara strategis, etis dan bertanggung jawab, termasuk bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat.

Rektor Binus University Dr Nelly SKom MM mengatakan, penguasaan AI harus berujung pada lahirnya inovasi yang memberikan manfaat lebih luas. Karena itu, generasi muda perlu memiliki kapasitas lebih dari sekadar kemampuan mengoperasikan teknologi.

"Perluasan Program Artificial Intelligence merupakan komitmen Binus University untuk membuka kesempatan yang semakin luas bagi generasi muda Indonesia dalam menguasai teknologi masa depan. Kami ingin mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi inovator yang memberikan dampak positif bagi masyarakat," kata Nelly.

Di Malang, pengembangan program tersebut juga diarahkan untuk memperkuat konsep Digital Technopreneur Campus. Mahasiswa dipacu mengolah gagasan dan kemampuan teknologi menjadi produk, layanan maupun peluang usaha.

Direktur Kampus Binus Malang Dr Robertus Tang Herman SE MM menegaskan, kemampuan AI harus berjalan beriringan dengan kemampuan melihat kebutuhan di lapangan. Teknologi, menurutnya, akan memiliki nilai ketika mampu melahirkan solusi yang benar-benar dibutuhkan.

"Penguasaan AI tidak boleh berhenti pada kemampuan menggunakan teknologi. Mahasiswa perlu didorong untuk mengembangkan solusi yang relevan, membangun inovasi, dan menciptakan dampak nyata bagi masyarakat," kata Robertus.

Untuk menopang kemampuan tersebut, pembelajaran AI dirancang secara multidisiplin. Mahasiswa akan mempelajari matematika, data science, machine learning, computer vision, natural language processing hingga Internet of Things dan robotics.

Dekan School of Computer Science Binus University Prof Dr Ir Derwin Suhartono SKom MTI melihat tantangan AI ke depan bukan semata soal apakah teknologi akan menggantikan manusia.

Yang jauh lebih penting adalah menyiapkan manusia agar mampu memahami, menguji dan memanfaatkan teknologi tersebut secara tepat.

Baca Juga : Mengejar Jabatan dalam Islam, Bolehkah? Hadis Nabi dan Kisah Nabi Ini Memberi Penjelasan

"Mahasiswa perlu memiliki fondasi akademik yang kuat agar mampu mengevaluasi hasil yang diberikan AI, mengembangkan solusi, serta menerapkan teknologi secara strategis, etis, dan bertanggung jawab," jelasnya.

Kebutuhan terhadap talenta semacam itu juga datang dari dunia industri. CEO PT Orico Teknologi Cerdas Indonesia Ikhwan Iqbal mengatakan, perusahaan tidak hanya membutuhkan pekerja yang mampu mengoperasikan berbagai tools AI.

Talenta yang dibutuhkan industri adalah mereka yang mampu memahami persoalan secara utuh, membaca data, mengevaluasi keluaran AI dan kemudian menerjemahkan teknologi menjadi solusi bernilai.

"Industri tidak hanya membutuhkan talenta yang mampu menggunakan berbagai tools AI. Kami membutuhkan individu yang dapat memahami permasalahan secara menyeluruh, mengevaluasi data dan hasil yang diberikan AI, bahkan mengubah teknologi menjadi solusi atau peluang," urainya.

Peluncuran program tersebut pun menjadi bagian dari upaya mempertemukan kompetensi akademik dengan kebutuhan industri yang terus berubah. Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menghadapi dunia kerja, tetapi juga dibuka ruang untuk menciptakan peluang melalui teknologi.

Perpaduan kemampuan AI, berpikir kritis, kreativitas, komunikasi dan pengalaman proyek diharapkan melahirkan talenta yang mampu membaca perubahan sekaligus mengambil peran di dalamnya.

Sebab, di tengah derasnya perkembangan AI, keunggulan generasi muda bukan hanya terletak pada seberapa cepat mereka menggunakan teknologi. Lebih dari itu, bagaimana mereka mampu menciptakan sesuatu yang berguna dari teknologi tersebut menjadi tantangan yang semakin penting.