Stadsklok Kajoetangan Berdetak Seabad, PALESKA #2 Ajak Warga Nikmati Seni, Budaya hingga Produk UMKM

Reporter

Irsya Richa

Editor

A Yahya

13 - Sep - 2026, 08:28

Flyer Pasar Legenda Stadsklok Kajoetangan (PALESKA) #2 2026. (Foto: Istimewa)

JATIMTIMES - Satu abad sudah Stadsklok Kajoetangan menjadi bagian dari perjalanan Kota Malang. Berdiri sejak 1926, jam kota yang berada di kawasan Kajoetangan itu kini kembali diangkat ke ruang publik melalui Pasar Legenda Stadsklok Kajoetangan (PALESKA) #2 2026, bertepatan dengan momentum 100 Tahun Stadsklok Kajoetangan 1926-2026.

Momentum tersebut menjadi salah satu pijakan digelarnya Pasar Legenda Stadsklok Kajoetangan (PALESKA) #2 2026 pada 14-20 September 2026 di pelataran parkir Hotel Trio, Kota Malang. Selama sepekan, kawasan yang berada di sekitar Stadsklok tersebut akan dihidupkan dengan berbagai kegiatan seni budaya, pertunjukan komunitas, hingga bazar UMKM.

Baca Juga : Unik! Lubang Jalan di Kota Malang Ditutup Mosaik Kaca Patri, Ada Pesan di Baliknya

Namun, di balik kemeriahan itu terdapat misi yang lebih besar, yakni mengembalikan ingatan masyarakat terhadap salah satu titik yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah Kota Malang. Stadsklok bukan sekadar jam kota.

Ia menjadi penanda waktu yang menyaksikan perubahan wajah Kayutangan dan KotaMalang dari masa ke masa. Seabad kemudian, keberadaannya kembali diperkenalkan kepada masyarakat melalui PALESKA #2. Sejarah tidak hanya diceritakan melalui arsip, tetapi dihadirkan kembali lewat aktivitas warga.

Koordinator PALESKA #2 2026, Bangkit Sanjaya, mengatakan peringatan 100 tahun Stadsklok menjadi momentum penting untuk mengajak masyarakat melihat kembali kawasan tersebut sebagai bagian dari identitas Kota Malang.

“Seratus tahun Stadsklok bukan sekadar angka. Ini adalah perjalanan waktu yang merekam perubahan Kota Malang. Kami ingin masyarakat kembali mengenal Stadsklok sebagai bagian dari sejarah kota, bukan hanya sebagai sebuah titik yang dilewati setiap hari,” kata Bangkit.

Menurutnya, selama ini banyak masyarakatyang mengenal Kayutangan sebagai kawasan heritage, tetapi belum tentu mengetahuikeberadaan maupun cerita di balik Stadsklok. Karena itu, PALESKA #2 dirancang bukan hanya sebagai festival hiburan, melainkan ruang perjumpaan antara sejarah, seni, budaya, komunitas, dan ekonomi kreatif.

h

“Kami ingin sejarah ini tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Sejarah harus terus hidup dan diwariskan melalui aktivitas masyarakat hari ini. Karena itu, kami mempertemukan sejarah dengan seni, komunitas dan UMKM,” imbuhnya.

Semenetara Stadsklok juga ditempatkan sebagai titik yang memiliki keterkaitan dengan lanskap geografis Malang Raya. Kota Malang berada dalam bentang alam yang dikelilingi sejumlah gunung besar, sepertiArjuno, Bromo, Semeru dan Kelud.

Posisi Stadsklok Kajoetangan dibaca sebagai salah satu titik penting dalam lanskap perjalanan dan perkembangan Kota Malang.

Perspektif tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kembali cerita tentang Stadsklok.

Bukan semata mengenai sebuah jam, tetapi bagaimana sebuah titik menjadi saksi tumbuhnya aktivitas manusia, perdagangan, kebudayaan dan kehidupan perkotaan.

Baca Juga : Cocok untuk Rumah Minimalis Modern, Keramik Roman 30x60 di Graha Bangunan Mulai Rp153 Ribu

“Kami melihat Stadsklok sebagai titik tengah dari cerita besar tentang Malang. Ada kota, ada manusia, ada gunung, ada perjalanan sejarah. Setelah 100 tahun, kami ingin mengajak masyarakat kembali melihatdan merasakan cerita itu,” ungkap Bangkit.

Karena itu hadirnya PALESKA #2 untuk memberikan dampak langsung terhadap kawasan. Sebanyak sekitar 30 hingga 50 UMKM Malang Raya dijadwalkan ambil bagian.

Jika penyelenggaraan sebelumnya lebih dominan menghadirkan pelaku kuliner, tahun ini ruang bagi UMKM diperluas dengan melibatkan produk fesyen, aksesori dan berbagai produk kreatif lainnya.

Panggung PALESKA juga akan diisi barongsai, bantengan, harpa mulut, musik pop danakustik, tari, karaoke tembang kenangan, karaoke anak, lomba melukis dan mewarnai, senam sehat hingga talk show.

Dengan konsep tersebut, peringatan seabad Stadsklok diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni. Kawasan utara Kayutangan diharapkan kembali memiliki denyut aktivitas yang mempertemukan warga, wisatawan, komunitas dan pelaku ekonomi kreatif.

“Kami ingin ada ingatan yang tertinggal. Setelah orang datang, mereka tahu bahwa di sini ada Stadsklok, ada sejarah, ada cerita tentang Kota Malang. Dari sana mudah-mudahan muncul keinginan untuk terus menjaga dan menghidupkan kawasan ini,” ucap Bangkit.

Karena itu, PALESKA #2 membawa pesan bahwa merawat sejarah bukan berarti membawa kota kembali ke masa lalu. Sebaliknya, sejarah dapat menjadi energi untuk menghidupkan masa kini sekaligus membangun masa depan.

“Stadsklok sudah berdetak selama satu abad. Sekarang tugas kita bukan hanya mengingat bahwa ia pernah ada, tetapi memastikan ceritanya tetap hidup. Kalau masyarakat datang, mengenal, berinteraksi dan ikut menghidupkankawasan ini, maka sejarah itu benar-benar kembali berdetak,” tutup Bangkit.