3 Siswa Korban Dugaan Keracunan MBG Berastagi Alami Hilang Ingatan, Gangguan Ginjal hingga Jantung

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

Yunan Helmy

08 - Sep - 2026, 05:53

Feby br Purba, salah satu korban dugaan keracunan MBG di Berastagi yang alami hilang ingatan. (Foto: IDNTimes)

JATIMTIMES - Kondisi sejumlah siswa yang mengalami dugaan keracunan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, belum sepenuhnya pulih. Tiga siswa dilaporkan masih menjalani pemeriksaan karena mengalami gangguan kesehatan yang kembali muncul setelah sempat mendapat perawatan.

Para korban sebelumnya telah menjalani pengobatan di sejumlah rumah sakit dan sebagian diperbolehkan pulang. Namun, keluhan kesehatan kembali dirasakan sehingga keluarga membawa mereka untuk mendapatkan pemeriksaan lanjutan.

Baca Juga : Kasus Dukun Cabul di Magetan Mulai Disidangkan: Mengaku Terima Wahyu Jibril, Cabuli Korban hingga 10 Kali

Kondisi tersebut membuat keluarga khawatir. Sebab, dari pemeriksaan medis yang dijalani, muncul sejumlah masalah kesehatan lainnya, mulai dari hilang ingatan, gangguan ginjal hingga jantung.

Salah satu korban yang masih menjalani pemantauan adalah Feby br Purba. Siswi tersebut kini harus menjalani kontrol di RSUP H Adam Malik Medan setelah sebelumnya mendapat perawatan akibat dugaan keracunan makanan MBG.

Kondisi Febiola kini bahkan mengalami perubahan cukup signifikan. Kemampuan mengingatnya disebut menurun hingga membuat perilakunya seperti anak berusia sekitar 3 tahun. Ia disebut kesulitan mengenali orang-orang terdekat di lingkungan sekolah maupun keluarganya.

Febiola tidak lagi mengingat siapa teman sekelasnya, guru yang mengajarnya, hingga anggota keluarganya sendiri. Sejumlah barang yang sebelumnya dikenalnya juga tidak lagi dapat ia kenali.

"Ya semuanya dia lupa. Contohnya, teman-teman sekelasnya dia lupa. Waktu kami pulang dari rumah sakit Haji, dia bertemu sama adiknya, dan saya bapaknya dia sudah tidak kenal. Padahal mereka itu duduk sama-sama," kata ayah Feby, Purba,, Selasa (8/9/2026).

Menurut Purba berdasarkan keterangan dokter di RSUP H Adam Malik yang diterimanya, terdapat temuan yang berkaitan dengan racun jamur pada bagian saraf kepala Feby. “Menurut pemeriksaan dokter di Adam Malik, hasilnya ada racun jamur pada saraf kepala anak saya,” ujarnya. 

Feby telah diperiksa oleh empat dokter. Keluarga juga mendapat arahan agar kondisi putrinya terus dipantau secara berkala dalam waktu yang cukup panjang.

“Ada empat dokter yang memeriksa. Saya tak hafal namanya. Kata dokter anak saya harus kontrol sampai 6 bulan hingga 1 tahun,” katanya.

Kewajiban menjalani kontrol dalam jangka panjang menjadi kekhawatiran tersendiri bagi keluarga Feby. Selain memikirkan kondisi anak, mereka juga harus mempersiapkan kebutuhan pemeriksaan dan pengobatan berikutnya.

Keluhan kesehatan juga kembali dialami Agnesia P br Silitonga. Setelah sebelumnya mendapatkan perawatan, kondisi Agnesia disebut kembali menurun beberapa hari lalu.

Keluarga kemudian membawa Agnesia ke RS Efarina Berastagi untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

Ibu Agnesia, Fitriani br Sijabat, mengatakan dokter menemukan adanya gangguan pada ginjal putrinya. Karena itu, Agnesia disarankan menjalani pemeriksaan lanjutan di rumah sakit yang berada di Medan.

“Kata dokter, anak saya mengalami gangguan ginjal, hingga disarankan melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke rumah sakit di Medan,” ujar Fitriani.

Anjuran untuk melanjutkan pemeriksaan di Medan membuat keluarga Agnesia menghadapi persoalan baru. Fitriani mengaku khawatir dengan kondisi putrinya sekaligus memikirkan biaya yang harus dikeluarkan.

Menurut dia, pembiayaan perawatan lanjutan Agnesia tidak lagi sepenuhnya ditanggung sebagaimana ketika korban menjalani pengobatan setelah insiden dugaan keracunan MBG.

Baca Juga : Hasil Lab Keracunan MBG Berastagi, Ada Bakteri di Nasi hingga Melon: Kenapa Tak Dipublikasikan?

Sementara itu, korban lainnya, Karissa Zefania br Aritonang, masih menjalani pemeriksaan medis. Karissa diketahui mempunyai riwayat gangguan jantung sebelum insiden tersebut terjadi.

Keluarga mengatakan kondisi jantung Karissa mengalami perburukan setelah dugaan keracunan MBG. Keluhan sesak juga disebut muncul ketika kondisi kesehatannya memburuk.

“Menurut pemeriksaan dokter, sakit jantung anak kita ini memang sudah ada sebelumnya. Keracunan MBG itu membuat sakit jantungnya kambuh dan makin parah. Makanya saat kena racun MBG kemarin, anak kita langsung sesak terus,” ujar orang tua Karissa.

Karissa kemudian diperiksa dokter spesialis jantung di RS Amanda. Dia sempat menjalani perawatan selama tiga hari.

Karena kondisi kesehatan Karissa belum membaik, keluarga kemudian meminta rujukan agar pemeriksaan dapat dilanjutkan di RSUP H Adam Malik Medan.

Sebagaimana diberitakan, kasus dugaan keracunan MBG di Kabupaten Karo sebelumnya juga telah mendapat perhatian Badan Gizi Nasional (BGN). Pada 16 Agustus 2026, Kepala BGN Sudaryono menyampaikan hasil investigasi sementara mengenai insiden tersebut. Dalam keterangan awal itu, BGN menyoroti proses pengolahan dan penyimpanan bahan baku ikan. 

Sudaryono menyebut sebagian ikan tidak dimasukkan ke dalam freezer. Bahan tersebut justru berada pada suhu ruangan selama lebih dari 12 jam sebelum diolah. Keterangan itu disampaikan Sudaryono ketika mengunjungi para korban di Rumah Sakit Haji Medan pada Minggu (16/8/2026).

“Kami coba cek investigasi sementara. Jadi, itu kelalaian ada pada pengolahan. Jadi bahan baku ikan itu sebagian besar dimasukkan ke freezer, ada sekitar 200 atau 300 ekor yang tidak masuk ke freezer itu kemudian ditaruh di suhu ruangan dalam kurun waktu 12 sampai lebih dari 12 jam,” kata Sudaryono, sebagaimana dikutip dari siaran pers resmi BGN.

Insiden dugaan keracunan tersebut terjadi pada Kamis (13/8/2026). Sejumlah siswa SMAN 1 Berastagi dan beberapa sekolah lainnya di Kabupaten Karo mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan yang dibagikan melalui program MBG.

Pemerintah Kabupaten Karo sebelumnya menyatakan kejadian tersebut sebagai dugaan keracunan makanan. Penanganan dilakukan pada hari yang sama dengan melibatkan pemerintah daerah dan pihak terkait.

Para siswa yang mengalami gejala kemudian dibawa ke sejumlah fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan.
Berdasarkan data penanganan medis Pemkab Karo per 14 Agustus, pasien tersebar di beberapa rumah sakit. RS Efarina Etaham mencatat 101 pasien, RSU Kabanjahe sebanyak 35 pasien, RS Amanda Raya Berastagi sebanyak 212 pasien, dan lima pasien dirawat di RS Mina Kabanjahe.

Korban dalam kejadian tersebut tidak hanya berasal dari SMAN 1 Berastagi. Siswa dari sejumlah sekolah lain di wilayah Berastagi juga dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG.

Kini, persoalan dugaan keracunan MBG sejak Agustus itu belum sepenuhnya selesai. Sejumlah keluarga korban masih harus membawa anak mereka menjalani pemeriksaan lanjutan karena keluhan kesehatan kembali muncul.