261 Siswa SMK di Jatim Jadi Petani Modern, Hasil Panen Naik 5 Kali Lipat
Reporter
Syaifuddin Anam
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
08 - Sep - 2026, 01:40
JATIMTIMES - Pertanian modern mulai menunjukkan daya tarik baru bagi Generasi Z. Sebanyak 261 siswa dari tiga SMK pertanian di Jawa Timur terlibat langsung dalam School Lab Farming yang digagas perusahaan produsen pupuk terbesar di Gresik.
Di SMK Negeri 1 Kademangan, Blitar, penerapan pertanian presisi bahkan mampu meningkatkan hasil panen bawang merah hingga lebih dari lima kali lipat. Dari lahan seluas 1.000 meter persegi, siswa berhasil memanen sekitar 800 kilogram bawang merah kering. Sebelumnya, lahan yang sama hanya menghasilkan sekitar 150 kilogram.
Baca Juga : DPR RI Setujui RUU Reforma Agraria Jadi Inisiatif Dewan, KPA: Harus Benar-Benar Berpihak pada Petani
Tak hanya bawang merah, siswa juga membudidayakan melon di greenhouse. Di SMK Negeri 1 Kademangan, melon yang dihasilkan memiliki tingkat kemanisan hingga 15 °Brix. Hasil serupa juga dicapai SMK Negeri 8 Jember dan SMK Muhammadiyah 5 Gresik, dengan bobot melon 1,2 hingga 2 kilogram dan tingkat kemanisan minimal 15 °Brix.
Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, mengatakan capaian tersebut menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi pintu masuk untuk menarik generasi muda ke sektor pertanian.
"Melalui School Lab Farming, kami ingin menunjukkan kepada generasi muda bahwa pertanian saat ini sudah berkembang jauh. Dengan dukungan teknologi smart farming dan pengelolaan lahan sekolah sebagai teaching factory yang produktif, siswa tidak hanya belajar bercocok tanam, tetapi juga memahami bagaimana pertanian dapat dikelola secara modern dan memiliki prospek usaha yang menjanjikan," ujar Daconi.
Dalam program tersebut, siswa tidak sekadar menjadi peserta praktik. Mereka terlibat dalam seluruh siklus produksi, mulai dari perencanaan, budidaya, pemupukan, pencatatan perkembangan tanaman, hingga panen.
Pendekatan pertanian presisi membuat setiap proses dilakukan berdasarkan data. Siswa mencatat kondisi tanaman, media tanam, kebutuhan dan dosis pemupukan, serta hasil produksi menggunakan matriks yang terstandar.
"Ketika siswa melihat sendiri bahwa lahan yang mereka kelola mampu menghasilkan produk berkualitas dan memiliki nilai jual, mereka mendapatkan perspektif baru tentang pertanian. Bukan hanya sebagai aktivitas budidaya, tetapi sebagai bidang usaha yang membutuhkan teknologi, kemampuan analisis, dan pengelolaan bisnis," tandasnya.
Baca Juga : Target PAD Naik Jadi Rp 365 Miliar, Digitalisasi dan Retribusi Parkir Disorot hingga Sasar Optimalisasi Aset
Selain bawang merah dan melon, siswa juga mengembangkan buncis dan kembang kol sebagai bagian dari diversifikasi komoditas dan rotasi tanam.
Program School Lab Farming merupakan bagian dari TJSL Petrokimia Gresik dengan pendekatan Creating Shared Value (CSV). Program ini juga menjadi tindak lanjut HARVESTION 2025 yang sebelumnya melibatkan 33 SMK pertanian dari 15 kabupaten/kota di Jawa Timur.
Kepala SMK Negeri 1 Kademangan, Hadi Sucipto, menilai pendekatan tersebut membuat pembelajaran pertanian lebih menarik bagi siswa.
"Program ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dan mempraktikkan langsung pertanian modern. Harapannya, semakin banyak generasi muda yang tertarik mengembangkan sektor pertanian," ujar Hadi.
