Kalimantan Kebakaran Hutan: Dokter Ungkap Bahaya Asap hingga Cara Lindungi Diri
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Dede Nana
20 - Aug - 2026, 05:02
JATIMTIMES - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan membuat kualitas udara memburuk. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan mata perih atau jarak pandang terganggu, tetapi juga berisiko terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
Dokter umum sekaligus Certified Health Coach, dr. Dion Haryadi, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai paparan asap karhutla. Menurutnya, asap kebakaran membawa partikel sangat halus yang bisa masuk jauh ke dalam tubuh.
Baca Juga : Malaysia Terdampak Asap Karhutla Indonesia, Sekolah di 6 Wilayah Sarawak Ditutup
Dokter Dion mengatakan masyarakat di Kalimantan tentu sudah merasakan langsung dampak asap karhutla. Namun, dia mengingatkan bahaya asap tidak sebatas membuat mata terasa perih.
"Asapnya itu bukan cuma perih di mata dan bikin susah liat. Tapi juga mengandung partikel halus yang kecil banget yang bisa masuk ke paru-paru dan juga pembuluh darah," kata dr. Dion dalam unggahan Instagram pribadinya, Kamis (20/8/2026).
Menurut dr. Dion, masuknya partikel halus dari asap ke saluran pernapasan dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Salah satunya adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
"Makanya sudah pasti akan mulai muncul gejala ISPA kayak batuk-batuk, sesak, tenggorokan gatal," tuturnya.
Dia juga mengingatkan partikel halus dari asap dapat masuk ke pembuluh darah. Kondisi tersebut membuat organ tubuh bekerja lebih berat dari biasanya.
"Dan partikel-partikel ini bahayanya itu bisa masuk ke pembuluh darah juga dan bikin organ tubuh kita itu kerja lebih berat dari biasanya," jelas dr. Dion.
Karena itu, masyarakat yang termasuk kelompok rentan diminta lebih berhati-hati. Mereka antara lain anak-anak, ibu hamil, lansia serta orang yang memiliki penyakit pernapasan dan jantung.
"Ini terutama penting buat anak-anak, ibu hamil, lansia, lalu orang-orang yang punya penyakit pernapasan dan jantung harus ekstra hati-hati karena mereka yang paling rentan," katanya.
Dokter Dion mengatakan langkah paling efektif untuk mengatasi dampak asap karhutla sebenarnya adalah mengatasi sumber kebakarannya. Namun, masyarakat tetap dapat melakukan sejumlah langkah untuk mengurangi paparan asap selama kondisi belum membaik.
"Solusinya apa? Jujur gak banyak. Memang sumber kebakarannya yang harus diatasi," ujarnya.
Untuk sementara, dia menyarankan masyarakat di kawasan karhutla, khususnya Kalimantan agar lebih banyak beraktivitas di dalam rumah dan keluar hanya jika memang diperlukan. "Jadi yang sementara bisa kamu lakukan ya tetap stay di rumah. Keluar hanya jika perlu," kata dr. Dion.
Masyarakat juga diminta menutup jendela rumah dengan rapat. Debu dan partikel yang masuk ke dalam rumah perlu dibersihkan agar tidak kembali beterbangan.
"Tutup jendela rapat, bersihkan rumah dari debu, dipel biar debunya itu nggak berterbangan," tutur dr. Dion.
Jika harus keluar rumah, dr. Dion menyarankan masyarakat menggunakan masker. Bila tersedia, masker KN95 dapat menjadi pilihan untuk membantu menyaring partikel halus.
"Terus kalau terpaksa harus keluar rumah, pakai masker. Kalau memungkinkan kamu punya aksesnya, boleh pakai masker KN95," ujarnya.
Dia menilai penggunaan masker tersebut semakin penting bagi kelompok masyarakat yang rentan terhadap dampak asap. "Akan lebih bagus, terutama untuk kelompok yang lebih rentan yang saya bilang tadi. Karena masker KN95 itu bisa memfilter partikel-partikel halus tadi," lanjutnya.
Selain mengurangi paparan asap, dr. Dion juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh selama kualitas udara buruk.
"Banyak minum air, jaga hidrasinya, jaga imun tubuhmu, makannya yang benar. Protein, sayuran, bantu dengan vitamin mineralnya, jaga tubuhmu," katanya.
Menurutnya, menjaga kondisi tubuh tetap fit penting selama masyarakat menghadapi paparan asap. "Bikin tubuhnya itu kuat untuk melawan asap ini," imbuhnya.
Bagi masyarakat yang rutin berolahraga di luar ruangan, dr. Dion menyarankan aktivitas tersebut untuk sementara dihentikan sampai kondisi udara kembali membaik.
"Buat teman-teman yang rutin olahraga di outdoor, untuk sementara waktu saya sarankan untuk enggak dulu. Karena lebih banyak ruginya daripada manfaatnya," ujarnya.
Dokter Dion berharap kondisi karhutla dan kualitas udara di Indonesia segera membaik sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas seperti biasa.
"Semoga bermanfaat. Dan semoga segera kembali pulih Indonesia. Indonesia lagi enggak baik-baik aja. Semoga cepat pulih kembali," pungkas dr. Dion.
