Usai Yudisium, Dekan FBS Unikama Ingatkan 58 Lulusan tentang Konsekuensi Status Baru

18 - Aug - 2026, 08:05

Yudisium Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 FBS Unikama (ist)

JATIMTIMES - Menyandang gelar sarjana setelah yudisium bukan berarti perjalanan akademik mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) selesai. Justru setelah berstatus sebagai lulusan, muncul konsekuensi baru yang menuntut mereka terus belajar, beradaptasi dan mampu mempertanggungjawabkan kompetensi di tengah perubahan dunia kerja, termasuk derasnya perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Pesan itu disampaikan Dekan FBS Unikama, Rusfandi, S.Pd., MA., Ph.D., dalam Yudisium Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 di Ruang Abdoel Rajab, Selasa (18/8/2026). Sebanyak 58 mahasiswa dari tiga program studi resmi dikukuhkan sebagai lulusan.

1

Mereka terdiri atas 30 lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, 15 lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, serta 13 lulusan Program Studi Sastra Inggris.

Baca Juga : Kemerdekaan Menurut Kepala MTsN 2 Kota Malang: Bukan Sekadar Bebas, tetapi Mampu Membangun Bangsa

Menurut Rusfandi, yudisium merupakan momentum penting karena menjadi penetapan resmi kelulusan mahasiswa. Namun, pengukuhan tersebut tidak semestinya dipahami sebagai garis akhir pendidikan.

“Yudisium tentunya Saudara-Saudari pahami adalah momen sangat penting karena merupakan penetapan resmi kelulusan,” ujar Rusfandi.

Ia menjelaskan, setelah pengukuhan tersebut para peserta sudah memiliki hak menyandang gelar akademik masing-masing. Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia serta Pendidikan Bahasa Inggris berhak menyandang gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.), sementara lulusan Sastra Inggris menyandang gelar Sarjana Sastra (S.S.).

“Setelah acara pengukuhan ini, Anda sudah berhak menyandang gelar Sarjana Pendidikan bagi lulusan Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, serta Sarjana Sastra untuk lulusan Prodi Sastra Inggris,” jelasnya.

2

Namun, menurut Rusfandi, perubahan status dari mahasiswa menjadi lulusan membawa konsekuensi yang lebih besar. Gelar bukan sekadar identitas akademik, melainkan modal yang harus terus dikembangkan agar memiliki relevansi dengan kebutuhan dunia kerja dan masyarakat.

Karena itu, ia meminta lulusan tidak berhenti belajar setelah memperoleh gelar. Dunia kerja, menurutnya, terus berubah dan tidak lagi hanya membutuhkan penguasaan satu disiplin ilmu. Kemampuan teknis perlu berjalan bersama kemampuan komunikasi, kolaborasi, kreativitas, kemampuan berpikir kritis serta kemampuan beradaptasi.

“Jangan melawan arus perubahan, karena perubahan adalah sebuah keniscayaan. Teruslah belajar, sehingga dengan itu Anda bisa terus mengembangkan kompetensi dan daya tawar Anda di dunia kerja,” tuturnya.

Pesan tersebut juga diarahkan pada perkembangan AI yang semakin memengaruhi berbagai bidang pekerjaan. Rusfandi meminta para lulusan tidak menempatkan teknologi sebagai sesuatu yang harus ditakuti, tetapi juga tidak menjadikannya sebagai pengganti kemampuan manusia.

“Jangan menempatkan AI sebagai tuan atau majikan, dan Anda bergantung dan bahkan menjadi budaknya,” pesannya.

Menurutnya, AI dapat membantu manusia memproses data, mengenali pola dan menghasilkan informasi. Tetapi manusia tetap harus mengambil posisi sebagai pihak yang memahami konteks, memberi makna, mempertimbangkan perasaan, nilai, budaya dan dampak sosial dari keputusan yang dibuat.

“Manusia tetap memiliki peran yang tidak bisa digantikan oleh AI,” tegasnya.

3

Rusfandi juga menyampaikan apresiasi kepada dosen dan tenaga kependidikan yang telah mendampingi mahasiswa selama masa studi. Pengetahuan, pengalaman, bimbingan akademik dan nilai-nilai moral yang diberikan selama berada di kampus diharapkan menjadi bekal ketika para lulusan memasuki lingkungan profesional dan masyarakat.

Ia juga meminta para lulusan tetap menjaga hubungan dengan almamater. Setelah menjadi alumni, komunikasi dengan program studi dan fakultas tetap penting, termasuk melalui gagasan maupun kontribusi yang dapat mendukung perkembangan FBS Unikama.

Pesan Dekan tersebut menemukan konteksnya dalam orasi ilmiah yang disampaikan Dosen FBS Unikama, Riswanda Himawan, M.Pd. Ia mengangkat tema Sarjana di Era AI: Antara Kecerdasan Teknologi dan Kebijaksanaan Manusia.

Riswanda melihat AI sebagai kekuatan transformatif yang sudah masuk ke dunia pendidikan, termasuk pembelajaran bahasa dan sastra. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari membaca, menulis, menyimak dan berbicara hingga analisis data serta penciptaan karya sastra.

Baca Juga : DPRD Jatim Tetapkan Dua Raperda Inisiatif: Soal Obat Bahan Alam dan Transportasi Online

Namun, pemanfaatan AI tidak cukup hanya dengan kemampuan teknis. Menurut Riswanda, literasi digital harus berjalan bersama kesadaran etis agar teknologi tidak menghilangkan proses berpikir dan tanggung jawab manusia.

Ia menekankan lima kompetensi yang perlu menjadi bekal sarjana menghadapi era AI, yakni critical thinking, creativity, communication, collaboration, serta character and wisdom.

Kelima kompetensi itu menjadi penting karena AI dapat menghasilkan informasi dengan cepat, tetapi manusia tetap harus menentukan apakah informasi tersebut benar, relevan, bermakna dan layak digunakan. Di sinilah kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi serta karakter dan kebijaksanaan menjadi pembeda.

Sementara itu, bagi mahasiswa yang baru saja menyelesaikan perjalanan akademiknya, perubahan status tersebut memiliki makna personal. Perwakilan mahasiswa angkatan 2022 dari Program Studi Sastra Inggris, Linda Antika, menggambarkan perjalanan menuju yudisium sebagai proses yang penuh dinamika.

“Hari ini, bertahun-tahun kemudian, kami berdiri di ruangan ini bukan lagi sebagai mahasiswa baru yang gamang, melainkan sebagai lulusan yang telah menyelesaikan perjuangan panjang itu,” ungkap Linda.

Ia mengenang masa perkuliahan yang diwarnai keraguan, tugas, revisi, kegagalan, persahabatan dan berbagai pengalaman. Semua proses tersebut, menurutnya, bukan hanya membentuk kemampuan akademik, tetapi juga karakter.

Linda menyampaikan terima kasih kepada Unikama, FBS, program studi, dosen, tenaga kependidikan dan orang tua yang telah mendukung perjalanan pendidikan para mahasiswa hingga mencapai tahap kelulusan.

Menurutnya, pendidikan di FBS memberikan lebih dari sekadar pengetahuan. Para mahasiswa mendapatkan pengalaman untuk berpikir kritis, berkomunikasi, menghargai bahasa dan sastra serta memahami kehidupan secara lebih luas.

Karena itu, Linda mengajak para lulusan tidak berhenti pada pencapaian gelar, tetapi membawa nilai dan pengalaman selama berada di kampus ke tengah masyarakat sekaligus menjaga nama baik almamater.

Dalam yudisium tersebut, FBS Unikama juga memberikan penghargaan kepada lulusan terbaik dari masing-masing program studi. Zacky Husein menjadi lulusan terbaik Pendidikan Bahasa Inggris dengan IPK 3,95. Muhamad Liga Sugiri menjadi lulusan terbaik Sastra Inggris dengan IPK 3,77, sedangkan Yassi Afrita Nur Aini menjadi lulusan terbaik Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan IPK 3,75.

Capaian tersebut menjadi bagian dari rekam akademik para lulusan sebelum memasuki fase berikutnya. Setelah yudisium, tantangannya bukan lagi sekadar menyelesaikan kewajiban akademik, tetapi membuktikan kompetensi melalui karya, profesi dan kontribusi sosial.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting, ketika lulusan memasuki dunia yang berubah cepat akibat perkembangan teknologi. Gelar akademik menjadi pintu masuk, sementara kemampuan untuk terus belajar menjadi bekal agar lulusan tidak kehilangan relevansi.

Rusfandi kembali menekankan pentingnya pembelajaran sepanjang hayat sebagai prinsip yang harus dibawa setelah meninggalkan kampus.

“Jangan pernah berhenti belajar, karena kehidupan tak pernah berhenti memberi pelajaran,” pungkasnya.