Cuma Sebentar, Ini Waktu Mustajab Hari Jumat yang Jangan Sampai Terlewat
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
A Yahya
14 - Aug - 2026, 07:39
JATIMTIMES - Hari Jumat memiliki keistimewaan tersendiri bagi umat Islam. Selain disebut sebagai hari raya pekanan, terdapat satu waktu yang disebut dalam hadis sebagai momen istimewa untuk memanjatkan doa.
Waktu tersebut berlangsung sangat singkat. Rasulullah SAW bahkan memberikan isyarat dengan tangannya untuk menggambarkan betapa singkatnya waktu tersebut. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa dan ibadah pada hari Jumat.
Baca Juga : Kalender Jawa Weton Jumat Pon 14 Agustus 2026: Rezeki Melimpah
Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَقَالَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا يُزَرِّدُهَا
Artinya: "Di dalam hari Jumat ada suatu saat yang apabila tepat pada saat itu seorang muslim berdiri melakukan salat lalu memohon kebaikan kepada Allah, pasti akan diberikan padanya."
Beliau memberi isyarat dengan jari tangannya bahwa saat tersebut sangat singkat. (HR Muslim dalam Kitab Salat Jumat, dinukil Imam an-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin).
Pensyarah Riyadhus Shalihin, Musthafa Dib al-Bugha, menjelaskan bahwa waktu yang dimaksud dalam hadis tersebut berlangsung sangat singkat.
Para ulama berbeda pendapat mengenai kapan tepatnya waktu mustajab pada hari Jumat. Salah satu pendapat menyebut waktu tersebut berada ketika imam duduk hingga salat Jumat selesai.
Pendapat ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Burdah bin Abu Musa al-Asy'ari. Dalam hadis tersebut, Abdullah bin Umar RA bertanya kepada Abu Burdah mengenai waktu mustajab pada hari Jumat.
Abu Burdah kemudian menyampaikan sabda Rasulullah SAW:
هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ
Artinya: "Waktu tersebut adalah antara duduknya imam hingga selesai salat." (HR Muslim dalam Kitab Salat Jumat).
Dengan demikian, salah satu waktu yang disebut dalam hadis adalah rentang pelaksanaan salat Jumat, sejak imam duduk hingga salat selesai.
Namun, ada pula pendapat lain yang dinilai kuat oleh sebagian ulama, yakni waktu tersebut berada menjelang Magrib pada hari Jumat.
Raghib As-Sirjani dalam Ihya 345 Sunnah Nabawiyah, Wasa'il wa Thuruq wa Amaliyah menyebut riwayat yang menunjukkan waktu mustajab tersebut berada antara salat Ashar dan Magrib.
Dalam riwayat yang disampaikan Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW menjelaskan keutamaan hari Jumat. Pada hari tersebut terdapat suatu waktu yang apabila seorang Muslim berdoa, Allah akan mengabulkan doanya.
Baca Juga : Rabiul Awal 2026 Dimulai Malam Ini, Ternyata Ini 4 Amalan yang Dianjurkan
Abu Hurairah RA kemudian bertemu Abdullah bin Salam RA dan membicarakan hadis tersebut. Abdullah bin Salam mengatakan bahwa dirinya mengetahui waktu yang dimaksud, yakni antara Ashar dan Magrib.
Abu Hurairah kemudian mempertanyakan bagaimana waktu tersebut bisa menjadi waktu mustajab jika hadis menyebut seorang Muslim sedang dalam keadaan salat, sedangkan setelah Ashar terdapat waktu ketika salat tidak dianjurkan.
Abdullah bin Salam menjelaskan bahwa orang yang duduk menunggu salat memiliki kedudukan seperti orang yang sedang salat. Riwayat tersebut dicantumkan Imam At-Tirmidzi dalam Abwab Al-Jumuah dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih dan Dhaif Sunan At-Tirmidzi.
Karena adanya sejumlah riwayat tersebut, para ulama kemudian berbeda pendapat mengenai waktu paling tepat dari sa'ah atau waktu mustajab pada hari Jumat.
Pendapat yang menyebut antara Ashar dan Magrib termasuk pendapat yang dianggap kuat. Karena itu, umat Islam dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk memperbanyak doa, terutama menjelang Magrib.
Dalam Syu'abul Iman dan Nurul Lum'ah terdapat bacaan doa yang dapat dipanjatkan setelah salat Ashar pada hari Jumat.
Berikut doanya:
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ خَلَقْتَنِي ، وَأَنَا عَبْدُكَ وَابْنُ أَمَتِكَ ، وَفِي قَبْضَتِكَ ، وَناصِيَتِي بِيَدِكَ ، أَمْسَيْتُ عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ بِنِعْمَتِكَ ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي ، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي إِنَّهُ لا يَغْفِرُ الذُّنُوبُ إِلا أَنْتَ
Latin:
Allahumma Anta Rabbi laa ilaaha illa Anta khalaqtani, wa ana abduka wabnu amatika wafi qabdhotika wa nasiyati bi yadika. Amsaitu ala ahdika wa wa'dika mastatho'tu a'udzu bika min syarri ma shona'tu. Abu'u bi ni'matika wa abu'u bidzanbi faghfirly dzunubi. Innahu la yaghfirudz dzunuba illa Anta.
Artinya:
"Ya Allah, Engkau Tuhanku, tidak ada tuhan yang aku sembah kecuali Engkau yang telah menciptakanku. Menciptakanku sebagai hamba-Mu dan anak dari hamba sahaya-Mu. Hidupku ada dalam genggaman-Mu. Aku hidup atas janji dan ancaman-Mu. Selama aku bisa, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang telah aku perbuat. Aku telah menyia-nyiakan nikmat-Mu. Dan aku berbuat dosa. Maka ampunilah dosaku. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau."
Dengan adanya perbedaan pendapat mengenai waktu tersebut, umat Islam tidak perlu membatasi doa hanya pada satu waktu. Hari Jumat dapat diisi dengan memperbanyak doa, membaca Al-Qur'an, berselawat, serta berbagai amal saleh lainnya. Semoga informasi ini bermanfaat.
