Pengangguran di Jatim Turun 3,42 Persen, Angkatan Kerja Tembus 25,32 Juta Orang
Reporter
Irsya Richa
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
06 - Aug - 2026, 03:54
JATIMTIMES - Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim mencatat kondisi ketenagakerjaan di provinsi ini menunjukkan perbaikan pada Mei 2026. Jumlah angkatan kerja meningkat menjadi 25,32 juta orang, sementara tingkat pengangguran terbuka (TPT) turun menjadi 3,42 persen dibandingkan Februari 2026.
Pasar kerja di Jatim menunjukkan tren positif pada Mei 2026 seiring bertambahnya jumlah penduduk yang bekerja dan menurunnya angka pengangguran. Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), jumlah angkatan kerja mencapai 25,32 juta orang atau bertambah 179,21 ribu orang dibandingkan Februari 2026.
Baca Juga : Apply Kartu Kredit Online Kini Semakin Mudah, Approval Bisa Hanya 5 Menit
Penduduk yang berhasil memperoleh pekerjaan juga mengalami peningkatan menjadi 24,46 juta orang atau naik 205,53 ribu orang. Sementara itu, jumlah pengangguran berkurang sebanyak 26,32 ribu orang sehingga tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 3,42 persen.
Plt Kepala BPS Provinsi Jawa Timur, Herum Fajarwati, mengatakan bertambahnya jumlah penduduk yang bekerja menunjukkan penyerapan tenaga kerja masih terus berlangsung di berbagai sektor ekonomi.
“Jumlah penduduk bekerja meningkat menjadi 24,46 juta orang, sementara tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 3,42 persen. Kondisi ini menunjukkan pasar kerja di Jawa Timur bergerak ke arah yang lebih baik dibandingkan Februari 2026,” kata Herum.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Jawa Timur dengan 7,77 juta pekerja atau sekitar 31,77 persen dari total penduduk bekerja. Posisi berikutnya ditempati sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 18,63 persen serta industri pengolahan sebesar 14,64 persen.
Jika dibandingkan awal tahun, industri pengolahan menjadi sektor dengan penambahan tenaga kerja paling besar, disusul penyediaan akomodasi dan makan minum serta sektor pertanian. Ketiga lapangan usaha tersebut menjadi motor utama peningkatan kesempatan kerja selama periode Februari hingga Mei 2026.
Di sisi lain, kualitas ketenagakerjaan juga menunjukkan perbaikan. Persentase pekerja di sektor formal meningkat menjadi 36,18 persen, sedangkan pekerja informal masih mendominasi dengan porsi 63,82 persen.
“Proporsi pekerja formal mengalami kenaikan dibandingkan periode sebelumnya. Ini menjadi salah satu indikator membaiknya struktur ketenagakerjaan di Jawa Timur,” imbuhnya.
Baca Juga : Kemarau Panjang Melanda Jatim, 19 Kabupaten/Kota Tetapkan Status Darurat Kekeringan
BPS juga mencatat Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) naik menjadi 75,14 persen. Artinya, semakin banyak penduduk usia kerja yang aktif bekerja atau mencari pekerjaan dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
Meski demikian, tantangan masih terlihat dari sisi pendidikan. Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi, yakni mencapai 5,79 persen, diikuti lulusan diploma dan universitas sebesar 4,75 persen.
“Tingkat pengangguran tertinggi masih berasal dari lulusan SMK. Data ini menjadi masukan bagi seluruh pemangku kepentingan agar kompetensi lulusan lebih selaras dengan kebutuhan dunia kerja,” tambah Herum.
Selain itu, tingkat pengangguran di kawasan perkotaan tercatat sebesar 3,77 persen atau lebih tinggi dibandingkan wilayah perdesaan yang mencapai 2,85 persen. BPS menilai kondisi tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu menjadi perhatian dalam penyusunan kebijakan ketenagakerjaan di tingkat daerah.
