Arab Saudi Bersiap Gelap Gulita, Gerhana Matahari Total Terlama Abad ke-21 Bakal Lintasi Mekah

04 - Aug - 2026, 03:31

Ilustrasi gerhana matahari total. (Foto: Shutterstock)

JATIMTIMES - Arab Saudi diprediksi menjadi salah satu lokasi paling istimewa untuk menyaksikan Gerhana Matahari Total (GMT) pada 2 Agustus 2027. Fenomena langka ini disebut-sebut sebagai gerhana matahari total terlama yang melintasi daratan sepanjang abad ke-21 dan akan membuat langit siang berubah gelap selama beberapa menit.

Kawasan barat Arab Saudi, terutama Kota Mekah, berada di jalur totalitas gerhana. Saat puncak fenomena, Bulan akan menutupi seluruh piringan Matahari sehingga suasana siang mendadak berubah menyerupai malam.

Baca Juga : Trump Beri Peringatan Terakhir ke Iran, Ancam Serangan Lebih Besar Jika Gagal Sepakat

Berdasarkan perhitungan astronomi, totalitas gerhana di Mekah diperkirakan berlangsung sekitar lima menit. Dalam rentang waktu singkat itu, langit akan menggelap dan pengamat berkesempatan melihat korona Matahari hingga sejumlah bintang dan planet yang biasanya hanya tampak pada malam hari.

Mengutip Arabia Weather, Mekah menjadi salah satu lokasi terbaik untuk menikmati fenomena tersebut karena berada tepat di jalur gerhana total. Selain Arab Saudi, lintasan gerhana juga melewati Spanyol bagian selatan, Maroko, hingga Mesir.

Beberapa kota yang masuk dalam jalur totalitas antara lain Cadiz dan Malaga di Spanyol, Tangier di Maroko, Mekah dan Jeddah di Arab Saudi, serta Luxor di Mesir.

Dari seluruh lokasi itu, kawasan sekitar Luxor diperkirakan menjadi titik dengan durasi gerhana paling lama. Wilayah sekitar 60 kilometer di tenggara kota tersebut diprediksi mengalami totalitas hingga 6 menit 23 detik.

Durasi itu jauh lebih panjang dibanding Gerhana Matahari Total pada 2026 yang berlangsung sekitar 2 menit 18 detik, maupun gerhana yang melintasi Amerika Utara pada April 2024 dengan durasi sekitar 4 menit 28 detik.

Mengapa Gerhana Ini Sangat Langka?

Para astronom menjelaskan, secara teori gerhana matahari total paling lama yang mungkin terjadi di Bumi dapat mencapai sekitar tujuh setengah menit. Kondisi tersebut hanya dapat terjadi apabila Matahari berada di titik apogee, Bulan berada di titik perigee, dan jalur gerhana melintasi wilayah ekuator.

Kombinasi tersebut sangat jarang terjadi secara bersamaan. Namun, Gerhana Matahari Total pada Agustus 2027 dinilai mendekati kondisi ideal tersebut sehingga menghasilkan durasi totalitas yang jauh lebih lama dibanding kebanyakan gerhana lainnya.

Ilmuwan program gerhana di Markas Besar NASA, Kelly Korreck, mengatakan fenomena seperti ini menjadi salah satu keunikan yang hanya dimiliki Bumi.

"Sejauh ini, Bumi adalah satu-satunya planet yang kita ketahui mengalami jenis gerhana matahari seperti ini," kata Kelly Korreck, dikutip dari Euronews, Selasa (4/8/2026).

Ia menjelaskan, satelit alami di planet lain memang dapat melintas di depan Matahari. Namun ukuran Bulan dan jaraknya dari Bumi menciptakan fenomena gerhana total yang sangat istimewa.

"Ada bulan-bulan lain yang melintas di depan Matahari, namun memiliki Bulan dengan ukuran dan jarak yang sempurna untuk menyaksikan ini sungguh istimewa," tambahnya.

Baca Juga : Bromo Kebakaran, Akses Wisata dari Malang dan Lumajang Ditutup

Siang Berubah Gelap, Suhu Turun hingga 10 Derajat

Fenomena Gerhana Matahari Total tidak hanya menghadirkan langit yang mendadak gelap. Saat fase totalitas berlangsung, suhu udara di sekitar lokasi pengamatan juga dapat turun hingga sekitar 10 derajat Celsius.

Pada momen itu, lapisan terluar atmosfer Matahari atau korona akan tampak jelas sebagai cahaya putih yang memancar mengelilingi Matahari. Beberapa bintang terang dan planet juga berpeluang terlihat karena langit berubah gelap meski masih siang hari.

Menurut Korreck, pengalaman menyaksikan gerhana total sering kali memunculkan perasaan takjub sekaligus emosional.

"Otak manusia cenderung menafsirkan gerhana sebagai sesuatu yang aneh, dan mungkin muncul rasa cemas karena langit menjadi gelap dengan cara yang tidak biasa kita alami," ujarnya.

"Namun begitu kamu benar-benar melihat totalitas dan menyaksikan bagian luar Matahari yang indah itu, rasanya menakjubkan. Sebanyak apa pun kamu melihatnya, kamu selalu ingin melihatnya lagi," lanjutnya.

Jangan Mengamati Tanpa Pelindung Mata

Meski menjadi fenomena yang dinanti banyak orang, para ahli mengingatkan agar masyarakat tidak menatap Matahari secara langsung selama proses gerhana.

Pengamatan hanya aman dilakukan menggunakan kacamata gerhana yang telah memenuhi standar internasional ISO 12312-2. Kacamata khusus tersebut memiliki tingkat perlindungan jauh lebih tinggi dibanding kacamata hitam biasa sehingga mampu melindungi mata dari paparan sinar Matahari.

Penggunaan pelindung mata tetap diwajibkan selama seluruh fase gerhana, kecuali ketika Matahari benar-benar tertutup sepenuhnya atau memasuki fase totalitas.