Bertajuk Waringin Sasmita, Para Seniman Merawat Alam dan Gerakan Swadaya Lewat Seni Budaya

01 - Aug - 2026, 09:24

Para seniman saat memperagakan pertunjukan.(eko arif s)

JATIMTIMES - Di bawah panggung sederhana udara malam yang dingin berhembus ditemani temaram api obor, para seniman dari berbagai komunitas berkumpul. Namun, suasana hangat justru terpancar saat para seniman menampilkan kreasi pertunjukannya 

Tidak ada baliho sponsor yang megah, tak ada umbul-umbul dari instansi pemerintah. Yang ada hanya ketulusan, kesadaran hati, dan semangat gotong royong untuk menyuarakan satu pesan penting yaitu "jaga alam kita".

Baca Juga : MPM Honda Jatim Perkuat Pengelolaan Sampah Berkelanjutan Melalui TEBA Modern

Adalah Ipung Rimba Raya seorang seniman asal Kediri sekaligus kakak dari pemusik Nurbayan, yang berada di balik layar pergerakan ini. Bersama sahabatnya, Mas Robert, ia menggagas sebuah pertunjukan edukasi seni dan budaya bertajuk "Waringin Sasmita". Sebuah panggung yang tidak sekadar menyajikan tontonan hiburan, tetapi juga refleksi mendalam atas kondisi lingkungan saat ini.

Bagi Ipung Rimba Raya dan teman-teman senimannya, seni adalah media berbisik sekaligus berteriak. Keprihatinan mereka terhadap lunturnya pemahaman masyarakat akan keseimbangan alam menjadi pemantik utama pergerakan ini.

"Banyak orang yang kurang paham betapa luar biasanya manfaat pohon, seperti beringi daunnya meneduhkan, batangnya kuat, dan akarnya menjulang ke bawah menjadi penahan serta resapan air yang sangat vital," terang Pung Rimba Raya dengan nada penuh kesungguhan Jumat (31/7/26) malam.

Melalui pendekatan seni, edukasi, dan budaya, ia ingin mengajak masyarakat desa maupun kota untuk kembali "bekerja sama" dengan alam. Prinsipnya sederhana biarkan alam bekerja sebagaimana mestinya, dan tugas manusia di atasnya hanyalah merawat serta menjaganya.

Di tengah maraknya gelaran acara bermodal besar, pertunjukan ini justru membuktikan bahwa kepedulian tak bisa diukur dengan rupiah. Dari konsep awal hingga eksekusi, semuanya dimatangkan hanya dalam waktu satu minggu 

Tidak ada seniman yang dibayar lebih dari 12 hingga 15 komunitas baik dari lokal Kediri, Nganjuk, hingga Solo datang dengan suka rela melalui tradisi anjang sana (saling mengunjungi dan mendukung)

Keunikan lain terlihat pada tata panggungnya. Tanpa bahan serba baru, instalasi panggung memanfaatkan limbah dan barang-barang bekas yang ada di sekitar, seperti kurungan ayam yang diolah menjadi karya seni instalasi yang artistik. Sementara peralatan pencahayaan dan tata suara ditopang sendiri oleh Pongrimbaraya dari koleksi pribadinya.

Baca Juga : PWI Situbondo Kuatkan Kemitraan dengan Polres Situbondo

"Kami tidak nge-prank teman-teman. Dari awal saya sampaikan apa adanya: ini acara nol sponsor. Tapi antusiasme mereka justru luar biasa karena kita bergerak dari kesadaran hati yang sama," ungkap Ipunng Rimba Raya.

Pergerakan ini juga bukan semata-mata milik para seniman senior. Ipung Rimba Raya secara khusus melibatkan pemuda dan Karang Taruna di sekitar tempat tinggalnya. Bagi dia, mengajak anak-anak muda terlibat dalam proses kreatif-mulai dari memeras gagasan hingga merakit instalasi adalah cara terbaik untuk menanamkan benih berorganisasi yang sehat dan terarah.

Melihat antusiasme penonton yang membludak di pentas pertamanya ini, Ipung Rimba Raya menegaskan bahwa Selomangleng hanyalah langkah awal dari bagian kulon Kediri. Waringin Sasmita dirancang sebagai panggung edukasi yang fleksibel dan berkelanjutan.

Ke depan, "panggung bernyawa" ini siap berpindah dari satu daerah ke daerah lain, menyebarkan virus kepedulian lingkungan dan kebudayaan tanpa sekat. Sebuah bukti nyata bahwa pesan perubahan tidak selalu harus lahir dari gedung mewah, melainkan dari ketulusan hati para penjaga budaya di bawah naungan pohon rindang.